Showing posts with label Cerpenku. Show all posts
Showing posts with label Cerpenku. Show all posts

28 November 2014

Ragil

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



Jakarta, 12 Mei 1991...

Seorang wanita tengah berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengumpulkan energinya. Tetesan-tetesan peluh mulai membasahi raut wajahnya. Sendu. Suasana yang begitu mencekam antara hidup dan mati. Seorang laki-laki menemui seorang dokter yang dianggapnya terpercaya. Gemetar mendengar setiap kata-kata dari seorang dokter sekalipun.

“Berdo’alah, Pak. Supaya istri dan anak bapak keduanya bisa selamat. Operasi sesar ini memang beresiko besar, apalagi mengetahui keadaan istri bapak yang ternyata plasenta telah menutup jalan kelahiran sang bayi dan sudah mengalami pendarahan hebat. Kemungkinan dari operasi ini salah satu yang selamat.” Kata Pak dokter dengan raut wajah sedikit gundah.

“Tolonglah, dok. Agar keduanya diselamatkan.” Laki-laki itu memohon dengan penuh harap.

“Saya akan berusaha, Pak.” Kata Dokter sambil meninggalkan laki-laki itu sendirian. Tidak ia tidak sendirian di rumah sakit ini. Ada dua anak laki-lakinya yang terduduk lesu. Melihat sang Ibu masuk ruang operasi membuat kedua anak laki-laki itu murung. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Belum memahami arti kehidupan, namun memahami perasaan yang dirasakan kedua orangtuanya saat ini.

Mereka bertiga menunggu dengan penuh harap yang sukacita. Memohon agar Tuhan membantu proses persalinannya. Memohon agar keduanya dapat diselamatkan, tidak ada salah satu yang diambil-Nya. Laki-laki itu selalu melantunkan do’a dalam hati, dan berusaha kuat setiap kedua anak laki-laki itu bertanya mengenai keadaan sang Ibu.

Bayi seperti apa sebenarnya yang membuat keadaan begitu mencekam bahkan membuat keluarga yang menunggu begitu resahnya. Keinginan laki-laki itu mempunyai anak begitu kuat sejak saat itu ia menderita sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit selama berhari-hari. Dan bermimpi jika ingin mempunyai anak perempuan, harus memiliki anak lagi. Laki-laki itu bertambah yakin, mengingat tentang mimpinya dulu. Meyakinkan hati semua akan baik-baik saja dan berjalan lancar.

Setelah menunggu beberapa jam, yang membuat hati semakin tak karuan. Seorang dokter pun akhirnya keluar dengan wajah berbinar-binar. Laki-laki itu segera mendekat dan menanyakan perihal keadaan istrinya.

“Bagaimana, dok keadaan istri dan anak saya?”

“Alhamdulilah, Pak. Berkat do’a bapak keduanya selamat.”

“Alhamdulilah.”

***
Bayi yang terlahir sebagai perempuan itu kini sudah beranjak dewasa. Angka 23 sudah menjadi angka usianya di tahun 2014 ini. Perempuan itu bernama Putri, si ragil dari tiga bersaudara. Anak yang masih sering menyusahkan Ibu, yang masih bersikap keras kepala, dan belum mampu membuat Ibu bahagia. Maafkan, anakmu jika hingga kini masih belum mampu membuat Ibu bahagia atas anakmu ini. Kelak aku ingin Ibu dan juga bapak bahagia memiliki anak sepertiku ini.

Love you, Mom and Dad. :)

27 November 2014

Kunang-kunang

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




“Apa itu?” sahutku sambil menunjuk sesuatu yang bercahaya, kecil dan terbang. Aneh pikirku, karena sebelumnya aku belum pernah melihat ini di Jakarta, kali pertamanya aku melihatnya saat aku pindah ke Jogja.

“Itu kunang-kunang.” Jawab Bayu sambil berusaha menangkap yang disebutnya ‘kunang-kunang’ itu. Aku bergidik ngeri.

“Ah, orang kota mana tahu hewan seperti ini.” Sahut Shinta yang sedikit memasang wajah sebal ke arahku. Aku tak menggubrisnya, aku malah terfokus dengan sesuatu yang bercahaya itu. Dan sudah berada di telapak tangan Bayu. Aku mencoba menyentuhnya dengan telunjuk tanganku. Pelan-pelan. Di luar dugaan, Bayu malah menyodorkan tangannya ke mukaku alhasil aku kaget dan terjengkang ke arah belakang.

“Hahahahahahah...” gelak tawa Shinta bak nenek sihir itu pun menggelegar suasana malam ini. Aku mengusap punggungku, sedikit sakit. Sekali lagi, aku tak menggubris suara Shinta yang memang menyebalkan itu.

Bayu membantuku untuk segera berdiri. Aku tahu dia tak sengaja membuatku terjengkang. Kunang-kunangnya lepas. Dan aku ternganga melihatnya terbang kembali. Yang kudengar dari Bayu, kunang-kunang itu hewan kecil yang imut yang di bagian tubuhnya menghasilkan cahaya seperti lampu. Biasanya anak-anak menyebutnya sebagai kuku setan. Entah apa yang membuat mereka menyebutnya ‘kuku setan’, tapi kunang-kunang bukan sesuatu yang mengerikan. Dan ia tidak seperti setan sama sekali.

“Ayo, ikut aku.” Ajak Bayu sambil menaiki sepedanya, tanpa pikir panjang aku segera menduduki di bagian belakang sepeda Bayu. Dan segera Bayu melesat cepat meninggalkan Shinta.

“Hei, kalian tak boleh meninggalkanku!” Teriak Shinta sambil berlari dengan wajah muram. Aku menjulurkan lidahku ke arah Shinta. Senang membuatnya begitu dongkol kali ini, setelah beberapa kali aku mengalah atas perilakunya yang tak menyenangkan. Bayu mengayuh sepedanya terlalu cepat hingga Shinta akhirnya mengalah untuk tak lagi mengejar kami. Dengan menghentak-hentakkan kaki-kakinya dengan kesal. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Kita mau kemana?” tanyaku kepada Bayu.

“Ke tempat dimana kau akan melihat banyak kuku setan.” Kata Bayu yang mungkin sedang menggodaku. Aku mencengkram kaosnya erat-erat dan sedikit takut saat menelusuri jalan sedikit remang-remang. Aku menutup mataku.

“Hei, jangan tutup kedua matamu. Lihatlah!” sahut Bayu yang seakan tahu aku memang sedang menutup mataku. Segera aku membuka kedua mataku. Kerlap kerlip bak lampu kecil bertaburan di alam gelap, tepatnya di persawahan.

“Waw!” pekikku merasa kagum dengan yang kulihat malam ini. Bayu tetap mengayuh sepedanya tanpa berhenti. Pemandangan yang sama sekali belum pernah kulihat selama ini.

“Indah kan?disini masih banyak kunang-kunang apalagi di areal persawahan seperti ini.”

“Indah dan benar-benar indah.” Kataku sambil terperangah melihatnya. Bayu menghentikah kayuhannya. Ia menangkap satu ekor kunang-kunang. Kali ini aku beranikan diri untuk menyentuhnya. Ini sama sekali tidak berbahaya. Bayu menaruh kunang-kunang di telapak tanganku.

“Ini tidak semenakutkan yang kau bayangkan.”

Aku sudah menyentuh kunang-kunang ini. Tidak mengerikan seperti yang aku bayangkan, Dan tidak juga menggigit. Aku masih terpesona dengan sosoknya, tubuhnya yang mengeluarkan cahaya berwarna kuning seperti lampu 5 watt. Lucu dan menggemaskan. Kali ini aku membiarkan kunang-kunang itu terbang dari telapak tanganku. Membiarkan hewan itu menari-nari lagi bersama alam dan teman-temannya

“Mari kita pulang.” Ajak Bayu, sedangkan aku masih menatap hamparan luas persawahan yang masih dipenuhi kunang-kunang. Bayu tetap mengayuh sepedanya sampai kunang-kunang itu tak lagi terlihat oleh kedua mataku. Malam yang begitu menakjubkan bersama kunang-kunang.


-SELESAI-

16 November 2014

Wanita Terbunuh (Itu) Temanku

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



“Gimana rasanya kehidupan lo semenjak jadi istri simpanan?” tanya gue asal, Sarah justru dengan santai mengepulkan puntung rokoknya yang sedari tadi ia jepitkan di jarinya.

“Apapun deh yang gue mau terpenuhi, mobil, rumah, uang segalanya. Lo, sendiri gimana masih aja lo jomblo?” celetuk Sarah yang sedikit buat gue sedikit kesal.

“Setidaknya gue bukan istri simpenan hehehe.” jawab gue sekenanya.

“Sialan lo, Bi.!!” Sarah pun terkekeh tanpa mengisyaratkan suatu masalah apapun.

Sarah wanita hebat yang pernah gue kenal. Kehidupannya yang keras semenjak ditinggal ayahnya menikah kembali dengan wanita lain. Dan Sarah sebagai anak sulung menjadi tulang punggung bagi ibu dan ketiga adiknya yang masih membutuhkan biaya sekolah hingga kini.

Gue mengenalnya semenjak SMP, dia tipe wanita tomboy yang tak pernah mengeluh dengan keadaan keluarganya. Selepas lulus SMA, ia mulai merubah diri, penampilannya yang tomboy bak disulap menjadi wanita feminin yang cantik. Dia pun sempat menjadi model di kota metropolitan selama kurang lebih lima tahun. Kehidupannya penuh dengan kontroversi, namun bagi orang yang mengenal sosok Sarah, tak akan menilai dirinya seburuk yang mereka pikir.

“Kapan lo nikah, Bi?” mendadak Sarah menanyakan sesuatu yang gue sendiri belum terpikirkan untuk itu.

“Gue, belum punya calonnya, Sa.” Kali ini gue pasrah mengaku.

“Gue nasehatin ya, kalo nyari calon suami jangan Cuma cinta aja tapi lo kudu leat isi dompetnya.” Kata Sarah sambil menghembuskan asap rokok melalui hidungnya.

“Hahaha, gue nggak sematre lo, Sa.”

“Daridulu lo kagak pernah berubah. Besok, gue pulang Bi. Ati-ati jaga diri lo baik-baik, mungkin besok gue agak sedikit sibuk.”

Tak biasanya sekali Sarah mengatakan hal itu sama gue. Gue pasti akan merindukan sahabat gue satu ini. Suaminya yang seorang pengusaha batubara, membuat Sarah mau tak mau juga ikut tinggal bersama suaminya, meskipun ia memang disediakan rumah pribadi khusus untuknya.
***

Seminggu setelah Sarah pulang, kabar mengejutkan dari beberapa media massa dan berita di stasiun televisi. Seorang istri simpanan pengusaha batubara telah meregang nyawa di dalam kamarnya. Dan yang paling mengenaskan ia terbunuh dengan cara sadis, ia dibunuh oleh anak dari suaminya yang telah mengetahui ayahnya memiliki istri baru sebagai simpanan.

“Semoga kau tenang disana, Sarah.” Kata gue lirih sembari mematikan televisi yang berisi beritanya. Dan membuang koran-koran yang memajang kisahnya. Ini sangat menyedihkan, kemarin adalah pertemuan gue sama Sarah yang terakhir.

-SELESAI-



14 November 2014

Lolypop Love

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




“Masih ingatkah kau dulu sewaktu kita masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Kau selalu saja minta dibelikan permen.” Rama mencoba mengingatkan kembali.

“Ingatanmu terlalu bagus dan kuat. Gigiku selalu sakit setiap malam karena terlalu banyak makan permen. Hehehe.” Maura selalu saja tertawa setiap mengingat masa kecilnya.

Tiada yang lebih membuat Rama kembali bahagia saat ini. Panti asuhan yang telah membesarkannya bersama Maura. Dan di panti asuhanlah ia menciptakan segala perasaan khusus untuk Maura. Rama tak lagi seperti yang dahulu, ketika ia resmi diangkat menjadi seorang anak dari sebuah keluarga yang kaya. Rama kini sudah menjadi dokter, seperti cita-citanya dahulu.

“Kenapa kau memutuskan untuk tetap di panti ini, Maura?” Rama mencoba membuka pembicaraan lain.

“Ada banyak hal, perpisahan itu menyakitkan. Aku sudah menganggap panti ini adalah keluargaku.”

“Maafkan, aku telah meninggalkanmu disini, Maura.”

Maura tertunduk, waktu cepat sekali berlalu. Rama dan Maura yang dulu masih sangat mungil dan lucu kini sudah beranjak dewasa. Maura tak tahu pertemuannya dengan Rama, membuat jantungnya berdenyut lebih cepat dari biasanya. Ini seperti pertemuan yang sudah direncanakan oleh Tuhan untuk mereka. Ini seperti sebuah takdir untuk mereka.

“Sudah lama sekali aku merindukanmu, Rama. Aku sedih setiap kali mengingatmu tak ada lagi di Panti.”

“Maaf, kalau kau terlalu lama menungguku. Semenjak lulus SMA dulu, aku selalu berharap ada orangtua yang mau mengadopsiku. Dan sekolahkan aku hingga tinggi dan cita-citaku tercapai. Apa kau tahu, itu semua demi Maura, agar kau mendapatkan suami yang mampu membuatmu bahagia.”

Maura memeluk Rama erat sekali, ada rindu yang tak mampu ia katakan melebihi kata rindu sekalipun. Kini Rama telah mencapai cita-cita yang didambakannya. Rama hanya ingin membahagiakan Maura kini. Rama ingin menjadikan Maura pasangan hidup yang selalu menemaninya.

“Aku sudah bahagia saat ini, Rama. Karena pertemuan ini.”

Rama mengambil sesuatu di dalam tasnya sambil tersenyum. Sebuah lolypop berbentuk hati. Rama segera menyodorkan lolypop itu.

“Lolypop ini tanda hatiku untukmu, maukah kau terima lolypop ini beserta hatiku Maura?”
Maura segera mengambil lolypop yang ditawarkan oleh Rama.

“Tentu saja aku terima hatimu, karena hatiku pun sudah kau miliki.”

Malam yang begitu dingin membuat keduanya terbawa susana romantis. Pertemuan yang begitu manis layaknya sebuah rasa lolypop. Penantian Maura untuk Rama telah berbuah manis. Dan tanpa tersadar mereka telah memautkan bibir mereka, kecupan demi kecupan hingga lumatan pun terjadi diantara mereka. Hanya beberapa detik saja, dan Rama segera mengakhirinya. Mereka pun saling bertatapan dengan senyuman menghiasi wajah mereka, betapa kebahagiaan itu telah mereka rasakan.

-SELESAI-


1 November 2014

MARSYA, I LOVE YOU

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi





Dua tahun berlalu semenjak Mirsya memilih untuk melanjutkan studinya di Australia. Kisahku bersama Mirsya memang tetap berjalan meskipun kami menjalani pacaran jauh jauh. Kita memutuskan tetap menjalin kasih meski jarak terlampau jauh memisahkan antara kita berdua. Aku memang sayang dengan Mirsya. Namun, sebagai laki-laki normal, aku membutuhkan sosok yang selalu dapat menemaniku saat ini. Sudah 4 tahun berjalan menjalani kisah bersama Mirsya, baru kali ini mempunyai pikiran untuk mencari pengganti Mirsya. Sayangku untuk Mirsya perlahan memudar, mungkin sudah terlalu lama,  berjauhan dengannya. walaupun komunikasi tetap lancar, namun ingin merasakan cinta yang lain sebagai penghilang rasa kejenuhanku terhadap hubungan ini.

Semenjak jauh dari Mirsya, aku pun juga berteman baik dengan Marsya. Dia adalah saudara kembar Mirsya. Sifatnya memang sangat bertolak belakang dengan Mirsya, Mirsya gadis feminin yang anggun dan kalem sedangkan Marsya si cewek tomboy bawel yang baik hati. Dia lebih  memilih melanjutkan studinya tetap di Jogja, kita juga satu kampus yang perlahan-lahan mulai mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Si cewek tomboy ini entah kenapa selalu membuatku merasa penasaran, apalagi dia belum pernah yang namanya pacaran. Padahal teman-teman lelakinya lebih banyak daripada teman wanitanya. Aku berencana akan mendekatinya, apalagi wajahnya mirip sekali dengan Mirsya karena mereka memang kembar identik.

“Gue, pengen ngerasain punya pacar, Bi.” Ucap Marsya sambil memonyongkan bibirnya. Mendadak kopi susu yang baru saja aku minum, langsung menyembur keluar dari mulutku, karena kaget mendengar ucapan Marsya kali ini.

“Jahat banget sih lo Bi. Gue ngomong kayak gitu malah kayaknya kaget banget.” Sungut Marsya.

“Gimana nggak kaget, bukannya  lo sendiri dulu yang bilang lo belum mau pacaran sebelum lo lulus kuliah.” Kataku sambil kembali meminum kopi yang sudah sedari tadi aku buat.

“I..iya sih Bi. Tapi gue kan iri sama temen-temen gue. Emang sih gaya gue tomboy tapi jujur hati gue bak putri salju banget. Setidaknya gue pengen tau, pacaran itu gimana. Itu aja Bi?”

“Gimana kalo lo nyoba ngerasain pacaran sama gue?” Aku mencoba menawarkan diri sebagai objek pacar Marsya, dengan begini sekaligus dapat mendekati Marsya melebihi teman. Memang ini ide gila.

“Lo, gila kali Bi. Mana mungkin gue belajar pacaran sama lo, pacar sodara kembar gue. Itu bukan ide yang bagus.” Sungut Marsya sambil mengunyah permen karet.

“Ya, udah gue Cuma nawarin aja kok. Selama ini, bukannya lo nggak bisa percaya sama ama yang namanya laki-laki selain sama gue kan, gue kan laki-laki setia selama ini.” Marsya hanya terlihat terdiam sambil terus menguyah permen karet, sepertinya dia masih memikirkan tawaran barusan.

 Marsya ini orang yang parno banget sama laki-laki. Karena banyak teman lelakinya yang sering curhat dengannya soal pacar mereka. Menurut Marsya, laki-laki itu jahat karena hanya bisa membuat hati wanita menangis. Marsya kerap sekali berkelahi dengan teman lelakinya hanya karena temannya menyakiti hati kekasihnya. Bagi Marsya, hati wanita tak layak untuk disakiti. Karena sekalipun wanita sayang dengan laki-laki itu merupakan rasa sayang yang tulus dari hati.

“Udah, nggak usah buang waktu lo buat banyak berpikir. Malam minggu besok kita jalan, gue jemput lo jam 7 malem. Oke.” aku langsung ngeloyor pulang jalan kaki dengan perasaan senang. 

Rumahku dan Marsya berdekatan kok, karena memang kita tetanggaan. Marsya masih nampak gugup, tapi aku tidak peduli. Aku bakal bikin Marsya bener-bener jatuh cinta kali ini.
***
Sabtu siang sepulang dari kampus. Marsya langsung buru-buru ngubek-ubek satu lemari pakaiannya. Ia nampak panik, karena ia langsung mengernyitkan dahinya saat ia memandangi baju-bajunya yang jauh dari kata feminin. Hanya lembaran-lembaran kaos oblong dan hem yang dia punya dan celana skinny jeans. Marsya langsung mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

 “Jangan sampai lo, jatuh cinta sama Abi. Inget, Abi pacar kembaran lo sendiri.” Dengan langkah gontai, ia hanya mengambil hem kotak-kotak dan skinny jeans warna gelap. Ia hanya merasa tak ada yang harus spesial untuk hari ini. Sembari Marsya memandang foto Mirsya di sudut pojok meja belajarnya sambil tersenyum. “Tenang, Mir. Gue nggak bakal rebut kekasih lo kok.”
***
Tepat pukul 7 malem, aku menyambangi rumah Marsya. Aku juga nggak tahu pasti apakah Marsya terima ajakanku yang semalam. Ya, hitung-hitung juga buat refreshing, jadi nggak ada salahnya juga. Lagian, aku juga udah minta ijin sama Mirsya, kalo aku mau jalan-jalan sama Marsya. Mirsya memang gadis yang baik, ia selalu memberikanku kebebasan disini. Apalagi hanya sekedar jalan-jalan sama sodara kembarannya, tentu bukan sesuatu hal yang patut dilarang sama Mirsya karena aku memang teman deket Marsya juga sedari kecil.

“Malem, Marsya.” Aku menyapa Marsya dan melihat Marsya sedang celingukan melihat jam tangannya sedari tadi. Dan dia nampak kaget, kalo aku udah sampe tepat waktu di rumahnya.

“Eh..lo Bi.” Jawab Marsya datar, seakan ia tidak sedang menunggu Abi. Padahal ribuan butir keringat terlihat telah membasahi wajah putihnya. Mungkinkah dia gugup malam ini.

“Lo, nunggu gue datang kan?” Godaku sambil tersenyum dan aku melihat gelagat salah tingkah dari Marsya.

“Udah, deh Bi. Jangan banyak tanya, yuk..ah kita keluar jalan sekarang.” Marsya langsung menarik tanganku segera keluar dari halaman rumahnya.

 Malam ini, aku bener-bener jalan sama Marsya. Aku boncengan naik motor matic  bersama Marsya. Tak biasanya juga Marsya banyak diam selama perjalanan, padahal biasanya dia paling bawel, pasti ada saja yang dia ceritakan. Selain cerita habis berantem sama temennya, paling cerita soal dia terlambat masuk kelas terus dimarahin dosen. Tapi kali ini, kayaknya yang harus banyak ngomong adalah aku.

“Marsya, lo kenapa sih diem mulu?” tanyaku berusaha membuka pembicaraan.

“Nggak papa, Bi. Gue kan pengen tau rasanya orang pacaran itu gimana? Emang gini ya orang pacaran kalo boncengan pada diem-dieman gini?” Marsya terlihat masih lugu sekali. Aku hanya terkekeh-kekeh mendengar pertanyaannya yang menurutku sangat polos.

“Abi, jangan ketawa deh.” Sungut Marsya sambil memukul pelan punggungku.

“Nih, lo mau tau nggak, kalo orang pacaran waktu boncengan gimana?” gue langsung menarik tangan Marsya sambil menggenggam tangannya erat. Terasa dingin sekali tangannya. Langsung buru-buru Marsya menarik Tangannya kembali.

“Abi, apaan sih?” lagi-lagi Marsya mendengus kesal.

“Katanya lo mau privat sama gue. Gue bakal kasih tau lo. Gue nggak bakal ajarin lo yang macem-macem kok. Janji.”

 Kita menyusuri jalan di jogja selama kurang lebih 1 jam. Perjalanan tanpa tujuan tadi berujung pada tempat penjual jagung bakar di alun-alun. Marsya kebetulan sedang ingin makan jagung bakar. Kali ini suasana mencair. Marsya sudah seperti biasa dengan gaya celotehannya yang memang bikin kangen akhir-akhir ini. Dan nggak sengaja aku meraih tangan Marsya dan kembali aku genggam erat. Dan bedanya, kali ini Marsya membiarkan aku menggenggam tangannya tanpa perlu dia merasa aneh dan canggung.

“Bi, hubungan lo sama Mirsya masih langgeng kan?” tanya Marsya dengan wajah penuh tanda tanya.

“Masih kok. Kita baik-baik saja.” Kataku sambil terus makan jagung bakar. Marsya hanya tersenyum mendengar jawabanku. 

Padahal dalam hati, hatiku udah nggak ada Mirsya melainkan Marsya yang kini singgah di hati. Karena selama dua tahun jauh dari Mirsya, membuatku terbiasa kehidupan dengan Marsya di sini. Gue segera mengambil tisu dan membersihkan bibir Marsya karena belepotan sisa jagung bakar. Mataku dan Marsya mendadak saling bertemu. Dan ini tambah meyakinkan hatiku sendiri, kalo aku memang mulai sayang sama Marsya.

“Pulang yuk, Bi.” Marsya memecah lamunanku. Marsya segera memalingkan wajahnya dan kembali menarik tangannya yang sedari tadi aku genggam. Dan kita pun segera pulang karena hari dirasa sudah mulai malam.
***
 Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Marsya menjadi makin dekat lebih dari biasanya dan sering menghabiskan waktu bersama, kita juga sering ke kampus bersama. Banyak pertanyaan yang datang dari teman-teman. Apalagi mereka tau, aku kekasih dari saudara kembar Marsya. Mereka selalu menyudutkanku untuk tidak bermain api. Untuk menjauh dari Marsya pun, aku rasa itu sudah terlambat. Aku terlanjur sayang sama Marsya, namun aku juga tidak tahu gimana perasaan Marsya terhadapku.

“Lo, jangan main api deh Bi.” Kata Lukman salah satu teman deket di kampus. Dialah teman yang selalu menjadi tempat segudang curhatanku.

“Cepat atau lambat, gue bakal bilang sama Marsya soal perasaan gue, Man.”

“Terus pacar lo yang di Australi, mau lo kemanain apalagi dia itu sodara kembar Marsya.”

“Gue, yang akan tanggung ini semua.”Jawabku dengan penuh percaya diri walau aku sendiri nggak yakin, Marsya juga sayang sama aku.

Hubunganku bersama Mirsya akhir-akhir ini juga merenggang. Ditambah dengan rasa curiga Mirsya yang hebat membuat kita sering bertengkar hebat di telpon. Aku semakin merasa ingin bergejolak dari situasi ini dan semakin ingin melepas Mirsya. Marsya yang kini selalu aku rindukan bahkan sehari tanpa melihatnya saja aku selalu mencemaskannya. Kali ini aku berniat untuk menyatakan perasaanku ke Marsya. Besok pagi adalah hari yang tepat untukku menyatakan perasaan ini.
***
“Gue, sayang sama lo. Marsya, I love You.” Aku udah memberanikan diri buat menyatakan perasaan. Aku nggak mau terlalu lama membohongi hati sendiri. Namun, tiba-tiba justru terasa sakit kala Marsya tiba-tiba meneteskan airmata. Baru kali ini aku melihat Marsya menangis. Secara spontan, aku langsung memeluk tubuh Marsya.

“Maaf, Sya kalau gue lancang. Gue hanya menyatakan perasaan yang gue rasain sama lo sekarang.”

“Nggak, Bi. Lo, nggak salah. Gue hanya ngerasa salah sama Mirsya, telah mencintai kekasihnya. Dan gue nggak seharusnya seperti ini” Marsya terus meneteskan airmata, meski aku berusaha menenangkan hatinya dan menghapus airmata itu.

“Jadi, seperti ini kalian berdua disini.” sesosok wanita yang tiba-tiba datang membawa koper besar. Dan tidak lain itu adalah Mirsya. Mirsya telah memergoki hubunganku bersama Marsya. Butir-butir lembut airmata juga menetes dari mata Mirsya. Kali ini aku hanya terdiam, merasa bersalah. Sungguh, aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri yang tak tahu harus berbuat apa.

 Mirsya tanpa berkata apa-apa lagi langsung masuk ke dalam kamar, membiarkanku dan Marsya tetap berdiri seperti orang penuh dosa yang tak terampuni. Keadaan menjadi hening. Rasanya aku hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini dengan Mirsya tanpa harus melibatkan Marsya. Aku nggak ingin melihat mereka menangis karena masalah ini, aku benar-benar laki-laki yang tak sepantasnya memperlakukan mereka seperti itu. Sungguh mereka terlalu baik untukku. Namun, hatiku sudah memilih Marsya bukan Mirsya.

Sudah tiga hari tiga malam, aku tak menemui Marsya dan Mirsya. Aku mengerti dengan keadaan ini butuh waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya. Terkadang rinduku terhadap Marsya harus kutahan dalam hati. Aku hanya tak ingin bertindak ceroboh yang akan membuat masalah bertambah panjang. Mirsya juga tak menghubungiku, begitupun juga denganku. Aku hanya membiarkan tiga hari ini sebagai waktu untuk menenangkan hati dan pikiran.

“Kita harus ketemu, hari ini dirumahku.” Pesan singkat BBM dari Mirsya, membuatku semakin ingin sesegera mungkin untuk menemuinya saat ini juga. Aku segera menyambangi rumah mereka. Disana terlihat Mirsya sedang duduk di sofa, wajahnya terlihat berseri kembali. Tersenyum ke arahku. Namun, aku melihat Marsya hanya terduduk lesu di samping Mirsya.

“Mungkin gue yang sebaiknya mengalah buat kalian.” Mirsya mulai membuka pembicaraan sambil menyatukan tanganku dengan tangan Marsya. 

“Gue tau banget, selama ini gue jauh dari lo Bi. Mungkin ini membuat kalian jadi terbiasa bersama.”

“Maafin, gue Mirsya.” Hanya kata-kata ini yang dapat terucap dari bibirku. Aku melihat Marsya dengan mata berkaca-kaca. Mirsya sepertinya sangat memahami keadaan ini, meski pada awalnya kemarin, ia terlalu shock untuk menerima kenyataan yang pasti telah mengiris perih hatinya. Maafin atas segala sikapku ini.

“Mulai hari ini, sebelum gue balik ke Australi. Jaga Marsya baik-baik ya Bi. Gue percaya kok sama lo.” Suasana pun kembali mencair, Marsya dan Mirsya berpelukan. Aku pun bahagia dengan akhir yang bahagia ini, kali ini aku tidak akan membuat hati wanita terluka kembali. Cukup kali ini aku menyakiti hati Mirsya.
***
 Hari ini Mirsya kembali ke Australia. Aku dan Marsya turut mengantarkan kepergian Mirsya. Tak kusangka Mirsya begitu baik dan sesegera mungkin menyatukan hatiku dengan Marsya. Marsya terlihat begitu ceria pagi ini. Setelah mengantarkan Mirsya ke bandara, aku dan Marsya pergi ke kampus bersama. Hari ini terasa berbeda, berbeda dengan hari sebelumnya. Ada Marsya yang kini singgah di hati. Dalam hati, aku berkata “Mari kita jalani hari bersama yang lebih indah.”

SELESAI

31 October 2014

Diam-diam Cinta

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi





Semenjak aku mengenalmu sebagai teman semenjak di sekolah dasar dahulu, telah mengubah perasaan ini menjadi perasaan yang entah aku sendiri tak mampu menguraikannya dalam kata-kata. Perasaan yang hidup semenjak kita lagi-lagi dipertemukan dalam satu kelas saat kita sudah menginjak bangku sekolah menengah atas. Kurasakan hangatnya senyummu saat kau hadir kembali semenjak kita hampir sudah tiga tahun terakhir tak berjumpa saat sekolah menengah pertama kita berbeda.

 Hanya berani menatapmu dalam kejauhan sudah cukup untukku merasa kebahagiaan yang tak terkira. Kau sudah tumbuh menjadi lelaki tampan dan cerdas. Tak heran jika kau kini di kelilingi banyak wanita yang selalu mengejarmu kesana kemari bak penggemar yang sangat menggemari idolanya. Aku juga salah satu dari penggemarmu itu. Penggemar yang selalu bersembunyi di balik kerumunan wanita yang ingin mendekatimu lebih dari sekedar teman biasa.

“Wah, Ramdan ganteng banget ya Din.” Salah seorang teman bernama Riska sedang membicarakan Ramdan kepadaku. Mendadak aku canggung, dan grogi saat mendengar nama Ramdan.
“Em...i..i..iya Ris.” Jawabku singkat sambil tersenyum.

“Aku liat-liat kamu kayaknya nggak tertarik banget sama Ramdan.” Kata Riska masih dengan topik yang sama yaitu Ramdan. Aku pun hanya tersenyum. Aku hanya terlalu nyaman dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pernah aku nyatakan pada siapapun kecuali hanya diriku dan Tuhan saja yang tahu.

“Hehehe, kamu naksir yah sama Ramdan?” tanyaku pada Riska untuk mengalihkan pembicaraan agar fokus tak selalu tertuju kepadaku.

“Sebenernya semenjak  pertama aku liat Ramdan, aku udah naksir sama dia. Aku boleh minta tolong nggak sama kamu Din?” Riska membisikkan sesuatu ke telingaku, rasanya sedikit bergetar hati ini. Mungkinkah aku dapat membantu Riska dengan bantuanku sendiri. Saat hati ini sesungguhnya juga mengagumi sosok Ramdan. Aku masih terus saja memikirkan kata-kata Riska.
***
“Kamu kan temennya Ramdan sejak SD, tolong bantu aku untuk dekat dengan Ramdan, please ya Din.” Bisikan dari Riska sungguh membuatku gelisah malam ini. Rasa yang berkecamuk dalam hati mendadak terasa sesak. Tak tahu harus berbuat seperti apa, sedangkan Riska  sudah kuanggap sahabat. Namun, aku pun tak mampu membohongi hati ini.

“Besok, aku tunggu di halte bus. Kita berangkat bareng lagi ke sekolah.” Pesan singkat sms dari Ramdan. Rasa senang ini mungkin tak seharusnya berlebihan. Ramdan lebih mengenalku sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanya teman untuknya dan tak lebih dari itu. Aku akan menahan rasa ini.

“Iya, Ramdan.” Aku membalas pesan singkat dari Ramdan. Kegelisahan hati ini harus segera kubuang jauh-jauh. Aku harus mengutamakan perasaan sahabatku Riska. Riska wanita yang baik untuk Ramdan. Akan kupastikan, Ramdan akan bahagia bersama Riska.
***
“Sudah banyak berubah kamu Din, semenjak sudah SMA.” Kata Ramdan saat dia duduk di sampingku dalam bus. Aku bahkan hampir tak mendengar suara Ramdan akibat kebisingan suara kendaraan di jalan yang lalu lalang. Namun, setidaknya aku mendengar lirih suara Ramdan.

“Menurutku aku tidak banyak berubah. Aku masih Dina yang dulu, Dina yang polos dan Dina yang pendiam.” Kataku mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi suasana sangat kaku karena aku hanya diam.

“Hei, hanya orang lain yang mampu melihat perubahanmu Din.” Kata Ramdan sambil tersenyum. Senyuman manis itu sungguh membuatku merinding, senyuman manis yang dikhususkan untukku. Sungguh kau memang sangat mempesonaku Ramdan tidakkah kau mengerti itu.

            Sudah 15 menit bus mengantarkan kita ke sekolah. Sungguh rasanya aku ingin berada di dalam bus lebih lama lagi. Menikmati perjalanan bersama Ramdan, hanya berdua saja. Karena saat di sekolah tak ada ruang untukku berdua bersama Ramdan bahkan hanya sekedar ngobrol di kelas, itu sesuatu yang tak mungkin ku lakukan. Akan banyak wanita yang sudah menunggu Ramdan di sekolah. Bahkan di depan gerbang, segerombolan wanita sudah menghadang Ramdan. Aku pun terhanyut dalam lamunanku. Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang tak lain dia adalah Ramdan. Dan tanpa sengaja aku sudah dalam peluknya sekarang. Gerombolan wanita di depan gerbang mendadak menjerit melihat kita berdua.

“Dina, kamu hati-hati lain kali. Kamu hampir saja tertabrak mobil, saat kita hendak menyabrang!” kata Ramdan dengan nada tinggi. Sungguh baru kali ini Ramdan membentakku. Kata-kata yang terkesan sangat mencemaskan.

“Maaf.” Hanya kata maaf yang mampu terlontar dari bibirku. Ramdan menggandengku kali ini saat menyabrang jalan. Namun, gandengan itu segera terlepas saat Ramdan telah dikerumuni wanita-wanita di sekolah. Tangan yang hangat itu, rasanya tak ingin kulepas. Aku segera ke dalam kelas walau tanpa Ramdan. Riska sudah datang lebih awal dan datang mendekat.

“Kamu, nggak papa kan Din. Aku dengar tadi kamu hampir tertabrak.”

“Aku, nggak papa Ris. Tenang aja.” Kataku pelan sambil aku duduk di tempat duduk biasa.

“Syukurlah, Din. Gimana Din apa kamu udah punya rencana buat membantuku untuk bisa lebih dekat dengan Ramdan?” Riska kembali menggebu-gebu mengenai Ramdan. Aku hanya mengangguk pelan. Dan Riska kembali senang. Kali ini aku ingin membuat Riska bahagia bisa dekat dengan Ramdan. Aku akan berbagi kebahagiaan juga dengan Riska. Aku berjanji dalam hati.
***
Aku membuat rencana dalam mendekatkan Riska dengan Ramdan. Riska merupakan salah satu wanita yang pemalu. Jadi, meski dia juga satu kelas dengan Ramdan, dia juga jarang berbincang. Aku dapat memahami hati Riska. Karena aku juga di posisi yang sama seperti Riska. Sejak SD aku memang mengenal Ramdan, aku yang pendiam sering menjadi bahan tawa dan kejahilan teman-temanku. Ramdanlah yang selalu membelaku dan menolongku. Bahkan saat aku menangis akibat kejahilan teman-temanku, Ramdan yang selalu berusaha keras menenangkan aku agar tak menangis.

Sepulang sekolah, aku dan Ramdan memang sudah berencana belajar kelompok di rumah Ramdan. Kali ini aku mengajak Riska, tentu saja tanpa sepengetahuan Ramdan. Aku dan Riska tiba di rumah Ramdan terlebih dahulu. Disana aku melihat sesosok pemuda sedang main gitar, sebelumnya tak pernah melihatnya. Karena memang baru kali ini aku ke rumah Ramdan.

“Kamu siapa?” tanya pemuda itu yang terlihat jelas lebih tua dari aku, Riska bahkan Ramdan.

“A...aku Dina kak. Teman Ramdan.”

“Oh, teman Ramdan. Silahkan duduk dulu disini, pasti Ramdan masih pulang nanti. Dasar anak itu memang begitu. Aku, Gio kakaknya Ramdan.”

“Iya kak.”

“Oke, kalian tunggu disini dulu sampai Ramdan datang. Aku mau masuk dulu.”

30 Menit kemudian.

 Ramdan pun datang, namun ia tercengang melihatku dan Riska sudah berada di rumahnya. Dia kembali menebar senyumannya. Sebelum belajar kelompok dimulai, kami disuguhi makan-makanan kecil. Riska juga terlihat sangat senang, namun tiba-tiba Ramdan menyeka keringatku yang sedari tadi menetes. Sungguh baru kali ini Ramdan begini, tidak ini bukan hanya kali ini saja. Kejadian ini seperti saat aku masih duduk di sekolah dasar. Ramdan selalu menyeka keringatku setelah kita berolahraga. Mendadak wajah Riska murung.

“Eh, aku mau ke kamar mandi dulu. Kamar mandi kamu sebelah mana ya Ramdan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, aku harus memberi waktu agar Ramdan bisa berduaan dengan Riska.

“Itu lurus aja ke belakang, nanti ada kamar mandi.”

Aku segera meninggalkan mereka berdua. Aku hanya tak ingin Riska menganggapku bukan sahabat yang baik. Aku hanya tak ingin egois dengan diriku sendiri. Setelah kembali dari kamar mandi, kulihat akhirnya Riska sudah bisa membuka percakapan dengan Ramdan. Akhirnya suasana yang kuharapkan dapat terwujud juga. Riska menikmati kedekatan bersama Ramdan. Begitu juga sebaliknya, mereka memang sangat cocok. Aku senang jika mereka bahagia.
***
Tiga bulan sudah berlalu, mereka menjalin kedekatan. Sedikit gelisah saat Riska terus saja memohon kejelasan hubungan dengan Ramdan. Dan akhirnya Riska hanya mampu menguraikannya dalam bentuk tetesan airmata yang tak bisa dibendung lagi. Riska menangis untuk seorang Ramdan. Sungguh bukan ini yang aku harapkan, bukan tangisan yang ingin kulihat dari wajah Riska. Sungguh kali ini aku akan menegur Ramdan. Untuk pertama kalinya, aku merasa kesal dengan Ramdan. Mengapa dia menyakiti hati Riska. Aku kembali menyambangi rumah Ramdan, kali ini sendirian.

“Ramdan, kenapa kamu membuat Riska menangis? Dia begitu menyayangimu tahukah itu.” kataku dengan sangat lantang, Ramdan terlihat tak menggubris. Hanya tatapan mata yang tajam. Aku sedikit tersentak dengan pemandangan ini. Bukan Ramdan yang biasa aku lihat dan aku kenal.

“Sudahlah, Din. Kamu nggak akan pernah mengerti. Lebih baik jangan terus mencoba untuk mendekatkan aku dengan Riska. Aku hanya menganggapnya sebagai teman.”

Plaakk...., aku melayangkan tanganku ke pipi kanan Ramdan. Sungguh ini Ramdan yang paling menyebalkan yang pernah kukenal. Aku benci Ramdan dan segera mungkin aku meninggalkan Ramdan, namun sebelum aku melangkahkan kakiku, dia menarik lenganku.

“Tak pernahkah kau menanyakan tentang isi hatiku, tak pernahkah kau mau tau siapa yang ada di dalam hati ini?” kata-kata Ramdan membuatku tak berdaya, aku tak mengerti maksud dari kata-katanya. Kali ini airmataku menetes, aku tak mampu menghindari Ramdan, saat Ramdan mulai mengecup bibirku tiba-tiba. Aku tergagap dan segera mendorong Ramdan. Aku pun segera pergi dari rumah Ramdan.
***
 Keesokan harinya, aku berangkat sekolah tanpa Ramdan. Kali ini pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Di kelas sudah kulihat ada Riska, matanya masih terlihat sembab. Dia melemparkan senyuman ke arahku. Aku merasa lega, sahabatku sudah kembali tersenyum seperti sediakala. Aku bahkan lebih bahagia melihatnya tersenyum.

“Din, ada yang mau aku bicarakan soal Ramdan,” Tiba-tiba Riska kembali membahas Ramdan. Sungguh rasanya kali ini aku tidak ingin mendengar tentang Ramdan.

“Kamu jangan marahin Ramdan, Din. Dan sebelumnya aku minta maaf. Sejak awal, Ramdan memang hanya menganggapku teman. Dia banyak cerita tentang kamu. Sebenernya selama ini, yang ada di hatinya Cuma kamu Din. Maaf, aku sengaja nggak kasih tau kamu. Nggak seharusnya aku egois. Tapi aku tahu, sebenarnya kamu juga suka sama Ramdan, Cuma aku pura-pura nggak tau.”

“Tapi Ris, apakah kamu sudah tak ingin membuat Ramdan suka kamu?”

“Din, aku lebih bahagia kalau kamu sekarang juga bilang perasaan kamu ke Ramdan.”

 Tanpa pikir panjang lagi, aku segera keluar kelas. Aku segera menuju ke rumah Ramdan. Kali ini aku tak mampu menyembunyikan perasaan yang sudah lama terpendam ini. Perasaan yang  kuat bahkan terlalu kuat hingga tak mampu kututupi lagi. Aku ingin Ramdan tahu mengenai perasaan ini yang juga sama seperti perasaannya. Sungguh aku terlalu bodoh dan terlalu tak peka merasakan ini semua. Semoga ini belum terlambat untukku.

Aku berlari dengan buru-buru setelah bus berhenti di halte biasa kita janjian. Aku sangat yakin Ramdan belum berangkat ke sekolah. Dan aku mendapati Ramdan baru saja keluar dari pagar rumahnya. Aku mempercepat hentakan kakiku agar segera mendapati Ramdan. Aku memeluk tubuh Ramdan dari belakang sambil menangis. Betapa rasanya aku sangat bahagia pagi ini.

 Kali ini bus tak berhenti tepat di gerbang sekolah.  Kulihat banyak penggemar Ramdan yang akan kecewa menunggu Ramdan yang tidak akan datang hari ini. Kita membiarkan bus ini terus melaju. Tanganku tergenggam erat oleh tangan Ramdan. Tak kusangka dia juga menyimpan rasa yang sama terhadapku. Rasa yang tak pernah hilang sampai hari ini. Beban di hati kini menjadi lenyap, semua ini berkat rasa yang telah mendorongnya keluar, menjadi untaian kata “Aku juga sayang kamu, Ramdan”, sehingga rasa kita menyatu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Terima kasih untuk menjaga perasaan itu hingga saat ini.


-SELESAI-