22 September 2016

https://www.bukalapak.com/ipnuk

4 July 2015

Dear diary... Ramadhan malam 18...


Malam ini, aku ingin sekali mencoba mengeluarkan sedikit rasa amarah dalam hati kecilku. Rasanya ingin menangis, tak tahu salahku dimana?

Siang ini, jam 11.00 WIB...

Aku datang ke sebuah salah satu toko busana batik yang berada di kawasan malioboro, hari ini aku datang karena ada panggilan tes wawancara. Awalnya aku semangat sekali karena inilah yang aku idamkan sebelum aku lulus kuliah. Yaps, jadi desainer itulah impianku.

Tepat pukul 11.00 aku diantar salah seorang karyawan toko menuju ruangan pihak personalia yang akan melakukan test padaku. Aku dipersilahkan duduk, dengan sedikit canggung aku pun masuk dan berusaha sesopan mungkin untuk segera duduk di kursi yang sudah disediakan. Seorang wanita yang aku perkirakan lebih tua dariku, mencoba membuka obrolan siang ini.

“mbak lilih ya?” tanyanya beramah tamah.

“Iya” jawabku lantang.

“maaf mbak sebelumnya, saya mau bertanya kalau mbak Lilih diterima kerja di sini kira-kira mbak mau tidak melepas jilbabnya, hanya saat waktu kerja saja kok.” Kata mbak-mbak yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya panjang lebar.

Sejenak aku tergugu, nggak ngerti dan merasa ini seperti lelucon dan sebuah permintaan , yang tak ingin aku menurutinya. Walaupun emang ini pekerjaan yang menarik untukku. Sedikit lama aku untuk menjawab pertanyaan mbak itu.

“maaf mbak, kalau tidak lepas jilbab gimana?” tanyaku sambil sedikit merengek berharap peraturan itu hanya formalitas saja tak perlu diterapkan.

“Maaf, mbak ini sudah peraturan yang dibuat di sini. Gimana mbak mau tidak? Tapi nggak perlu mbak jawab sekarang kok, nanti sambil dipikir-pikir lagi aja.”

Tercenung dengan permintaan mbak itu, aku pun jadi tak berselera mengerjakan test-test yang diberikan mbak itu. Semua jadi kacau, bahkan aku menjadi tak berniat lagi untuk bekerja di sini. Aku percaya Allah akan menggantikan rejeki di tempat lain, tanpa aku harus menanggalkan jilbabku di tempat kerja.

Aku sedih malam ini bukan karena saja permintaan melepas jilbab di tempat kerja, melainkan karena seseorang yang mengaku peduli denganku marah dengan keputusanku yang tak ingin lanjut jikalau mendapat telepon konfirmasi di terima bekerja. Apa salahku? Aku hanya manusia yang sedang berusaha selalu di jalan Allah dan patuh pada ajaran agamaku. Miris sekali hati ini, setelah aku membayangkan dia akan setuju dengan langkahku ini, tapi ternyata dia menyudutkanku di tepi jurang. Beranggapan aku telah menyiakan kesempatan emas.

“emangnya kamu pikir cari kerja itu gampang!!” suara lantang dari ujung telepon di seberang sana.
Astagfiruloh, mendengarnya saja hati menjadi merasa kelu sekali. Ini memang ujian dan cobaanku. Di sini lah aku diuji ketakwaanku kepada Allah daripada menuruti kemauan dan keegoisan dari seseorang yang menilaiku sebelah mata. Aku mencoba menjelaskan alasanku dan orangtuaku yang tidak membolehkan melanjutkan di tempat kerja itu. Dia semakin marah sejadinya, aku di bilang keras kepala lah, tidak nurut lah sama nasehatnya sampai aku disuruh untuk instropeksi diri, aku mencoba merenung apalagi yang harus aku renungkan, keputusan ini sudah bulat aku ambil dan aku merasa benar dalam hal ini.

Sejenak merenung kembali, apa aku salah dengan tindakanku ini? lalu, aku kembali berpikir ulang, Allah akan lebih marah jika aku menuruti hawa nafsu saja, menuruti untuk menanggalkan jilbab ini. Yaps, aku mengerti, aku tidak salah, aku punya pedoman. Biarlah orang berkata apapun yang penting Allah sayang padaku. Rejeki memang sudah ada yang mengatur, mungkin aku akan digantikan tempat untuk mendulang rejeki yang lebih baik di mata Allah.

Jikalau dia merasa tak terima dengan keputusanku ini, biarlah mungkin dia emang bukan yang terbaik untuk hidupku ke depan.

Wassalam...

16 May 2015

Dear diary...

16 Mei 2015,
Selamat malam minggu dunia...

Ada kabar apa hari ini? lama aku sudah tak menjentikan jemari bergoyang di atas keyboard, baru malam ini aku meluangkan kesempatan untuk sekedar menceritakan sedikit luka batin yang hampir menggerogoti seluruh hati. Aku ingin menyerah, aku ingin mencampakkannya sampai aku tak melihatnya lagi, aku ingin tak peduli, aku ingin membuangnya sebagai spam hati, aku ingin bahagia dengan seseorang yang akan membahagiakanku nanti tapi aku tak menginginkan dia, bukan dia yang aku cari selama ini. Aku tak ingin lebih, aku tak ingin harapan semu terus saja menjalar dalam rongga batinku.

Dia hanya laki-laki yang sering berbohong padaku, sering mengucap kata manis, sering berakting penuh masalah besar, tapi nyatanya ah entahlah hanya dia dan Tuhan yang tahu...
Hari ini aku sedikit terbawa perasaan dan emosi kembali. Padahal jujur aku nggak mau memiliki perasaan lebih lagi sejak peristiwa kemarin-kemarin. Aku masih selalu ingat saat dia mencampakkan hatiku bagai racun yang masuk tak kunjung pergi. Aku ingin menyudahinya sungguh aku ingin menyudahinya...

Tuan, kau tahu bukan kesalahanmu padaku tak cukup hanya sekali...

Aku selalu memaafkanmu dan kembali lagi padamu, jujur sejak kau ulangi lagi kesalahanmu untuk yang ketiga kali, rasaku sedikit memudar dan aku tak yakin perasaanku akan kembali subur seiring berjalannya waktu. Bukan salahku, ini murni bukan salahku. Kaulah yang terlalu menyepelekan aku, kau anggap aku gadis bodoh yang hanya mengagungkan atas nama cinta. Aku bukan gadis lugu berkacamata tebal lagi, aku gadis yang sudah tumbuh dewasa dan memiliki beberapa pengalaman walau tak banyak. Aku tak lagi gadis yang semata hanya mengagungkan atas nama cinta. Aku tahu kenapa menjalin hubungan butuh logika tinggi, aku tahu alasannya karena hanya mengandalkan perasaan saja hanya akan menikammu sendiri.

Tuhan...

Pertemukan aku dengan seseorang yang memang ditakdirkan untukku, aku merasa hatiku telah memberikan isyarat dia bukan jodoh yang terbaik untukku. Untuk apalagi aku berharap dan untuk apalagi aku memohon agar dia tak pergi meninggalkanku. Perasaan telah menguap seiring berjalannya waktu.

Maafkan aku atas kepalsuan dan kebodohan ini, yang berkata aku masih begitu sayang denganmu. Padahal jujur aku hampir tak merasakan perasaan apa-apa padamu lagi. Aku hanya ingin menunjukkan kau seharusnya sadar, hati perempuan tak seharusnya kau siakan kau dustakan. Kelak penyesalanmu tiada guna lagi.


Waktu yang akan menjawabnya...

24 December 2014

Rasa Yang Tertinggal


Hei, tuan apa kabarmu? Kulihat kau baik-baik saja dan bahagia dengan hidupmu. Lega melihatmu lagi tanpa suatu kekurangan apapun. Sebuah pertemuan singkat kemarin menjadi saksi tentang sebuah perasaan yang tak harus memiliki, perasaan yang harus di tikam dengan paksa setiap kali aku ingin merasakannya. Menyembunyikannya dari balik kebisuan dan lengkungan senyum yang tertahan dengan getir.

Terluka itu pasti, tuan. Aku harus merelakanmu untuk menjadi milik orang lain. Dan membenamkan perasaan sendiri untuk tak lagi berusaha untuk melabuhkan perasaan padamu. Kau bukan yang dahulu lagi yang datang padaku untuk menemui kekasih hatimu. Aku tak lebih dari wanita masalalu yang membebani hatimu.

Aku bahagia melihatmu berada tepat di depanku kemarin tuan, bahagia melihatmu dengan celotehanmu yang khas itu dan bahagia melihatmu berusaha membuatku bahagia selama sehari. Namun, bahagiaku tak kubiarkan menyita perasaanku seluruhnya. Aku menjaganya agar aku tak lagi berharap apapun padamu, tuan.

Terima kasih tuan sudah menepati janjimu, sekarang pergilah. Pergilah dengan bebas tanpa ada wanita yang suka kecentilan denganmu ini lagi, pergilah tanpa lagi ada wanita yang jutek dan galak ini. Pergilah raih bahagiamu, jika memang itu membuatmu bahagia, tuan.



22 December 2014

Saat Hujan Memutar Kenangan Part 5



Aku menikmati sebuah lagu dari Lara Fabian Broken Vow dari daftar list Mp3 di hp-ku. Hatiku masih terasa hampa sejak kepindahan Seno ke Jogja satu setengah tahun yang lalu. Waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari dimana hari kelulusanku.

Tell me her name
I want to know
The way she looks
And where you go
I need to see her face
I need to understand
Why you and i came to an end

Tell me again
I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night
When i’m here all alone
Remembering when i was your own

I let You go
I let you fly Why do i keep on asking why
I let you go
Now that i found
A way to keep somehow
More than a broken vow

Aku menatap kepada sebuah pintu gerbang sekolah dengan sendu. Melihat seorang wanita berdiri sambil sesekali memandang Hp-nya dengan kesal. Lalu seorang laki-laki menghampiri sambil menawarkan sebuah payung.

“Non, sudah sampai.” Tiba-tiba suara Mang Mamad membuyarkan lamunanku. Astaga bisa-bisanya aku melamun, dan memikirkan sesuatu di masalalu.

“Oh, i...iya mang.” Aku segera beranjak turun dari dalam mobil tapi tiba-tiba aku merasakan sakit pada bagian pinggang. Aku sedikit membungkuk sambil terus menahan rasa sakitku.

“Non, kenapa non?”tanya Mang mamad panik melihatku membungkuk seperti orang kesakitan.

“Nggak papa, Mang, Nanti juga hilang kok.”

“Non, pasti kurang minum lagi kan. Papa sudah bilang kan harus banyak minum.” Mang Mamad mencoba mengingatkan aku. Sepertinya aku memang anak yang keras kepala. Tapi tiba-tiba sakit terasa sedikit hilang, dan aku segera masuk ke dalam sekolah yang sudah ramai sekali.

Yolanda, Resti dan Cindy sudah berjingkrak-jingkrak kegirangan karena melihat nama mereka dalam daftar pengumuman siswa yang lulus. Aku segera melihatnya. Dan Alhamdulilah, namaku menjadi salah satu daftar siswa dan siswi yang lulus. Silviana Anggraeni.

“Vi, akhirnya kita lulus!” Resti segera memelukku di susul pula oleh Yolanda dan Cindy. Aku bahagia sekali hari ini dapat merayakan kelulusan bersama teman-temanku yang lain.

***
“Hei, Silvia!” seseorang telah mengangetkan aku, dia Puput teman satu kostku. saat telingaku tersumpal headset menyanyikan suara merdu Lara Fabian, sambil menikmati hujan yang terus saja turun dari pagi.

“Ya, ampun Puput kamu nggak ketuk pintu dulu.” Sahutku dengan kesal. Puput langsung saja melihat Hp-ku.

“Huh, Lara Fabian - Broken Vow. Dari dulu lagumu itu-itu saja. Sudah hampir 4 tahun kamu di Jogja, kamu belum juga move-on dari cinta pertama kamu.” Cerocos Puput yang super cerewet itu.

“Aku sudah berusaha melupakan kok.” Aku mencoba tak mengungkitnya kembali. Benar kata Puput sudah empat tahun aku tinggal di Jogja, aku belum juga menemukan Seno.

“Iya, sampai kamu bela-belain ke Jogja buat lanjutin kuliah dan bertemu dengan Seno. Sudah empat tahun, Vi. Mungkin takdir berkata lain tentang kalian. Kamu bisa membuka hatimu buat yang lain. Contohnya mas Dimas yang ganteng itu.”

“Tapi aku harus ketemu Seno, Put. Aku mau menyampaikan sesuatu dulu sama dia.”

“Hei, kalian ini sudah nggak ketemu udah lima tahun lebih. Bisa aja kan Seno udah nikah sama wanita lain.” Kata Puput lalu menutup mulutnya. Aku hanya mengernyitkan dahi, mungkin ada benarnya juga kata Puput. Tapi sekali lagi aku tetap cuek dengan celotehannya.

Terkadang aku ingin melupakan semua tentang Seno. Tapi hatiku masih kekeh untuk menemukannya. Berharap takdir benar-benar berpihak padaku dan Seno.

“Mau kemana, Vi?” tanya Puput yang melihatku beranjak dari dudukku. Sambil membawa sebuah payung berwarna pelangi. Aku tersenyum melihat payungku yang masih terjaga meski waktu terus saja berputar.

“Haha, payung berwarna norak itu lagi yang kamu pakai, Vi.”

“Ini payung spesial, Put. Nggak setiap orang punya kali. Sudah ah, aku pergi jalan-jalan dulu menikmati suasana sore. Gerimis-gerimis jalan-jalan romantis.”

“Ah, dasar lebay kamu.”

“Hahaha.” Aku tertawa ceria sambil terus berjalan meninggalkan kost-ku. Tiba-tiba aku melihat sebuah pelangi, dan tercenung sesaat.

“Kata orang saat pelangi muncul, orang yang sudah tiada akan ada di atas pelangi itu untuk melihat keluarganya yang masih hidup. Mungkin adikku saat ini juga sedang melihatku.”

Kata-kata Seno saat itu masih saja terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Sudah lima tahun ini, aku tak pernah melihat pelangi. Seperti warna payungku ini. Aku membayangkan kalau almarhum mama sedang melihatku dari atas pelangi.


Tuhan, aku masih selalu percaya akan takdirmu. Biarkan aku bertemu dengannya. Aku berjalan masih terus menatap sebuah pelangi itu. sampai tiba-tiba aku tak melihat di depanku ada sebuah mobil lalu suara klakson mengagetkan aku.

Bruukk...



Aku membiarkan tubuhku melayang bebas. Hantaman mobil itu membuatku terjatuh. Gerimis membuat badanku seketika basah. Dan sedikit perih terasa pada tubuhku. Seseorang menolongku dari dalam mobil. Wajah itu, wajah yang sudah tidak asing lagi, semakin dekat wajah itu semakin jelas dan nyata. Lalu pandanganku mulai kabur.

Benarkah dia???

Semoga ini bukanlah mimpi belaka saja.


-bersambung...

Saat Hujan Memutar Kenangan Part 4



Pagi ini rasanya malas sekali untuk pergi ke sekolah. Apalagi kalau nanti bertemu dengan Rendi. Aku sudah tak sudi untuk melihatnya lagi. Dia benar-benar laki-laki yang memaksakan kehendaknya sesuka hati. Aku melangkah gontai di koridor sekolah, padahal harusnya pagi ini menjadi hari yang sangat ceria untukku.

“Beb, ada kado nih di laci kamu. Tapi nggak tahu dari siapa?” kata Yolanda sambil memakai lipstik berwarna pink. Aku segera melihat isi dalam laciku. Benar ternyata ada sebuah kotak persegi panjang berisi sebuah payung berwarna pelangi. Dan satu ucapan kartu ulang tahun.

“Happy birthday, Silvia. Maaf aku nggak bisa datang kemarin. Aku harap kamu suka kado sederhana dariku ini.”
-Seno-

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berlari keluar kelas menuju kelas XI IPA 1. Di sana pasti aku akan menemukanmu, Seno. Baru tiga langkah aku berlari, aku melihat Seno. Wajahnya tampak lebam dan kuyu sekali dan beberapa perban menempel pada siku dan lengannya. Tapi anehnya, saat dia melihatku dia langsung menghindariku. Ada apa ini sebenarnya?

“Seno, tunggu!” kataku sambil berlari kecil. Seno justru semakin berlari, jadilah kita seperti orang main kejar-kejaran. Dan terhenti saat Seno tiba-tiba terjatuh. Aku hendak menolongnya, tapi dia menepis tanganku.

“Kamu kenapa No?” tanyaku bingung dengan perubahan sikap Seno.

“Sudahlah, Vi. Jangan ganggu aku lagi.” Kata Seno sambil berusaha bangkit dari jatuh.

“Ada apa memangnya? Aku punya salah apa?”

“Kamu nggak punya salah apapun sama aku, tapi lebih baik kalau kita nggak usah lagi saling ketemu.”

“Tapi kenapa?” aku tercekat saat Seno memutuskan untuk tidak lagi saling bertemu. Aku merasa ini bukan keinginan Seno. Aku yakin sekali ini bukan Seno biasanya yang aku kenal.

“Karena kita beda, Vi. Kita bagaikan bumi dan langit. Dan aku sadar diri akan hal itu. Sudahlah, Vi aku mohon jangan ganggu aku lagi.” Kata Seno lalu meninggalkan aku sendiri. Masih antara percaya dan tak percaya, Seno akan mengatakan hal itu. Aku menghapus sedikit airmata yang keluar dan segera kembali ke dalam kelas berharap nanti suasana hati kembali normal.

Sejak saat itu, aku menuruti kemauan Seno walaupun sebenarnya sulit untuk melakukannya. Seminggu setelah kejadian itu, aku tak pernah bertemu dengannya. Mungkin juga karena Seno menghindariku, bahkan saat di kantin pun, Seno tak mau lagi bertemu denganku. Tapi syukurlah, Bu Risma tetap baik padaku. Hingga suatu kejadian di sekolah, aku tidak sengaja mendengar percakapan antara Rendi dan Resti waktu aku akan ke toilet.

“Katanya kamu sahabat Silvia,  dan kamu akan bantu aku untuk lebih dekat dengan dia, tapi apa buktinya? Silvia malah nolak dan jauhin aku.” Kata Seno lantang, Resti hanya tertunduk seperti orang yang salah.

“Maaf, Ren. Aku udah berusaha semampuku, tapi aku udah membantu sebisaku kan. Aku selalu kasih tau kamu, tentang Silvia. Bukan salahku kalau dia suka yang lain. Bukannya sekarang kamu juga senang, Seno udah menuruti katamu waktu itu.”

“Kenapa sih aku harus saingan sama anak sialan itu, padahal juga gantengan aku, keren juga aku. Dia Cuma cowok beruntung yang bisa mendapat perhatian Silvia lebih.” Kata Rendi yang kembali sombong.

“Sekarang tinggal kamu usaha lagi. Terserah kamu mau tetap maju apa mundur sekarang. Aku mau masuk ke kelas dulu.” Sahut Resti sambil beranjak akan menuju kelas, tapi dia seperti tertangkap basah karena melihatku dengan tatapan dingin.

“Jadi semua ulah kalian?”tanyaku sinis. Rendi menoleh ke arahku berusaha memberikan penjelasan. Sekarang aku menarik lengan Resti menjauhi Rendi untuk meminta sebuah penjelasan.

“Maaf, Vi. Aku Cuma mau Rendi bahagia itu aja.” Terang Resti berusaha tetap untuk membela Rendi.

“Bahagia katamu! Kamu selalu saja memikirkan cowok yang kamu sayang dan berharap dia bahagia, tapi kamu nggak pernah mau tau gimana perasaan sahabat kamu ini. Terus apa kamu bahagia?”

“Vi, Rendi sayang banget sama kamu. Makanya aku berharap kamu bisa terima dia dan membuat dia bahagia itu aja.”

“Emangnya kamu siapa Res, yang bisa seenaknya saja menentukan kebahagiaan orang. Tapi aku nggak pernah suka sama Rendi, Vi. Jangan paksa aku terus-terusan.”


“Jadi bener gosip tentang kamu suka Seno. Kamu lebih pilih Seno daripada Rendi. Apa hebatnya sih Seno sampe buat kamu buta? Semua orang di sekolah ini tahu, siapa itu Seno?”

“Jangan bawa-bawa Seno, Res. Ini masalah hanya menyangkut antara aku, kamu dan Rendi. Sekarang aku mau tanya, lalu apa yang kalian lakukan ke Seno? Sampai dia jauhin aku sekarang. Aku nggak pernah ya Res ganggu hubungan kamu sama siapapun.”

Wajah Resti terlihat pucat, kali ini dia sudah tidak bisa berkelit dari kenyataan. Dia terus saja aku sudutkan untuk meminta sebuah jawaban dan cerita kebenaran. Resti menceritakan tragedi acara ulang tahun, kalau sebenarnya Seno datang ke ulang tahunku, tapi di tengah jalan Seno di hadang Rendi dan terjadi perkelahian antar mereka. Dan menyuruh Seno untuk menjauhiku, karena Rendi mengaku sebagai kekasihku.
“Sial!”sahutku mendengar cerita demi cerita dari Resti.
“Maaf, Vi. Tapi aku nggak tahu kalau Seno sampai setega itu.”
Aku sudah tak menghiraukan Resti lagi. Aku bingung harus bagaimana, dan aku sudah malas berurusan dengan Rendi lagi. Aku harus menemui Seno tapi aku harus lebih hati-hati lagi agar mereka tak mengusik hidup Seno lagi.
***
Keesokkan harinya, terdengar kabar kalau Bapaknya Seno meninggal dunia. Aku meluangkan waktu sebentar untuk pergi melayat. Di rumahnya aku hanya melihat Bu Risma yang masih saja terisak sedih. Kulirik di sekitarku, teman-teman juga banyak yang melayat. Aku tak melihat tanda-tanda adanya Seno. Harus kutahan rasa ini untuk tak menemui Seno terlebih dahulu. Hubunganku dengan Resti juga merenggang dan aku sangat kecewa atas sikapnya padaku kemarin.

Dua hari kemudian, aku mencoba mencari Seno ke kelasnya. Tapi aku tak melihat sosoknya. Sungguh sulit sekali bertemu dengan Seno. Siapa sih dia sampai membuatku terus saja merasa gelisah saat aku harus jauh dengannya?

“Kamu temannya Seno kan?” tanyaku kepada seorang cewek yang sedang duduk-duduk di kelas Seno.

“Iya.”

“Liat Seno nggak?”

“Umm, loh bukannya hari ini dia mau pindah ya?” kata cewek itu menjelaskan. Aku mendadak tergagu mendengar penjelasan kalau Seno mau pindah. Kenapa harus pindah? Apa alasan Seno mau pindah? Tanpa berpamitan, aku segera menemui Bu Risma di kantin berharap beliau ada di sana. Tapi ternyata kantinnya tutup. Aku segera keluar sekolah menuju rumah Seno yang tidak jauh.

Aku melihat Seno sedang packing semua barang-barang yang ada di dalam rumahnya dibantu oleh Bu Risma. Seno menatapku, kali ini dia tidak menghindariku.

“Kamu mau kemana No?” tanyaku sambil berusaha meredam kesedihanku.

“Aku mau pindah. Karena Bapak udah meninggal, jadi statusnya sebagai penjaga sekolah sudah habis. Pihak sekolah memutuskan rumah ini akan ditempati oleh penjaga sekolah yang baru. Pamanku akan menyekolahkan aku di Jogja, sedangkan Ibu akan pulang kampung ke Madiun.” Seno mencoba tegar sambil sesekali memandangku dengan sendu. Aku tahu pasti dia sangat sedih, tapi aku lebih sedih darinya.

“Kapan kamu berangkat?”tanyaku sedih dan pasti terlihat raut wajahku yang sendu. Aku melirik ke arah Bu Risma, dia tetap memberiku seuntai senyum kehangatan sebagai seorang Ibu. Bagaimana mungkin aku harus kehilangan mereka berdua. Aku sayang mereka, Tuhan. Jangan pisahkan aku dengan mereka. Bisikku dalam hati.

“Besok siang kami berangkat.”kata Seno dengan tatapan sedih.

Bu Risma datang mendekat padaku, tiba-tiba dia meraih tubuhku dalam dekapannya. Aku menangis sejadinya karena Bu Risma yang selama ini sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

“Maafkan, Ibu dan Seno ya nak kalau kami ada salah.” Kata Bu Risma mencoba menguatkan hatiku.

“Ibu dan Seno nggak punya salah sama Silvi. Silvi yang punya salah sama kalian kalau mungkin selama ini Silvi selalu merepotkan kalian.”

“Nggak, nak. Ibu senang kalau kamu mau jadi teman yang baik buat Seno selama berada di sini. Jaga diri baik-baik ya, sekolah yang bener sampai lulus. Ibu selalu doain kamu juga.”

Aku sungguh terharu hari ini, betapa aku menyayangi mereka. Aku merasa mereka lah yang paling memahamiku. Lalu Bu Risma tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi selain hanya tergagu menahan airmata yang terus saja jatuh. Seno melihat kami dengan tatapan sedih.

“Jaga diri baik-baik ya. Payung yang kemarin harus di bawa terus apalagi ini musim hujan. Jaga kesehatan dan jangan lupa cas Hp biar bisa hubungi mang mamad.” Kata Seno banyak berpesan sambil mengusap rambutku lembut. Aku semakin tak kuasa menahan rasa sedihku ini.

“Kamu juga ya, jangan lupain aku.” Pintaku pada Seno sedikit memohon. Aku benar-benar bingung untuk menyampaikan apalagi kepada Seno. Seno  lalu memelukku.

“Iya, Vi. Kamu percaya takdir kan?”

“Aku percaya kok.”

“Kalau kamu percaya, kalau kita memang ditakdirkan bersama suatu hari nanti, entah kapanpun itu kita akan ditakdirkan bersama lagi.” Seno mencoba menghiburku tapi entah kenapa ini cukup menguatkan hatiku saat ini. Setelah itu aku pun kembali ke sekolah walau dengan perasaan sedih.

***
Hari ini ujian matematika, keringat mulai bercucuran karena aku sudah gelisah ingin keluar sebentar untuk melihat kepergian Seno. Untung saja aku sanggup mengerjakannya lebih cepat dari biasanya sehingga aku bisa keluar terlebih dahulu. Aku berlari secepat mungkin menelusuri koridor dengan kecepatan penuh agar aku cepat sampai keluar dari gerbang sekolah. Saat aku keluar, sekitar dua menit sebuah travel sudah berangkat. Aku berlari-lari mengejar travel itu.

“Seno!” aku seperti orang gila yang tidak tahu malu, aku tak peduli dengan keadaan sekelilingku. Aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu pada Seno. Tapi sayang travel melaju dengan cepat sampai pada akhirnya aku pun terpeleset dan travel menghilang di sebuah belokan.

“Silvia!”teriak Yolanda yang ternyata mengejarku dari belakang. Dia segera memelukku dengan erat, melihatku menangis. Resti dan Cindy juga datang menyusul dan mencoba menenangkan hatiku.

“Jadi, selama ini seseorang itu Seno?”tanya Yolanda dengan gelisah. Kali ini aku mengakui karena aku sudah tak sanggup lagi berbohong kepada mereka. Aku hanya mengangguk pelan sambil terisak isak menangis.

“Kenapa kamu nggak bilang, Vi? Kenapa selama ini kamu tahan sendirian.”kata Cindy sambil menghapus airmata dengan tangannya.

“Aku takut kalian tidak akan setuju.” Kataku lirih, kulirik Resti merasa bersalah sekali.

“Ya, ampun Vi. Kita emang sahabat tapi aku nggak pernah ngatur soal cinta. Siapapun yang kamu cinta itu hak kamu. Jadi, apa kamu udah bilang sama Seno kalo kamu suka dia?” tanya Yolanda buru-buru. Aku hanya menggeleng lemah. Inilah penyesalanku saat ini, tidak pernah mengatakan perasaanku. Mungkin benar kata Seno kemarin, hanya takdir yang mampu aku andalkan saat ini.

“Maafin aku, Vi.” Kata Resti yang sesenggukan menangis di depanku. Dia Merasa bersalah atas perbuatannya kemarin, Tapi aku telah memaafkan dia, karena semua sudah terjadi.

Aku masih berharap pada takdir. Tuhan, mungkinkah aku akan bertemu dengan Seno suatu hari nanti????


-bersambung...

21 December 2014

Saat Hujan Memutar Kenangan Part 3


“Silvia!” panggil Seno saat aku hendak membuka pintu mobil, aku menoleh ke arahnya. Dan dia menarik tanganku mengajakku menjauh dari rumah dan mobil. Aku sedikit bingung dengan sikapnya hari ini.

“Aku pasti akan datang ke acara ulang tahunmu, Vi.” Kata Seno sambil tiba-tiba dia mengecup bibirku. Hangat saat bibirku menyentuh bibirnya. Aku hanya mampu tercenung sesaat setelah Seno menciumku.


“Ayo, kita pulang. Sopirmu sudah menunggu.” Ajak Seno sambil terus menggandeng tanganku mendekati mobilku. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan terhadap Seno. Mungkinkah aku benar-benar jatuh cinta dengannya.

Aku terus saja memikirkan Seno sejak hari itu. Setiap sebelum tidur, aku selalu berharap aku akan memimpikannya. Tapi apa kata teman-temanku nanti jika tahu aku dekat dengan Seno, orang yang selama ini aku sembunyikan dari mereka. Bagaimana kalau Resti tahu kalau aku mencintai Seno bukanlah Rendi. Mendadak kepalaku pening sekali memikirkan berbagai macam hal.

“Neng Silvi, ada neng Yolanda di luar cari neng.” Kata Bi Sumi yang tiba-tiba membuyarkan segala lamunanku.

“Iya, Bi. Makasih.”

Yolanda sengaja aku ajak untuk menginap di rumahku malam minggu ini. Aku merasa kesepian. Sengaja aku hanya mengajak Yolanda, tahu sendiri hubunganku dengan Resti akhir-akhir ini sedang memanas tentang hal yang tidak jelas. Sedangkan Cindy, kubiarkan dia menjadi teman penenang Resti.

“Ada apa sih beb sebenernya kok sampe aku suruh nginep segala?” tanya Yolanda sekedar ingin tahu sambil membawa kaca bergambar hello kitty kesukaannya.

“Kan besok acara ulang tahunku, kamu di sini buat bantu aku lah.” Sahutku asal-asalan.

“Sial, jadi aku kesini Cuma buat jadi pembantu kamu, Vi.”

“Aissh, kamu ini setidaknya bisa bantu-bantulah. Hahaha.”

“Kenapa nggak ajak Resti dan Cindy, mereka masih kamu anggap sahabat kan?”

“Pastilah, Nda. Mereka tetap sahabatku. Cuma aku butuh sedikit privasi aja. Aku lagi malas dengan Resti, apapun yang aku lakukan pasti sampai ke telinga Rendi.” Aku mulai membuka sesi curhat dengan Yolanda. Yolanda segera meletakan kacanya di dalam tasnya. Kali ini dia sedang tak menggubris penampilannya.

“Aku juga penasaran sebenarnya kamu suka nggak sih sama Rendi? Padahal banyak yang mau sama Rendi termasuk Resti. Tapi kamu selama ini acuh sama Rendi.”

“Rendi tipikal cowo posesif, aku nggak suka dia, Nda. Bisa mati lah aku kalau apa-apa dilarang ini itu, sepertinya dia lebih cocok dengan Resti.”

“Kamu tau sendiri kan, Rendi nggak suka sama Resti. Lagipula, Resti lagi deketin salah satu teman dekat Rendi namanya Farel. Terus kamu suka siapa sebenarnya?”

“Kalau sudah waktunya nanti aku pasti akan kasih tahu kamu, Nda.”

Yolanda kini terdiam. Sepertinya dia sahabat yang paling mengerti dengan hatiku. Dia sahabat yang paling memahami keinginanku di saat teman-temanku yang lain hanya mampu menyudutkanku tanpa bertanya bagaimana perasaanku saat ini.

***
Sebelum acara ulang tahun di mulai, aku sudah berdandan dengan rapi malam ini. Memakai gaun berwarna merah dan wedges yang tak terlalu tinggi. Sekitar jam delapan malam, teman-temanku sudah berkumpul di halaman rumahku yang cukup luas ini. konsepnya memang pesta kebun sehingga mereka sudah menunggu acara di mulai di kebun halaman rumahku. Aku senang, papa telah membuatkan pesta ulang tahunku ke 17 tahun dengan begitu sempurna.

“Mana dia?” tanya Yolanda penasaran sambil celingak-celinguk melihat kesana kemari.

“Kamu cari siapa sih?” tanyaku yang ikutan resah karena seseorang yang aku tunggu belum juga datang.

“Riko, beb. Katanya dia mau datang lima menit lagi tapi ini udah lima belas menit lho.”

“Hai, Vi. Happy birthday ya.” Resti dan Cindy datang membawakan sebuah bingkisan kado besar. Lalu kami pun cipika-cipiki.

“Makasih ya.”

“Maaf, Vi aku sama Resti telat soalnya tadi ada keributan deket rumah kamu. Nggak tau ada apa.”

“Ya, udah nggak papa kok. Yang penting kalian sudah sampe di sini. Kayaknya kita mulai aja deh acaranya.”

Aku segera memberi isyarat ke Mas Kris, dia adalah selaku MC acara party ulang tahunku ini. Aku mulai gelisah saat seseorang yang aku tunggu belum juga datang. Tiba-tiba seseorang datang dari balik gerbang, tapi aku kecewa karena yang aku lihat adalah Rendi, Riko dan Anang. Lalu kemana Seno?

“Terima kasih teman-temanku semua udah mau meluangkan waktu untuk datang ke rumahku dalam perayaan ulang tahunku yang ke 17 tahun. Semoga malam ini kalian ikut merasakan kebahagiaan juga.” Kataku semangat karena teman-teman sudah berkumpul dalam keadaan sukacita.

Lalu sekarang make a wish dan peniupan lilin lalu teman-teman bersorak sorak untuk memberikan potongan kue kepada seseorang yang aku sayangi. Aku mencari sosok Seno tapi tak juga terlihat, hanya wajah Rendi lah yang terlihat dengan selalu tersenyum.

“Potongan kue ini aku akan berikan buat Papaku.” Kataku semangat sambil menyerahkan potongan kue tart coklat. Potongan kue kedua pun aku berikan untuk ketiga sahabatku. Dan yang pasti yang terakhir aku hanya mampu berkata potongan kue ini untuk diriku sendiri. Teman-teman  kembali bersorak dalam kecewa karena aku tak memberikannya untuk seseorang yang aku sayangi lebih dari teman. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan-makan sepuasnya.

“Kamu kenapa Vi?siapa yang kamu tunggu. Rendi bukannya sudah datang ya.” Kata Cindy sambil makan sup buah. Aku seperti tertangkap basah kali ini, terlihat sedang menunggu seseorang.

“Aku nggak nunggu siapa-siapa kok.”

“Hai, Vi.” Sapa Rendi dari balik kerumunan. Cindy segera meninggalkan aku berdua dengan Rendi.

“Selamat ulang tahun. Aku punya hadiah buat kamu. Aku harap kamu mau memakainya.” Rendi segera memperlihatkan kalung berwarna perak dengan liontin bertuliskan Silvia. Rendi segera memakaikan kalung itu pada leherku. Sedikit tak enak hati aku memakainya, tapi setidaknya aku menghargai pemberiannya.

“Ciye...ciye so sweet banget kalian.” Kata Resti tiba-tiba yang melihatku dan Rendi. Rendi jadi salah tingkah, lalu aku pergi meninggalkan Rendi dan Resti kembali ke dalam kerumunan teman-teman yang lain dan makan bersama mereka.

Acara berlangsung selama dua jam. Dan akhirnya selesai juga acara ini, tapi wajahku kuyu dan sedikit kecewa karena Seno tidak datang. Aku kecewa, dia tidak menepati janjinya. Saat yang lain sudah pulang, tiba-tiba masih ada Rendi yang masih tinggal di rumahku.

“Aku mau ngomong sama kamu, Vi.” Kata Rendi dengan lirih.

“Apa?” tanyaku sedikit sinis.

“Aku sayang sama kamu, Vi. Aku berharap kamu juga sayang sama aku. Kamu terima aku kan buat jadi pacar kamu.”

“Aku baru tahu, ternyata kamu juga laki-laki dengan tingkat kepedean tinggi.”

“Jadi, maksudmu kamu nggak mau terima aku.”

“Aku nggak perlu jawab, kamu pasti tau jawabanku. Aku pernah bilang sebelumnya, carilah orang yang juga sayang denganmu.” Kataku sambil berusaha meninggalkan Rendi. Rendi lalu menarik tanganku kuat-kuat mencoba menghentikan langkahku untuk pergi.

“Nggak bisakah kamu mencoba melihat aku dan hatiku buat kamu?”

“Maaf, Ren.”

Dalam sekejap Rendi berusaha menciumku, tapi aku berhasil terlepas dari serbuannya. Sedikit memaksa dari Rendi sehingga aku sedikit meronta dan spontan tanganku terlepas menampar pipinya.

Plaaak...

Aku pun berlari meninggalkan Rendi yang sudah kelewatan itu. Membiarkan malam yang seharusnya indah ini menjadi mimpi buruk untukku. Aku menangisi malam ini. Menangis kecewa karena Seno tidak datang.

Kamu kemana Seno????

-bersambung ...