Oleh:
Lilih
Putri Pratiwi
Aku
sedikit pening, pandanganku sedikit kabur tapi aku berusaha kuat dan tegar. Aku
melengkungkan sedikit simpul senyuman ke arah Nura. Wisnu mendekat ke arahku
dan Nura. Teman-teman lain seakan sibuk untuk makan makanan yang masih tersedia
dan seakan mereka memberi luangan waktu untuk kami bertiga untuk berbicara.
“Aku
akan hadir Nura di hari yang membahagiakan itu.” kataku untuk sekedar melegakan
Nura, walau aku sedikit kecewa atas kedatanganku dalam reunian kali ini.
“Ajak
juga istri dan anakmu.” Wisnu menambahkan rangkaian kata yang tak terduga. Aku
tetap tersenyum sedangkan Nura sedikit murung. Entah, wajahnya berubah seketika
saat Wisnu datang.
“Selamat
ya buat kalian, aku ikut bahagia.” Kataku sambil menyodorkan uluran tanganku ke
arah Wisnu.
Wisnu
segera merangkul Nura. Ah, rasanya enggan aku melihat kemesraan mereka di
depanku. Nura sedikit terlihat tak senang akan rangkulan Wisnu, ia menarik
tangan Wisnu untuk segera turun dari atas pundaknya itu. Aku menyesal Nura atas
tindakanku dahulu, yang telah memilih wanita lain dan tak sabar untuk menunggu
kesiapanmu untuk melangkah ke pelaminan.
***
“Umam,
tunggu aku!” teriak Nura dari belakang saat aku sudah menyelah motorku untuk
segera melesat pergi ke penginapanku selama di Jogjakarta.
“Ada
apa Nura?” tanyaku dengan santai.
“Antar
aku pulang ya. Jangan cemas, aku sudah ijin dengan Wisnu dan Wisnu
mengijinkannya.” Kata Nura sumringah sekali.
Tanpa
pikir panjang dan belum kujawab. Nura langsung dengan cepat duduk di jok
belakang. Sedikit tak enak dengan Wisnu, calon suaminya. Wisnu sudah terlebih
dahulu melesat dengan mobilnya. Klaksonnya berbunyi saat melintas di depanku
dan Nura. Mungkin Nura ingin mengatakan perpisahan saat sebelum ia
melangsungkan pernikahannya dua hari lagi.
Sepanjang
perjalanan, tiba-tiba saja tangan Nura mendekap tubuhku dari belakang. Aku
tersentak saat Nura melakukannya. Aku seperti sedang mengulang ke masalalu
dimana saat-saat indah dulu bersama Nura.
“Aku
merindukanmu, Umam. Setiap hari aku merindukanmu.” Kata Nura suaranya mulai berubah
lirih. Aku ingin menoleh melihatnya, sedikit terdengar suara isakan dari Nura.
Aku menggenggam jemarinya lembut dan Nura pun pasrah.
“Aku
tau Umam, aku berdosa merindukanmu.”
“Ingatlah,
Wisnu. Dia yang jauh lebih pantas mendapatkan rindumu bukan aku. Aku sudah
menyakiti hatimu dulu.”
Nura tak
mengindahkan kata-kataku justru semakin eratnya ia memelukku dari belakang. Hal
ini memang tak boleh terjadi, ketika seorang wanita hendak menikah. Aku lelaki
masalalu yang seharusnya tak hadir kembali di kehidupan Nura saat ini. Aku
ingin Nura bahagia bahkan lebih bahagia dariku. Tuhan, jagakan wanita ini, wanita
yang kusayang.
“Bagaimana
kabar istrimu dan anakmu, Umam?” Nura seketika melemparkan sebuah pertanyaan
kepadaku. Aku terdiam sejenak mencoba mencari jawaban yang tepat untuk
memberikan jawaban.
“Baik,
Nura. Aku sudah menjadi duda, saat meja hijau pun sudah ketok palu tanda
perpisahan hubungan kami. Istriku selingkuh dengan bosnya di tempat kerja, sedangkan
Luna ikut Ibunya.”
“Berhenti,
Umam.” Aku mendadak menghentikan laju motorku saat melintas tepat di sebuah
tugu garuda. Tugu dimana tempat kami bercengkrama dahulu. Nura mengajakku untuk
duduk sekedar mengobrol terlebih dahulu.
“Mengapa
lelaki baik sepertimu harus menerima perlakuan tak adil dari mantan istrimu?”
Nura kembali menanyakan seputar tentang kehidupan masalaluku. Nura sepertinya
lebih tertarik untuk mendengar kisahku kali ini, kisah yang sangat memilukan
untukku.
“Sudahlah,
Nura. Aku sudah tak ingin membahasnya, mungkin ini yang terbaik.”
“Padahal
aku berharap kau hidup bahagia, Umam. Semenjak kau pergi, aku selalu berpikir
kau sudah bahagia dengan pilihanmu. Dan aku ikhlas asal kau bahagia.”
Nura
kembali termenung. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Kali ini Nura harus
mendapatkan kebahagiaan penuh. Pengkhianatan yang kulakukan dulu, biarlah
kebahagiaannya datang bersama Wisnu. Wisnu laki-laki yang baik yang kukenal,
Nura pantas mendapatkan laki-laki yang tepat.
“Ehmm..ehmm,
jadi kalian disini? Tanya Wisnu yang datang tanpa sepengetahuanku dan Nura. Aku
sedikit terperanjat melihat kedatangan Wisnu. Aku hanya tak enak dengan Wisnu.
“Pulanglah
denganku saja, Nura.” Kata Wisnu sambil mengulurkan tangannya. Nura menyambut
dengan baik uluran tangan Wisnu dan segera berpamitan denganku yang masih
terduduk.
Aku melihat
Nura masuk dalam mobil mewah milik Wisnu. Aku tersenyum getir melihat mereka
masuk ke dalam mobil yang sama. Nura sudah bahagia, dan aku seperti orang yang
terpuruk dengan keadaan ini. Aku datang ke Jogja untuk mengharapkan cinta Nura
kembali. Namun, Nura sudah menemukan seseorang yang akan menjadi suaminya
nanti. Lelaki macam apa aku ini yang selalu mengambil sebuah
kesempatan-kesempatan yang baik untuk memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku
berharap, kesempatan itu akan datang lagi untukku. Aku ingin Nura datang
kembali untukku untuk menghapus semua kesedihan hati ini. Ahh, sudahlah ini
hanya harapan yang tak seharusnya aku ciptakan atas keinginanku saja.
Aku melangkah
gontai mendekati motorku yang sedang terparkir, segera aku nyalakan mesinnya. Dan
aku pun melesat meninggalkan tempat kenangan indah ini.
-bersambung...
.jpg)
wah seru juga yah ceritanya mantap
ReplyDeleteMakasih yaa, sudah berkunjung dan sempatkan buat membaca :)
Delete