22 October 2014

Cinta Yang Lalu (Part 2)

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi





Aku sedikit pening, pandanganku sedikit kabur tapi aku berusaha kuat dan tegar. Aku melengkungkan sedikit simpul senyuman ke arah Nura. Wisnu mendekat ke arahku dan Nura. Teman-teman lain seakan sibuk untuk makan makanan yang masih tersedia dan seakan mereka memberi luangan waktu untuk kami bertiga untuk berbicara.

“Aku akan hadir Nura di hari yang membahagiakan itu.” kataku untuk sekedar melegakan Nura, walau aku sedikit kecewa atas kedatanganku dalam reunian kali ini.

“Ajak juga istri dan anakmu.” Wisnu menambahkan rangkaian kata yang tak terduga. Aku tetap tersenyum sedangkan Nura sedikit murung. Entah, wajahnya berubah seketika saat Wisnu datang.

“Selamat ya buat kalian, aku ikut bahagia.” Kataku sambil menyodorkan uluran tanganku ke arah Wisnu.

Wisnu segera merangkul Nura. Ah, rasanya enggan aku melihat kemesraan mereka di depanku. Nura sedikit terlihat tak senang akan rangkulan Wisnu, ia menarik tangan Wisnu untuk segera turun dari atas pundaknya itu. Aku menyesal Nura atas tindakanku dahulu, yang telah memilih wanita lain dan tak sabar untuk menunggu kesiapanmu untuk melangkah ke pelaminan.
***
“Umam, tunggu aku!” teriak Nura dari belakang saat aku sudah menyelah motorku untuk segera melesat pergi ke penginapanku selama di Jogjakarta.

“Ada apa Nura?” tanyaku dengan santai.

“Antar aku pulang ya. Jangan cemas, aku sudah ijin dengan Wisnu dan Wisnu mengijinkannya.” Kata Nura sumringah sekali.

Tanpa pikir panjang dan belum kujawab. Nura langsung dengan cepat duduk di jok belakang. Sedikit tak enak dengan Wisnu, calon suaminya. Wisnu sudah terlebih dahulu melesat dengan mobilnya. Klaksonnya berbunyi saat melintas di depanku dan Nura. Mungkin Nura ingin mengatakan perpisahan saat sebelum ia melangsungkan pernikahannya dua hari lagi.

Sepanjang perjalanan, tiba-tiba saja tangan Nura mendekap tubuhku dari belakang. Aku tersentak saat Nura melakukannya. Aku seperti sedang mengulang ke masalalu dimana saat-saat indah dulu bersama Nura.

“Aku merindukanmu, Umam. Setiap hari aku merindukanmu.” Kata Nura suaranya mulai berubah lirih. Aku ingin menoleh melihatnya, sedikit terdengar suara isakan dari Nura. Aku menggenggam jemarinya lembut dan Nura pun pasrah.

“Aku tau Umam, aku berdosa merindukanmu.”

“Ingatlah, Wisnu. Dia yang jauh lebih pantas mendapatkan rindumu bukan aku. Aku sudah menyakiti hatimu dulu.”

Nura tak mengindahkan kata-kataku justru semakin eratnya ia memelukku dari belakang. Hal ini memang tak boleh terjadi, ketika seorang wanita hendak menikah. Aku lelaki masalalu yang seharusnya tak hadir kembali di kehidupan Nura saat ini. Aku ingin Nura bahagia bahkan lebih bahagia dariku. Tuhan, jagakan wanita ini, wanita yang kusayang.

“Bagaimana kabar istrimu dan anakmu, Umam?” Nura seketika melemparkan sebuah pertanyaan kepadaku. Aku terdiam sejenak mencoba mencari jawaban yang tepat untuk memberikan jawaban.
“Baik, Nura. Aku sudah menjadi duda, saat meja hijau pun sudah ketok palu tanda perpisahan hubungan kami. Istriku selingkuh dengan bosnya di tempat kerja, sedangkan Luna ikut Ibunya.”

“Berhenti, Umam.” Aku mendadak menghentikan laju motorku saat melintas tepat di sebuah tugu garuda. Tugu dimana tempat kami bercengkrama dahulu. Nura mengajakku untuk duduk sekedar mengobrol terlebih dahulu.

“Mengapa lelaki baik sepertimu harus menerima perlakuan tak adil dari mantan istrimu?” Nura kembali menanyakan seputar tentang kehidupan masalaluku. Nura sepertinya lebih tertarik untuk mendengar kisahku kali ini, kisah yang sangat memilukan untukku.
“Sudahlah, Nura. Aku sudah tak ingin membahasnya, mungkin ini yang terbaik.”
“Padahal aku berharap kau hidup bahagia, Umam. Semenjak kau pergi, aku selalu berpikir kau sudah bahagia dengan pilihanmu. Dan aku ikhlas asal kau bahagia.”

Nura kembali termenung. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Kali ini Nura harus mendapatkan kebahagiaan penuh. Pengkhianatan yang kulakukan dulu, biarlah kebahagiaannya datang bersama Wisnu. Wisnu laki-laki yang baik yang kukenal, Nura pantas mendapatkan laki-laki yang tepat.

“Ehmm..ehmm, jadi kalian disini? Tanya Wisnu yang datang tanpa sepengetahuanku dan Nura. Aku sedikit terperanjat melihat kedatangan Wisnu. Aku hanya tak enak dengan Wisnu.

“Pulanglah denganku saja, Nura.” Kata Wisnu sambil mengulurkan tangannya. Nura menyambut dengan baik uluran tangan Wisnu dan segera berpamitan denganku yang masih terduduk.

Aku melihat Nura masuk dalam mobil mewah milik Wisnu. Aku tersenyum getir melihat mereka masuk ke dalam mobil yang sama. Nura sudah bahagia, dan aku seperti orang yang terpuruk dengan keadaan ini. Aku datang ke Jogja untuk mengharapkan cinta Nura kembali. Namun, Nura sudah menemukan seseorang yang akan menjadi suaminya nanti. Lelaki macam apa aku ini yang selalu mengambil sebuah kesempatan-kesempatan yang baik untuk memikirkan perasaanku sendiri. Tapi aku berharap, kesempatan itu akan datang lagi untukku. Aku ingin Nura datang kembali untukku untuk menghapus semua kesedihan hati ini. Ahh, sudahlah ini hanya harapan yang tak seharusnya aku ciptakan atas keinginanku saja.

Aku melangkah gontai mendekati motorku yang sedang terparkir, segera aku nyalakan mesinnya. Dan aku pun melesat meninggalkan tempat kenangan indah ini.


-bersambung...

2 comments:

  1. wah seru juga yah ceritanya mantap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih yaa, sudah berkunjung dan sempatkan buat membaca :)

      Delete