31 October 2014

Diam-diam Cinta

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi





Semenjak aku mengenalmu sebagai teman semenjak di sekolah dasar dahulu, telah mengubah perasaan ini menjadi perasaan yang entah aku sendiri tak mampu menguraikannya dalam kata-kata. Perasaan yang hidup semenjak kita lagi-lagi dipertemukan dalam satu kelas saat kita sudah menginjak bangku sekolah menengah atas. Kurasakan hangatnya senyummu saat kau hadir kembali semenjak kita hampir sudah tiga tahun terakhir tak berjumpa saat sekolah menengah pertama kita berbeda.

 Hanya berani menatapmu dalam kejauhan sudah cukup untukku merasa kebahagiaan yang tak terkira. Kau sudah tumbuh menjadi lelaki tampan dan cerdas. Tak heran jika kau kini di kelilingi banyak wanita yang selalu mengejarmu kesana kemari bak penggemar yang sangat menggemari idolanya. Aku juga salah satu dari penggemarmu itu. Penggemar yang selalu bersembunyi di balik kerumunan wanita yang ingin mendekatimu lebih dari sekedar teman biasa.

“Wah, Ramdan ganteng banget ya Din.” Salah seorang teman bernama Riska sedang membicarakan Ramdan kepadaku. Mendadak aku canggung, dan grogi saat mendengar nama Ramdan.
“Em...i..i..iya Ris.” Jawabku singkat sambil tersenyum.

“Aku liat-liat kamu kayaknya nggak tertarik banget sama Ramdan.” Kata Riska masih dengan topik yang sama yaitu Ramdan. Aku pun hanya tersenyum. Aku hanya terlalu nyaman dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pernah aku nyatakan pada siapapun kecuali hanya diriku dan Tuhan saja yang tahu.

“Hehehe, kamu naksir yah sama Ramdan?” tanyaku pada Riska untuk mengalihkan pembicaraan agar fokus tak selalu tertuju kepadaku.

“Sebenernya semenjak  pertama aku liat Ramdan, aku udah naksir sama dia. Aku boleh minta tolong nggak sama kamu Din?” Riska membisikkan sesuatu ke telingaku, rasanya sedikit bergetar hati ini. Mungkinkah aku dapat membantu Riska dengan bantuanku sendiri. Saat hati ini sesungguhnya juga mengagumi sosok Ramdan. Aku masih terus saja memikirkan kata-kata Riska.
***
“Kamu kan temennya Ramdan sejak SD, tolong bantu aku untuk dekat dengan Ramdan, please ya Din.” Bisikan dari Riska sungguh membuatku gelisah malam ini. Rasa yang berkecamuk dalam hati mendadak terasa sesak. Tak tahu harus berbuat seperti apa, sedangkan Riska  sudah kuanggap sahabat. Namun, aku pun tak mampu membohongi hati ini.

“Besok, aku tunggu di halte bus. Kita berangkat bareng lagi ke sekolah.” Pesan singkat sms dari Ramdan. Rasa senang ini mungkin tak seharusnya berlebihan. Ramdan lebih mengenalku sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanya teman untuknya dan tak lebih dari itu. Aku akan menahan rasa ini.

“Iya, Ramdan.” Aku membalas pesan singkat dari Ramdan. Kegelisahan hati ini harus segera kubuang jauh-jauh. Aku harus mengutamakan perasaan sahabatku Riska. Riska wanita yang baik untuk Ramdan. Akan kupastikan, Ramdan akan bahagia bersama Riska.
***
“Sudah banyak berubah kamu Din, semenjak sudah SMA.” Kata Ramdan saat dia duduk di sampingku dalam bus. Aku bahkan hampir tak mendengar suara Ramdan akibat kebisingan suara kendaraan di jalan yang lalu lalang. Namun, setidaknya aku mendengar lirih suara Ramdan.

“Menurutku aku tidak banyak berubah. Aku masih Dina yang dulu, Dina yang polos dan Dina yang pendiam.” Kataku mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi suasana sangat kaku karena aku hanya diam.

“Hei, hanya orang lain yang mampu melihat perubahanmu Din.” Kata Ramdan sambil tersenyum. Senyuman manis itu sungguh membuatku merinding, senyuman manis yang dikhususkan untukku. Sungguh kau memang sangat mempesonaku Ramdan tidakkah kau mengerti itu.

            Sudah 15 menit bus mengantarkan kita ke sekolah. Sungguh rasanya aku ingin berada di dalam bus lebih lama lagi. Menikmati perjalanan bersama Ramdan, hanya berdua saja. Karena saat di sekolah tak ada ruang untukku berdua bersama Ramdan bahkan hanya sekedar ngobrol di kelas, itu sesuatu yang tak mungkin ku lakukan. Akan banyak wanita yang sudah menunggu Ramdan di sekolah. Bahkan di depan gerbang, segerombolan wanita sudah menghadang Ramdan. Aku pun terhanyut dalam lamunanku. Tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang tak lain dia adalah Ramdan. Dan tanpa sengaja aku sudah dalam peluknya sekarang. Gerombolan wanita di depan gerbang mendadak menjerit melihat kita berdua.

“Dina, kamu hati-hati lain kali. Kamu hampir saja tertabrak mobil, saat kita hendak menyabrang!” kata Ramdan dengan nada tinggi. Sungguh baru kali ini Ramdan membentakku. Kata-kata yang terkesan sangat mencemaskan.

“Maaf.” Hanya kata maaf yang mampu terlontar dari bibirku. Ramdan menggandengku kali ini saat menyabrang jalan. Namun, gandengan itu segera terlepas saat Ramdan telah dikerumuni wanita-wanita di sekolah. Tangan yang hangat itu, rasanya tak ingin kulepas. Aku segera ke dalam kelas walau tanpa Ramdan. Riska sudah datang lebih awal dan datang mendekat.

“Kamu, nggak papa kan Din. Aku dengar tadi kamu hampir tertabrak.”

“Aku, nggak papa Ris. Tenang aja.” Kataku pelan sambil aku duduk di tempat duduk biasa.

“Syukurlah, Din. Gimana Din apa kamu udah punya rencana buat membantuku untuk bisa lebih dekat dengan Ramdan?” Riska kembali menggebu-gebu mengenai Ramdan. Aku hanya mengangguk pelan. Dan Riska kembali senang. Kali ini aku ingin membuat Riska bahagia bisa dekat dengan Ramdan. Aku akan berbagi kebahagiaan juga dengan Riska. Aku berjanji dalam hati.
***
Aku membuat rencana dalam mendekatkan Riska dengan Ramdan. Riska merupakan salah satu wanita yang pemalu. Jadi, meski dia juga satu kelas dengan Ramdan, dia juga jarang berbincang. Aku dapat memahami hati Riska. Karena aku juga di posisi yang sama seperti Riska. Sejak SD aku memang mengenal Ramdan, aku yang pendiam sering menjadi bahan tawa dan kejahilan teman-temanku. Ramdanlah yang selalu membelaku dan menolongku. Bahkan saat aku menangis akibat kejahilan teman-temanku, Ramdan yang selalu berusaha keras menenangkan aku agar tak menangis.

Sepulang sekolah, aku dan Ramdan memang sudah berencana belajar kelompok di rumah Ramdan. Kali ini aku mengajak Riska, tentu saja tanpa sepengetahuan Ramdan. Aku dan Riska tiba di rumah Ramdan terlebih dahulu. Disana aku melihat sesosok pemuda sedang main gitar, sebelumnya tak pernah melihatnya. Karena memang baru kali ini aku ke rumah Ramdan.

“Kamu siapa?” tanya pemuda itu yang terlihat jelas lebih tua dari aku, Riska bahkan Ramdan.

“A...aku Dina kak. Teman Ramdan.”

“Oh, teman Ramdan. Silahkan duduk dulu disini, pasti Ramdan masih pulang nanti. Dasar anak itu memang begitu. Aku, Gio kakaknya Ramdan.”

“Iya kak.”

“Oke, kalian tunggu disini dulu sampai Ramdan datang. Aku mau masuk dulu.”

30 Menit kemudian.

 Ramdan pun datang, namun ia tercengang melihatku dan Riska sudah berada di rumahnya. Dia kembali menebar senyumannya. Sebelum belajar kelompok dimulai, kami disuguhi makan-makanan kecil. Riska juga terlihat sangat senang, namun tiba-tiba Ramdan menyeka keringatku yang sedari tadi menetes. Sungguh baru kali ini Ramdan begini, tidak ini bukan hanya kali ini saja. Kejadian ini seperti saat aku masih duduk di sekolah dasar. Ramdan selalu menyeka keringatku setelah kita berolahraga. Mendadak wajah Riska murung.

“Eh, aku mau ke kamar mandi dulu. Kamar mandi kamu sebelah mana ya Ramdan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, aku harus memberi waktu agar Ramdan bisa berduaan dengan Riska.

“Itu lurus aja ke belakang, nanti ada kamar mandi.”

Aku segera meninggalkan mereka berdua. Aku hanya tak ingin Riska menganggapku bukan sahabat yang baik. Aku hanya tak ingin egois dengan diriku sendiri. Setelah kembali dari kamar mandi, kulihat akhirnya Riska sudah bisa membuka percakapan dengan Ramdan. Akhirnya suasana yang kuharapkan dapat terwujud juga. Riska menikmati kedekatan bersama Ramdan. Begitu juga sebaliknya, mereka memang sangat cocok. Aku senang jika mereka bahagia.
***
Tiga bulan sudah berlalu, mereka menjalin kedekatan. Sedikit gelisah saat Riska terus saja memohon kejelasan hubungan dengan Ramdan. Dan akhirnya Riska hanya mampu menguraikannya dalam bentuk tetesan airmata yang tak bisa dibendung lagi. Riska menangis untuk seorang Ramdan. Sungguh bukan ini yang aku harapkan, bukan tangisan yang ingin kulihat dari wajah Riska. Sungguh kali ini aku akan menegur Ramdan. Untuk pertama kalinya, aku merasa kesal dengan Ramdan. Mengapa dia menyakiti hati Riska. Aku kembali menyambangi rumah Ramdan, kali ini sendirian.

“Ramdan, kenapa kamu membuat Riska menangis? Dia begitu menyayangimu tahukah itu.” kataku dengan sangat lantang, Ramdan terlihat tak menggubris. Hanya tatapan mata yang tajam. Aku sedikit tersentak dengan pemandangan ini. Bukan Ramdan yang biasa aku lihat dan aku kenal.

“Sudahlah, Din. Kamu nggak akan pernah mengerti. Lebih baik jangan terus mencoba untuk mendekatkan aku dengan Riska. Aku hanya menganggapnya sebagai teman.”

Plaakk...., aku melayangkan tanganku ke pipi kanan Ramdan. Sungguh ini Ramdan yang paling menyebalkan yang pernah kukenal. Aku benci Ramdan dan segera mungkin aku meninggalkan Ramdan, namun sebelum aku melangkahkan kakiku, dia menarik lenganku.

“Tak pernahkah kau menanyakan tentang isi hatiku, tak pernahkah kau mau tau siapa yang ada di dalam hati ini?” kata-kata Ramdan membuatku tak berdaya, aku tak mengerti maksud dari kata-katanya. Kali ini airmataku menetes, aku tak mampu menghindari Ramdan, saat Ramdan mulai mengecup bibirku tiba-tiba. Aku tergagap dan segera mendorong Ramdan. Aku pun segera pergi dari rumah Ramdan.
***
 Keesokan harinya, aku berangkat sekolah tanpa Ramdan. Kali ini pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Di kelas sudah kulihat ada Riska, matanya masih terlihat sembab. Dia melemparkan senyuman ke arahku. Aku merasa lega, sahabatku sudah kembali tersenyum seperti sediakala. Aku bahkan lebih bahagia melihatnya tersenyum.

“Din, ada yang mau aku bicarakan soal Ramdan,” Tiba-tiba Riska kembali membahas Ramdan. Sungguh rasanya kali ini aku tidak ingin mendengar tentang Ramdan.

“Kamu jangan marahin Ramdan, Din. Dan sebelumnya aku minta maaf. Sejak awal, Ramdan memang hanya menganggapku teman. Dia banyak cerita tentang kamu. Sebenernya selama ini, yang ada di hatinya Cuma kamu Din. Maaf, aku sengaja nggak kasih tau kamu. Nggak seharusnya aku egois. Tapi aku tahu, sebenarnya kamu juga suka sama Ramdan, Cuma aku pura-pura nggak tau.”

“Tapi Ris, apakah kamu sudah tak ingin membuat Ramdan suka kamu?”

“Din, aku lebih bahagia kalau kamu sekarang juga bilang perasaan kamu ke Ramdan.”

 Tanpa pikir panjang lagi, aku segera keluar kelas. Aku segera menuju ke rumah Ramdan. Kali ini aku tak mampu menyembunyikan perasaan yang sudah lama terpendam ini. Perasaan yang  kuat bahkan terlalu kuat hingga tak mampu kututupi lagi. Aku ingin Ramdan tahu mengenai perasaan ini yang juga sama seperti perasaannya. Sungguh aku terlalu bodoh dan terlalu tak peka merasakan ini semua. Semoga ini belum terlambat untukku.

Aku berlari dengan buru-buru setelah bus berhenti di halte biasa kita janjian. Aku sangat yakin Ramdan belum berangkat ke sekolah. Dan aku mendapati Ramdan baru saja keluar dari pagar rumahnya. Aku mempercepat hentakan kakiku agar segera mendapati Ramdan. Aku memeluk tubuh Ramdan dari belakang sambil menangis. Betapa rasanya aku sangat bahagia pagi ini.

 Kali ini bus tak berhenti tepat di gerbang sekolah.  Kulihat banyak penggemar Ramdan yang akan kecewa menunggu Ramdan yang tidak akan datang hari ini. Kita membiarkan bus ini terus melaju. Tanganku tergenggam erat oleh tangan Ramdan. Tak kusangka dia juga menyimpan rasa yang sama terhadapku. Rasa yang tak pernah hilang sampai hari ini. Beban di hati kini menjadi lenyap, semua ini berkat rasa yang telah mendorongnya keluar, menjadi untaian kata “Aku juga sayang kamu, Ramdan”, sehingga rasa kita menyatu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Terima kasih untuk menjaga perasaan itu hingga saat ini.


-SELESAI-



0 comments:

Post a Comment