Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Semenjak
aku mengenalmu sebagai teman semenjak di sekolah dasar dahulu, telah mengubah
perasaan ini menjadi perasaan yang entah aku sendiri tak mampu menguraikannya
dalam kata-kata. Perasaan yang hidup semenjak kita lagi-lagi dipertemukan dalam
satu kelas saat kita sudah menginjak bangku sekolah menengah atas. Kurasakan
hangatnya senyummu saat kau hadir kembali semenjak kita hampir sudah tiga tahun
terakhir tak berjumpa saat sekolah menengah pertama kita berbeda.
Hanya berani menatapmu dalam
kejauhan sudah cukup untukku merasa kebahagiaan yang tak terkira. Kau sudah
tumbuh menjadi lelaki tampan dan cerdas. Tak heran jika kau kini di kelilingi
banyak wanita yang selalu mengejarmu kesana kemari bak penggemar yang sangat
menggemari idolanya. Aku juga salah satu dari penggemarmu itu. Penggemar yang
selalu bersembunyi di balik kerumunan wanita yang ingin mendekatimu lebih dari
sekedar teman biasa.
“Wah,
Ramdan ganteng banget ya Din.” Salah seorang teman bernama Riska sedang
membicarakan Ramdan kepadaku. Mendadak aku canggung, dan grogi saat mendengar
nama Ramdan.
“Em...i..i..iya
Ris.” Jawabku singkat sambil tersenyum.
“Aku
liat-liat kamu kayaknya nggak tertarik banget sama Ramdan.” Kata Riska masih
dengan topik yang sama yaitu Ramdan. Aku pun hanya tersenyum. Aku hanya terlalu
nyaman dengan perasaan ini. Perasaan yang tak pernah aku nyatakan pada siapapun
kecuali hanya diriku dan Tuhan saja yang tahu.
“Hehehe,
kamu naksir yah sama Ramdan?” tanyaku pada Riska untuk mengalihkan pembicaraan
agar fokus tak selalu tertuju kepadaku.
“Sebenernya
semenjak pertama aku liat Ramdan, aku
udah naksir sama dia. Aku boleh minta tolong nggak sama kamu Din?” Riska
membisikkan sesuatu ke telingaku, rasanya sedikit bergetar hati ini. Mungkinkah
aku dapat membantu Riska dengan bantuanku sendiri. Saat hati ini sesungguhnya
juga mengagumi sosok Ramdan. Aku masih terus saja memikirkan kata-kata Riska.
***
“Kamu
kan temennya Ramdan sejak SD, tolong bantu aku untuk dekat dengan Ramdan,
please ya Din.” Bisikan dari Riska sungguh membuatku gelisah malam ini. Rasa
yang berkecamuk dalam hati mendadak terasa sesak. Tak tahu harus berbuat
seperti apa, sedangkan Riska sudah
kuanggap sahabat. Namun, aku pun tak mampu membohongi hati ini.
“Besok,
aku tunggu di halte bus. Kita berangkat bareng lagi ke sekolah.” Pesan singkat
sms dari Ramdan. Rasa senang ini mungkin tak seharusnya berlebihan. Ramdan
lebih mengenalku sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanya
teman untuknya dan tak lebih dari itu. Aku akan menahan rasa ini.
“Iya,
Ramdan.” Aku membalas pesan singkat dari Ramdan. Kegelisahan hati ini harus
segera kubuang jauh-jauh. Aku harus mengutamakan perasaan sahabatku Riska.
Riska wanita yang baik untuk Ramdan. Akan kupastikan, Ramdan akan bahagia
bersama Riska.
***
“Sudah
banyak berubah kamu Din, semenjak sudah SMA.” Kata Ramdan saat dia duduk di
sampingku dalam bus. Aku bahkan hampir tak mendengar suara Ramdan akibat
kebisingan suara kendaraan di jalan yang lalu lalang. Namun, setidaknya aku
mendengar lirih suara Ramdan.
“Menurutku
aku tidak banyak berubah. Aku masih Dina yang dulu, Dina yang polos dan Dina
yang pendiam.” Kataku mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi suasana
sangat kaku karena aku hanya diam.
“Hei,
hanya orang lain yang mampu melihat perubahanmu Din.” Kata Ramdan sambil
tersenyum. Senyuman manis itu sungguh membuatku merinding, senyuman manis yang
dikhususkan untukku. Sungguh kau memang sangat mempesonaku Ramdan tidakkah kau
mengerti itu.
Sudah 15 menit bus mengantarkan kita
ke sekolah. Sungguh rasanya aku ingin berada di dalam bus lebih lama lagi.
Menikmati perjalanan bersama Ramdan, hanya berdua saja. Karena saat di sekolah
tak ada ruang untukku berdua bersama Ramdan bahkan hanya sekedar ngobrol di
kelas, itu sesuatu yang tak mungkin ku lakukan. Akan banyak wanita yang sudah
menunggu Ramdan di sekolah. Bahkan di depan gerbang, segerombolan wanita sudah
menghadang Ramdan. Aku pun terhanyut dalam lamunanku. Tiba-tiba tanganku
ditarik oleh seseorang tak lain dia adalah Ramdan. Dan tanpa sengaja aku sudah dalam
peluknya sekarang. Gerombolan wanita di depan gerbang mendadak menjerit melihat
kita berdua.
“Dina,
kamu hati-hati lain kali. Kamu hampir saja tertabrak mobil, saat kita hendak
menyabrang!” kata Ramdan dengan nada tinggi. Sungguh baru kali ini Ramdan
membentakku. Kata-kata yang terkesan sangat mencemaskan.
“Maaf.”
Hanya kata maaf yang mampu terlontar dari bibirku. Ramdan menggandengku kali
ini saat menyabrang jalan. Namun, gandengan itu segera terlepas saat Ramdan
telah dikerumuni wanita-wanita di sekolah. Tangan yang hangat itu, rasanya tak
ingin kulepas. Aku segera ke dalam kelas walau tanpa Ramdan. Riska sudah datang
lebih awal dan datang mendekat.
“Kamu,
nggak papa kan Din. Aku dengar tadi kamu hampir tertabrak.”
“Aku,
nggak papa Ris. Tenang aja.” Kataku pelan sambil aku duduk di tempat duduk
biasa.
“Syukurlah,
Din. Gimana Din apa kamu udah punya rencana buat membantuku untuk bisa lebih
dekat dengan Ramdan?” Riska kembali menggebu-gebu mengenai Ramdan. Aku hanya
mengangguk pelan. Dan Riska kembali senang. Kali ini aku ingin membuat Riska
bahagia bisa dekat dengan Ramdan. Aku akan berbagi kebahagiaan juga dengan
Riska. Aku berjanji dalam hati.
***
Aku membuat rencana dalam
mendekatkan Riska dengan Ramdan. Riska merupakan salah satu wanita yang pemalu.
Jadi, meski dia juga satu kelas dengan Ramdan, dia juga jarang berbincang. Aku
dapat memahami hati Riska. Karena aku juga di posisi yang sama seperti Riska.
Sejak SD aku memang mengenal Ramdan, aku yang pendiam sering menjadi bahan tawa
dan kejahilan teman-temanku. Ramdanlah yang selalu membelaku dan menolongku.
Bahkan saat aku menangis akibat kejahilan teman-temanku, Ramdan yang selalu
berusaha keras menenangkan aku agar tak menangis.
Sepulang sekolah, aku dan Ramdan
memang sudah berencana belajar kelompok di rumah Ramdan. Kali ini aku mengajak
Riska, tentu saja tanpa sepengetahuan Ramdan. Aku dan Riska tiba di rumah
Ramdan terlebih dahulu. Disana aku melihat sesosok pemuda sedang main gitar,
sebelumnya tak pernah melihatnya. Karena memang baru kali ini aku ke rumah
Ramdan.
“Kamu
siapa?” tanya pemuda itu yang terlihat jelas lebih tua dari aku, Riska bahkan
Ramdan.
“A...aku
Dina kak. Teman Ramdan.”
“Oh,
teman Ramdan. Silahkan duduk dulu disini, pasti Ramdan masih pulang nanti.
Dasar anak itu memang begitu. Aku, Gio kakaknya Ramdan.”
“Iya
kak.”
“Oke,
kalian tunggu disini dulu sampai Ramdan datang. Aku mau masuk dulu.”
30
Menit kemudian.
Ramdan pun datang, namun ia
tercengang melihatku dan Riska sudah berada di rumahnya. Dia kembali menebar
senyumannya. Sebelum belajar kelompok dimulai, kami disuguhi makan-makanan
kecil. Riska juga terlihat sangat senang, namun tiba-tiba Ramdan menyeka
keringatku yang sedari tadi menetes. Sungguh baru kali ini Ramdan begini, tidak
ini bukan hanya kali ini saja. Kejadian ini seperti saat aku masih duduk di
sekolah dasar. Ramdan selalu menyeka keringatku setelah kita berolahraga.
Mendadak wajah Riska murung.
“Eh,
aku mau ke kamar mandi dulu. Kamar mandi kamu sebelah mana ya Ramdan?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan, aku harus memberi waktu agar Ramdan bisa berduaan
dengan Riska.
“Itu
lurus aja ke belakang, nanti ada kamar mandi.”
Aku segera meninggalkan mereka
berdua. Aku hanya tak ingin Riska menganggapku bukan sahabat yang baik. Aku
hanya tak ingin egois dengan diriku sendiri. Setelah kembali dari kamar mandi,
kulihat akhirnya Riska sudah bisa membuka percakapan dengan Ramdan. Akhirnya suasana
yang kuharapkan dapat terwujud juga. Riska menikmati kedekatan bersama Ramdan.
Begitu juga sebaliknya, mereka memang sangat cocok. Aku senang jika mereka
bahagia.
***
Tiga bulan sudah berlalu, mereka
menjalin kedekatan. Sedikit gelisah saat Riska terus saja memohon kejelasan
hubungan dengan Ramdan. Dan akhirnya Riska hanya mampu menguraikannya dalam
bentuk tetesan airmata yang tak bisa dibendung lagi. Riska menangis untuk
seorang Ramdan. Sungguh bukan ini yang aku harapkan, bukan tangisan yang ingin
kulihat dari wajah Riska. Sungguh kali ini aku akan menegur Ramdan. Untuk
pertama kalinya, aku merasa kesal dengan Ramdan. Mengapa dia menyakiti hati
Riska. Aku kembali menyambangi rumah Ramdan, kali ini sendirian.
“Ramdan,
kenapa kamu membuat Riska menangis? Dia begitu menyayangimu tahukah itu.”
kataku dengan sangat lantang, Ramdan terlihat tak menggubris. Hanya tatapan mata
yang tajam. Aku sedikit tersentak dengan pemandangan ini. Bukan Ramdan yang
biasa aku lihat dan aku kenal.
“Sudahlah,
Din. Kamu nggak akan pernah mengerti. Lebih baik jangan terus mencoba untuk
mendekatkan aku dengan Riska. Aku hanya menganggapnya sebagai teman.”
Plaakk....,
aku melayangkan tanganku ke pipi kanan Ramdan. Sungguh ini Ramdan yang paling
menyebalkan yang pernah kukenal. Aku benci Ramdan dan segera mungkin aku
meninggalkan Ramdan, namun sebelum aku melangkahkan kakiku, dia menarik
lenganku.
“Tak
pernahkah kau menanyakan tentang isi hatiku, tak pernahkah kau mau tau siapa
yang ada di dalam hati ini?” kata-kata Ramdan membuatku tak berdaya, aku tak
mengerti maksud dari kata-katanya. Kali ini airmataku menetes, aku tak mampu
menghindari Ramdan, saat Ramdan mulai mengecup bibirku tiba-tiba. Aku tergagap
dan segera mendorong Ramdan. Aku pun segera pergi dari rumah Ramdan.
***
Keesokan harinya, aku berangkat
sekolah tanpa Ramdan. Kali ini pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Di
kelas sudah kulihat ada Riska, matanya masih terlihat sembab. Dia melemparkan
senyuman ke arahku. Aku merasa lega, sahabatku sudah kembali tersenyum seperti
sediakala. Aku bahkan lebih bahagia melihatnya tersenyum.
“Din,
ada yang mau aku bicarakan soal Ramdan,” Tiba-tiba Riska kembali membahas
Ramdan. Sungguh rasanya kali ini aku tidak ingin mendengar tentang Ramdan.
“Kamu
jangan marahin Ramdan, Din. Dan sebelumnya aku minta maaf. Sejak awal, Ramdan
memang hanya menganggapku teman. Dia banyak cerita tentang kamu. Sebenernya
selama ini, yang ada di hatinya Cuma kamu Din. Maaf, aku sengaja nggak kasih
tau kamu. Nggak seharusnya aku egois. Tapi aku tahu, sebenarnya kamu juga suka
sama Ramdan, Cuma aku pura-pura nggak tau.”
“Tapi
Ris, apakah kamu sudah tak ingin membuat Ramdan suka kamu?”
“Din,
aku lebih bahagia kalau kamu sekarang juga bilang perasaan kamu ke Ramdan.”
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera
keluar kelas. Aku segera menuju ke rumah Ramdan. Kali ini aku tak mampu
menyembunyikan perasaan yang sudah lama terpendam ini. Perasaan yang kuat bahkan terlalu kuat hingga tak mampu
kututupi lagi. Aku ingin Ramdan tahu mengenai perasaan ini yang juga sama
seperti perasaannya. Sungguh aku terlalu bodoh dan terlalu tak peka merasakan ini
semua. Semoga ini belum terlambat untukku.
Aku berlari dengan buru-buru setelah
bus berhenti di halte biasa kita janjian. Aku sangat yakin Ramdan belum
berangkat ke sekolah. Dan aku mendapati Ramdan baru saja keluar dari pagar
rumahnya. Aku mempercepat hentakan kakiku agar segera mendapati Ramdan. Aku
memeluk tubuh Ramdan dari belakang sambil menangis. Betapa rasanya aku sangat
bahagia pagi ini.
Kali ini bus tak berhenti tepat di
gerbang sekolah. Kulihat banyak
penggemar Ramdan yang akan kecewa menunggu Ramdan yang tidak akan datang hari ini.
Kita membiarkan bus ini terus melaju. Tanganku tergenggam erat oleh tangan
Ramdan. Tak kusangka dia juga menyimpan rasa yang sama terhadapku. Rasa yang
tak pernah hilang sampai hari ini. Beban di hati kini menjadi lenyap, semua ini
berkat rasa yang telah mendorongnya keluar, menjadi untaian kata “Aku juga sayang
kamu, Ramdan”, sehingga rasa kita menyatu menjadi sebuah kebahagiaan yang tak
terkira. Terima kasih untuk menjaga perasaan itu hingga saat ini.
-SELESAI-

0 comments:
Post a Comment