Oleh:
Aku
menenggak sebotol minuman bersoda dingin yang kubeli di minimarket terdekat
dari rumah. Rasanya pedih di kerongkongan dan aku terus memaksanya masuk
terdorong ke dalam. Bila saja yang kuminum cairan racun, mungkin sudah sedari
tadi aku tergeletak tak berdaya dengan mulut dipenuhi buih-buih kematian.
Tidak,
aku masih dalam batas normal dan wajar. Aku masih ingin melanjutkan perjalanan
hidupku. Aku masih saja menenggak air bersoda rasa lemon itu dan beberapa detik
kemudian, air di dalam botol tak bersisa. Gila pikirku, baru kali ini aku
menenggak minuman ini seperti orang kesetanan. Dan seketika aku pun mengeluarkan
suara layaknya orang kekenyangan. Ohhhoooooiiikkk.
Lalu
aku hempaskan tubuh ini ke atas kasur, disana aku kembali merajai pikiranku
dengan memori-memori masalalu yang sebenarnya sudah tak ingin kuingat lagi.
Tapi tetap saja terjejal masuk dengan seenaknya sendiri. Aku pun mulai
merasakan kepedihan kembali. Asmara yang baru saja kurasakan keindahannya kini
lenyap dan hilang tanpa sisa.
“Kita
sudahi saja hubungan ini.” Kata Radit sambil terus memohon agar aku memenuhi
permintaannya yang sangat sulit aku terima.
Sudah
beberapa kali ini, aku selalu mendapatkan perlakuan tak menyangkan oleh
beberapa pria yang mengaku sayang denganku. Dengan bualan-bualan manis penuh
bisa yang mematikan, yang pada akhirnya hanya meninggalkan luka yang lagi-lagi
sang waktulah yang akan menghapusnya. Dan Aku tak perlu berharap apa-apa lagi
untuk mengharapkan cinta yang sempurna.
Aku
akan mengutuk para lelaki yang telah menyakiti hati ini. Kau yang sudah
menyakiti hati ini dan kau pula lah yang akan membayar semuanya. Segala
permintaan maafmu biar waktu yang akan memaafkan segala kesalahanmu. Aku akan
segera menemukan kebahagianku nanti. Walaupun kebahagiaan itu tak perlu hidup
berdampingan denganmu.
“Biarlah kini serpihan hati
menemani airmataku, hingga habis dayaku untuk selalu mencintaimu...”

statement terakhirnya pas banget :)
ReplyDelete:) karena sesuai hati biasanya dipas-pasin hehehe
ReplyDelete