31 August 2014

Asmara Yang Layu



Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




Aku menenggak sebotol minuman bersoda dingin yang kubeli di minimarket terdekat dari rumah. Rasanya pedih di kerongkongan dan aku terus memaksanya masuk terdorong ke dalam. Bila saja yang kuminum cairan racun, mungkin sudah sedari tadi aku tergeletak tak berdaya dengan mulut dipenuhi buih-buih kematian. 

Tidak, aku masih dalam batas normal dan wajar. Aku masih ingin melanjutkan perjalanan hidupku. Aku masih saja menenggak air bersoda rasa lemon itu dan beberapa detik kemudian, air di dalam botol tak bersisa. Gila pikirku, baru kali ini aku menenggak minuman ini seperti orang kesetanan. Dan seketika aku pun mengeluarkan suara layaknya orang kekenyangan. Ohhhoooooiiikkk.

Lalu aku hempaskan tubuh ini ke atas kasur, disana aku kembali merajai pikiranku dengan memori-memori masalalu yang sebenarnya sudah tak ingin kuingat lagi. Tapi tetap saja terjejal masuk dengan seenaknya sendiri. Aku pun mulai merasakan kepedihan kembali. Asmara yang baru saja kurasakan keindahannya kini lenyap dan hilang tanpa sisa.

“Kita sudahi saja hubungan ini.” Kata Radit sambil terus memohon agar aku memenuhi permintaannya yang sangat sulit aku terima.

Sudah beberapa kali ini, aku selalu mendapatkan perlakuan tak menyangkan oleh beberapa pria yang mengaku sayang denganku. Dengan bualan-bualan manis penuh bisa yang mematikan, yang pada akhirnya hanya meninggalkan luka yang lagi-lagi sang waktulah yang akan menghapusnya. Dan Aku tak perlu berharap apa-apa lagi untuk mengharapkan cinta yang sempurna. 

Aku akan mengutuk para lelaki yang telah menyakiti hati ini. Kau yang sudah menyakiti hati ini dan kau pula lah yang akan membayar semuanya. Segala permintaan maafmu biar waktu yang akan memaafkan segala kesalahanmu. Aku akan segera menemukan kebahagianku nanti. Walaupun kebahagiaan itu tak perlu hidup berdampingan denganmu.

“Biarlah kini serpihan hati menemani airmataku, hingga habis dayaku untuk selalu mencintaimu...”

2 comments: