Oleh:
“Aku
mencintaimu bukan karena kau teman mantan kekasihku. Aku mencintaimu karena kau
laki-laki bermoral di mataku. Jika aku harus memilih, aku lebih memilih
mengenalmu lebih dulu daripada aku mengenal temanmu itu” Kata Puput sambil
terus menggenggam tangan laki-laki yang duduk di sampingnya.
“Aku
juga berpikir seperti itu, kalau saja kita dipertemukan sedari dulu. Mungkin
kisah kita akan berbeda. Akan ada kisah kita yang terukir indah selama hidup
kita.” Katanya sambil mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan.
Keadaan
dan kenyataan memang terkadang tak sejalan dengan apa yang kita harapkan.
Pertemuan antara kau dan aku tak mampu untuk dilanjutkan. Aku menghargai segala
keputusanmu.
“Akan
ada laki-laki yang akan mencintaimu dengan tulus. Aku tak cukup mampu untuk
bertahan dengan keadaan ini, meskipun aku sendiri sebenarnya tersakiti oleh
mereka.”
“Sebenarnya
aku tidak bisa.” Kataku sambil menahan pilu di hati.
“Bisa
pasti bisa, pelan-pelan saja untuk melakukannya. Kamu akan bahagia di saat
waktunya tepat.” Kata lelaki masalalu itu.
Aku akan
terus kembali ke kehidupan biasaku, seperti sebelum aku mengenalmu lebih dalam
dan sebelum aku mulai jatuh cinta denganmu. Semua akan baik-baik saja, demi
semua kebaikan akan kukubur dalam-dalam perasaan ini. Perasaanku padamu biarlah
hati ini yang menyimpannya dengan rapi. Sebuah senyuman, tatapan indah itu,
gerai tawamu, candamu, rindumu padaku bahkan setiap lekukan jemari yang menyatu
dengan jemariku akan selalu menjadi kenangan termanis antara aku dan kamu.
“Kau yang menciptakan rasa cinta
ini ada dan kau pula lah yang memaksa cinta ini harus berakhir menjadi sebuah
kenangan masalalu..”
(Dariku
yang mencintaimu)

0 comments:
Post a Comment