Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Beginilah
nasib seorang lelaki yang belum menemukan sang belahan hati, kerja pagi pulang
pagi pun tiada yang mencari. Kali ini Hayato mampir ke warung internet alias
warnet di dekat rumahnya. Kepala peningnya belum juga ingin disandarkan pada
bantal empuknya. Matanya masih terbelalak akibat doping dari kopi yang ia seduh
bersama teman-temannya sewaktu ia di kantor.
Warung internet
selalu saja ramai pengunjung meskipun jam dinding sudah menunjukan pukul
sebelas malam. Hayato tergugu sejenak mendengar acara radio yang sengaja
operator warnet sediakan untuk menambah suasana meriah dengan gelak tawa suara
pembawa acaranya bernama Daiki yang memang ceria itu. Kali ini Hayato tertarik,
bukan tertarik pada layar monitor yang sudah menyuguhkan beberapa media sosial
yang sudah terpampang melainkan pada acara radio itu, radio radar cinta.
“Yap,
masih bersama saya Daiki dalam acara radio radar cinta. Bagi yang ngerasa belum
menemukan cinta sejati boleh loh langsung telpon ke radio radar cinta.”
“Hehehe,
acara macam apa ini?” pikir Hayato sambil tersenyum geli. Ia langsung fokus
kembali dengan monitor komputernya, lalu ia menyulut rokoknya.
“Ya,
mosi-mosi hehehe duh gayanya jadi ala Jepang ini. Maaf ya udah larut soalnya
jadi makin ngaco aja bahasanya. Oke, ini dengan siapa saya bicara?” tanya Daiki
sang pembawa acara.
“Ini
aku dengan Momo.”
Sejenak
Hayato menghentikan aktifitasnya di dalam bilik. Tak asing dengan suara wanita
yang lembut itu. Momo mungkinkah dia, Hayato mencoba fokus mendengarkan
perbincangan antara Momo dan Daiki.
“Oke
Momo, usianya berapa ini? mau mencari sosok pria idaman seperti apa?”
“Hmm,
aku baru berusia 25 tahun. Aku mencari sosok yang bertanggung jawab dan mapan. Dan
bisa menerimaku dan juga anakku yang baru berusia satu setengah tahun.”
“Oke,
terima kasih buat Momo. Kita nantikan siapa laki-laki yang tertarik untuk
mendekati Momo. Nanti kita akan coba saling menukarkan nomor yang bisa
dihubungi. Semoga sukses ya Momo.”
Hayato
bergetar rasanya setelah mendengar perbincangan antara Momo dan Daiki. Hayato
seperti mengenang masalalu dua tahun yang lalu. Kesalahan yang ia lakukan
terhadap seorang wanita. Wanita yang ia cintai namun ia lepas tanggung jawab. Segera
Hayato menelpon radio radar cinta. Kali ini ia memakai nama palsu, agar Momo
tak mengetahuinya.
“Radio
radar cinta, dengan siapa disana?”
“Emm..ini
dengan Junichi. Usia sudah 28 tahun.” Kata Hayato, inilah alasan penyebab
mengapa ia terus saja merasa bersalah atas hidupnya.
“Oke,
Junichi. Sebelumnya sudah tahu kan wanita bernama Momo sedang mencari pria
idaman seperti apa. Oke, kalian nanti akan dikirimkan nomer untuk saling
berkomunikasi sendiri di luar acara ini. Terima kasih sudah berpartisipasi
dalam acara ini. Semoga kalian berjodoh.”
Hayato gemetar
sesaat setelah diberi nomer yang dapat terhubung dengan Momo. Sudah lama sekali
rasanya aku meninggalkanmu. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah
kuperbuat dulu.
***
Setelah
seharian mereka berkomunikasi melalui SMS, mereka pun memutuskan untuk kopi
darat. Mereka janji untuk bertemu di cafe kopi. Hayato sedikit resah menunggu
Momo bersama anak hasil hubungannya. Ia takut Momo akan marah karena Junichi
tak lain adalah dirinya, mantan kekasih yang telah mencampakkannya di saat ia
telah berbadan dua.
Momo
yang tengah menggendong bayi mungilnya seakan tak percaya. Junichi yang tak
lain Hayato telah berada tepat di depannya. Momo pun segera berbalik arah,
namun sayang ia terlambat. Tangan Hayato sudah terlebih dahulu meraih
lengannya.
“Maafkan
aku Momo. Hidupku sudah penuh dosa, jangan tambahi aku dengan dosa karena kau
tak memaafkan aku.” Kata Hayato lirih, ia pasrah saat Momo akan melontarkan
kata-kata amarah sekalipun. Suasana cafe yang sedikit lengang itu terlanjur
menjadi pusat perhatian para pelayan cafe dengan adanya pertemuan Momo dan
Hayato.
“Lepaskan
aku Hayato. Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk pergi. Lalu untuk apa
kau kembali lagi pada hidupku?” Momo menghempaskan tangannya dari cengkraman
kuat Hayato.
“Aku
ingin bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku mohon padamu, beri aku kesempatan
lagi.”
“Maaf,
Hayato. Aku sudah memberimu lebih dari berkali-kali kesempatan tapi kau sudah
ingkari. Aku sudah memberimu pilihan untuk pergi dari hidupku. Jangan kau ganggu
lagi hidupku dan juga anakku, Ayumi.”
“Tapi
aku berhak membahagiakan Ayumi yang juga anakku.”
“Kau
boleh bahagiakan Ayumi tapi tidak untuk hidup bersama.”
Kali ini
Momo pergi meninggalkan Hayato sendirian di Cafe. Beberapa pelayan cafe melihat
Hayato penuh kasihan. Ada juga beberapa yang melihat Hayato seperti seorang
penjahat yang telah melukai hati seorang perempuan. Hayato mengakui
kesalahannya di masalalu. Kesempatan yang diberi Momo sudah tak diberlakukannya
lagi kali ini. wajah Hayato terlihat sedih. Hayato segera pergi meninggalkan
cafe setelah sebelumnya ia menghabiskan dua gelas kopi susu kesukaannya. Bahkan
ia tak sempat melihat Ayumi untuk yang terkahir kalinya.
SELESAI

0 comments:
Post a Comment