19 October 2014

Radio Radar Cinta

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



Beginilah nasib seorang lelaki yang belum menemukan sang belahan hati, kerja pagi pulang pagi pun tiada yang mencari. Kali ini Hayato mampir ke warung internet alias warnet di dekat rumahnya. Kepala peningnya belum juga ingin disandarkan pada bantal empuknya. Matanya masih terbelalak akibat doping dari kopi yang ia seduh bersama teman-temannya sewaktu ia di kantor.

Warung internet selalu saja ramai pengunjung meskipun jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Hayato tergugu sejenak mendengar acara radio yang sengaja operator warnet sediakan untuk menambah suasana meriah dengan gelak tawa suara pembawa acaranya bernama Daiki yang memang ceria itu. Kali ini Hayato tertarik, bukan tertarik pada layar monitor yang sudah menyuguhkan beberapa media sosial yang sudah terpampang melainkan pada acara radio itu, radio radar cinta.

“Yap, masih bersama saya Daiki dalam acara radio radar cinta. Bagi yang ngerasa belum menemukan cinta sejati boleh loh langsung telpon ke radio radar cinta.”

“Hehehe, acara macam apa ini?” pikir Hayato sambil tersenyum geli. Ia langsung fokus kembali dengan monitor komputernya, lalu ia menyulut rokoknya.

“Ya, mosi-mosi hehehe duh gayanya jadi ala Jepang ini. Maaf ya udah larut soalnya jadi makin ngaco aja bahasanya. Oke, ini dengan siapa saya bicara?” tanya Daiki sang pembawa acara.

“Ini aku dengan Momo.”

Sejenak Hayato menghentikan aktifitasnya di dalam bilik. Tak asing dengan suara wanita yang lembut itu. Momo mungkinkah dia, Hayato mencoba fokus mendengarkan perbincangan antara Momo dan Daiki.

“Oke Momo, usianya berapa ini? mau mencari sosok pria idaman seperti apa?”

“Hmm, aku baru berusia 25 tahun. Aku mencari sosok yang bertanggung jawab dan mapan. Dan bisa menerimaku dan juga anakku yang baru berusia satu setengah tahun.”

“Oke, terima kasih buat Momo. Kita nantikan siapa laki-laki yang tertarik untuk mendekati Momo. Nanti kita akan coba saling menukarkan nomor yang bisa dihubungi. Semoga sukses ya Momo.”

Hayato bergetar rasanya setelah mendengar perbincangan antara Momo dan Daiki. Hayato seperti mengenang masalalu dua tahun yang lalu. Kesalahan yang ia lakukan terhadap seorang wanita. Wanita yang ia cintai namun ia lepas tanggung jawab. Segera Hayato menelpon radio radar cinta. Kali ini ia memakai nama palsu, agar Momo tak mengetahuinya.

“Radio radar cinta, dengan siapa disana?”

“Emm..ini dengan Junichi. Usia sudah 28 tahun.” Kata Hayato, inilah alasan penyebab mengapa ia terus saja merasa bersalah atas hidupnya.

“Oke, Junichi. Sebelumnya sudah tahu kan wanita bernama Momo sedang mencari pria idaman seperti apa. Oke, kalian nanti akan dikirimkan nomer untuk saling berkomunikasi sendiri di luar acara ini. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam acara ini. Semoga kalian berjodoh.”

Hayato gemetar sesaat setelah diberi nomer yang dapat terhubung dengan Momo. Sudah lama sekali rasanya aku meninggalkanmu. Aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat dulu.
***
Setelah seharian mereka berkomunikasi melalui SMS, mereka pun memutuskan untuk kopi darat. Mereka janji untuk bertemu di cafe kopi. Hayato sedikit resah menunggu Momo bersama anak hasil hubungannya. Ia takut Momo akan marah karena Junichi tak lain adalah dirinya, mantan kekasih yang telah mencampakkannya di saat ia telah berbadan dua.

Momo yang tengah menggendong bayi mungilnya seakan tak percaya. Junichi yang tak lain Hayato telah berada tepat di depannya. Momo pun segera berbalik arah, namun sayang ia terlambat. Tangan Hayato sudah terlebih dahulu meraih lengannya.

“Maafkan aku Momo. Hidupku sudah penuh dosa, jangan tambahi aku dengan dosa karena kau tak memaafkan aku.” Kata Hayato lirih, ia pasrah saat Momo akan melontarkan kata-kata amarah sekalipun. Suasana cafe yang sedikit lengang itu terlanjur menjadi pusat perhatian para pelayan cafe dengan adanya pertemuan Momo dan Hayato.

“Lepaskan aku Hayato. Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk pergi. Lalu untuk apa kau kembali lagi pada hidupku?” Momo menghempaskan tangannya dari cengkraman kuat Hayato.

“Aku ingin bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku mohon padamu, beri aku kesempatan lagi.”

“Maaf, Hayato. Aku sudah memberimu lebih dari berkali-kali kesempatan tapi kau sudah ingkari. Aku sudah memberimu pilihan untuk pergi dari hidupku. Jangan kau ganggu lagi hidupku dan juga anakku, Ayumi.”

“Tapi aku berhak membahagiakan Ayumi yang juga anakku.”

“Kau boleh bahagiakan Ayumi tapi tidak untuk hidup bersama.”

Kali ini Momo pergi meninggalkan Hayato sendirian di Cafe. Beberapa pelayan cafe melihat Hayato penuh kasihan. Ada juga beberapa yang melihat Hayato seperti seorang penjahat yang telah melukai hati seorang perempuan. Hayato mengakui kesalahannya di masalalu. Kesempatan yang diberi Momo sudah tak diberlakukannya lagi kali ini. wajah Hayato terlihat sedih. Hayato segera pergi meninggalkan cafe setelah sebelumnya ia menghabiskan dua gelas kopi susu kesukaannya. Bahkan ia tak sempat melihat Ayumi untuk yang terkahir kalinya.


SELESAI

0 comments:

Post a Comment