19 October 2014

Lewat Radio Cintaku Menyapa

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



            Gadis berambut ikal bergelombang bernama Dewi dari anak kelas 2 IPA  itu telah memanahkan panah asmaranya kepadaku. Dia gadis pintar, imut, baik, lucu dan ceria yang kukenal. Sudah sebulan ini aku mendekatinya dan tak cukup nyaliku untuk sekedar menyatakan rasa sayangku untuknya.

kami pulang bersama naik bus dan kebetulan rumah kami searah hanya saja rumahku lebih jauh. Tapi aku senang, dapat dipastikan Dewi sampai di rumah dengan selamat. Sehingga aku tak perlu cemas akan keselamatan Dewi setiap berangkat maupun pulang sekolah.

“Damar, kamu lagi suka lagunya siapa?” tanya Dewi menyeringai sesaat setelah naik bus dan duduk dekat jendela. Aku mengernyitkan keningku mencoba mengingat. Tapi sayangnya, aku tidak terlalu mengikuti lagu-lagu terbaru.

“Hehehe, sudah nggak usah dipikir Damar. Nanti malam dengerin radio Sonora ya.” Kata Dewi sambil tersenyum. Aku senang melihat Dewi tersenyum.

“Iya, nanti aku dengerin deh. Kirim-kiriman salam ya.” Kataku semangat, Dewi mengangguk cepat tanda setuju.
***
            Seperti janjiku kepada Dewi, aku sudah menghidupkan radioku sambil menemaniku belajar. Aku mendengarkan setiap orang-orang yang telpon sekedar kirim salam dan request lagu. Dan terdengar suara yang sudah tak asing lagi dari radio. Inilah yang aku tunggu dan aku nantikan.

“Aku Dewi, kirim salamnya buat teman-teman kelas 2 IPA dan spesialnya buat Damar. Request lagu boleh kak?” tanya Dewi kepada pembawa acara radio tersebut.

“Oh, tentu saja boleh dong Dewi. Mau request lagu siapa malam ini?”

“Lagunya AB-Three kerinduanku.”

Aku semakin tak sabar untuk segera menelpon berkirim salam untuk Dewi. Aku hanya mampu tersenyum sepanjang malam ini.  Mungkinkah Dewi merasakan hal yang sama denganku juga?

Kini setiap harinya aku dan Dewi selalu rajin berkirim salam melalui radio dan saling berkirim lagu. Itu hal menyenangkan yang aku lakukan bersama Dewi. Betapa tidak, cinta kami terpupuk bersama melalui radio. Aku pun semakin yakin, untuk segera mungkin menyatakan perasaanku kepada Dewi.

“Dew, aku sayang sama kamu. Sudah lama sejak kita bertemu pertama kali di sekolah.” Kataku tanpa ragu.

“Aku pun juga sama. Aku juga sayang sama kamu, Damar.”

            Spontan terdengar riuh suara dari anak-anak tanpa sadar sedari tadi, sudah banyak orang yang mengintip dan ingin tahu aksi penembakan cintaku kepada Dewi di sekolah. Sungguh aku seperti menjadi laki-laki sempurna saat cintaku pun terbalaskan oleh orang yang kusayang. Setelah jadian pun kami masih sering menyapa indahnya malam melalui radio. Lewat radiolah cintaku pun menyapa.

-SELESAI-


Cerpen ini diikutsertakan dalam tantangan dari @kampusfiksi #CerpenRadio #Jakarta, tahun 1995

0 comments:

Post a Comment