Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Haruka sedih
mendengar kenyataan kalau Kiyoshi sudah jadian dengan teman satu kelasnya
bernama Keiko. Keiko memang dikenal sebagai bintangnya kelas, tak hanya
berprestasi, ia juga dikenal cantik. Tapi satu yang membuatnya banyak tak di
senangi teman-temannya yaitu sifatnya yang angkuh.
Tak sengaja
saat Haruka pergi ke toilet, beberapa anak laki-laki beda kelas sedang
berkumpul di kantin, salah satunya Kiyoshi. Kiyoshi bercerita tentang Keiko
yang selalu tampil cantik dan menawan apalagi ia sangatlah feminin dan itulah
kenapa Kiyoshi menyukai Keiko yang menurutnya tampil sempurna.
“Hei,
Haru kau lihat apa?” tanya Ayako yang jelas membuat Haruka kaget. Haruka lalu
berlalu begitu saja tanpa menggubris lagi Ayako.
Di dalam
kelas, Haruka melihat penampilan Keiko yang memang menarik itu. dan Haruka
sadar ia tak secantik Keiko. Penampilannya benar-benar mirip anak laki-laki, ia
selalu memakai sepatu kats bertali itupun bekas dari Ryuu kakaknya. Haruka tak
pernah berani meminta sepatu seperti yang diinginkannya. Karena ia tak tega
dengan ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Haruka memandang
sedih ke arah kedua kakinya yang terbungkus sepatu kets yang sudah dekil, butut
dan itu pun sedikit kelonggaran.
“Hei,
Haru nanti mau belajar kelompok nggak sama aku?” Tanya Mitsuo sambil tersenyum.
Mitsuo satu-satunya teman yang peduli dengannya.
“Maaf,
Mitsuo hari ini aku nggak bisa. Aku mau pergi dulu ke suatu tempat. Besok kita
lanjutkan lagi belajar kelompoknya.” Kata Haruka, ada sedikit kekecewaan di
wajah Mitsuo. Sudah lama sejak di bangku SMP, ia menaruh hati dengan Haruka.
Tapi ia memendamnya, saat tahu Haruka menyukai Kiyoshi sejak dulu.
“Kau
mau pergi kemana, Haru?”
“hehehe,
maaf Mitsuo kali ini aku nggak bisa cerita.” Kata Haruka sedikit tersenyum.
***
Haruka
senang melihat flat shoes yang
terpajang di toko sepatu wanita dekat rumahnya. Haruka berseri-seri melihatnya,
ia memberanikan diri masuk ke toko tersebut. Dan ternyata diam-diam pulang
sekolah, Mitsuo mengikuti Haruka. Mitsuo lega ternyata Haruka hanya pergi ke
toko sepatu. Haruka memegang flat shoes
berpita berwarna pink cantik, ia melihat bandrol harganya seharga seratus ribu.
Haruka mendengus kesal, lagi-lagi harganya terlalu mahal.
“Kak,
bolehkah kau simpankan sepatu ini sampai aku mampu membelinya?” tanya Haruka
polos kepada mbak penjaga toko.
“Maaf,
dik tidak bisa.”
Mitsuo
sembunyi-sembunyi saat Haruka sedih keluar dari dalam toko sepatu. Ia melihat
sepatu yang baru saja di pegang Haruka. Mitsuo mengernyitkan dahi, bahkan uang
sakunya belum mampu membelikan sepatu kesukaan Haruka. Membiarkan Haruka sedih
berarti telah melukai hatinya sendiri. Mitsuo pun berjanji dalam hati untuk
mengumpulkan uang untuk membelikan sepatu idaman Haruka.
***
Haruka sedikit
terlambat datang ke sekolah dan yang lainnya sudah beranjak ke lapangan untuk
segera olahraga. Haruka mengernyitkan dahinya melihat sepatu yang tidak asing. Yap,
sepatu yang kemarin baru saja Haruka lihat dan ingin dimilikinya. Sudah berada
di bawah kolong meja milik Keiko. Haruka terlihat sedih, namun ia memikirkan
sesuatu rencana di luar akal sehatnya.
***
“Keiko..Keiko
kau kenapa menangis?” tanya Chika yang ikutan panik melihat sahabatnya menangis
sambil mencari sesuatu.
“Kau
tau sepatuku warna pink yang baru saja kubeli kemarin kan, Chik. Sekarang hilang,
aku tak tahu kemana” tanya Keiko sedikit tergugu sambil menahan tangisan.
“Astaga,
sepatu yang cantik itu hilang Keiko! Bukankah itu sepatu limited edition kata penjaga tokonya.”
Seluruh
isi kelas gempar atas hilangnya sepatu baru milik Keiko. Seluruh anak-anak
mencari kesana kemari sepatu berwarna pink itu. Termasuk Haruka ikut mencari
walau ia sebenarnya tak mencarinya secara sungguhan. Haruka sedikit was-was
takut kalau saja ketahuan. Dan akhirnya, sepatu warna pink itu tidak ketemu.
Haruka menghembuskan nafas panjang lega. Namun, ia tak tahu jika ada satu orang
yang selalu tahu apa yang dilakukannya.
“Haruka,
tolong kembalikan sepatu milik Keiko.” Seseorang telah mengetahui ulah Haruka. Ia
menoleh asal suara yang tak lain adalah Mitsuo. Haruka segera memasukan sepatu
pink itu ke dalam tas gendongnya. Setelah ia menyembunyikannya di ranjang
sampah toilet.
“Ini
milikku dan selamanya akan jadi milikku, Mitsuo!!!” bentak Haruka kepada
Mitsuo. Baru kali ini Haruka membentaknya tanpa sadar.
“Ayahmu
dan kak Ryuu tak pernah mengajarimu untuk mencuri kan, segera kembalikan sepatu
itu.” kata Mitsuo lembut. Haruka tak ambil pusing, ia justru menabrak Mitsuo
berjalan keluar untuk segera pulang. Nggak ada cara lain selain Mitsuo segera
membelikan sepatu untuk Haruka.
Mitsuo
menarik lengan Haruka secara paksa, ia mengajaknya ke sebuah toko sepatu dekat
rumahnya. Haruka sejenak terdiam di depan pintu masuk toko. Mitsuo mengajaknya
ke dalam toko untuk memilih sepatu yang diinginkan Haruka. Mitsuo juga tahu
kalo sepatu yang diinginkan Haruka memang sudah terbeli oleh Keiko.
“Pilihlah
yang kau suka, Haruka.”
“Aku
tidak mau.” Kata Haruka sambil menahan tangis. Mitsuo sebisa mungkin agar
Haruka tidak menangis, ia sayang betul dengannya.
“Aku
mohon jangan menangis, aku ingin membelikanmu sepatu untukmu, Haruka.”
Mitsuo berkeliling
memilih-milih sepatu yang cocok untuk Haruka. Haruka terduduk lesu masih
menahan tangis. Ia sedikit malu atas kejadian hari ini. Haruka malu sudah
mencuri sepatu milik Keiko. Mitsuo mengambil flat shoes berwarna coklat berpita
sederhana. Ia melepas sepatu kets kumal milik Haruka dan memakaikannya di kaki
Haruka. Mitsuo tersenyum, sepatu yang dipilihkannya cocok untuk Haruka.
“Apa
kau senang dengan sepatu ini, Haruka?” tanya Mitsuo penuh kasih sayang. Haruka
senang, kali ini ia tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia menangis di depan
Mitsuo.
Setelah
membayar sepatu untuk Haruka, Mitsuo segera mengantarkan Haruka pulang ke
rumah. Haruka baru sadar betapa Mitsuo selalu saja peduli dengannya, dan ia
tahu sepatunya ini tentu tidak murah. Namun, Mitsuo mampu membelikan untuk
Haruka. Mitsuo menggandeng tangan Haruka. Mereka berjalan pulang bersama untuk
kali pertamanya mereka bergandengan.
Akankah Haruka membuka hati pada sosok Mitsua, yang secara tak sadar ternyata ia adalah orang yang selalu peduli dengannya?
Akankah Haruka membuka hati pada sosok Mitsua, yang secara tak sadar ternyata ia adalah orang yang selalu peduli dengannya?
-bersambung...

0 comments:
Post a Comment