19 October 2014

Flat Shoes (Part 1)

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




Haruka sedih mendengar kenyataan kalau Kiyoshi sudah jadian dengan teman satu kelasnya bernama Keiko. Keiko memang dikenal sebagai bintangnya kelas, tak hanya berprestasi, ia juga dikenal cantik. Tapi satu yang membuatnya banyak tak di senangi teman-temannya yaitu sifatnya yang angkuh.

Tak sengaja saat Haruka pergi ke toilet, beberapa anak laki-laki beda kelas sedang berkumpul di kantin, salah satunya Kiyoshi. Kiyoshi bercerita tentang Keiko yang selalu tampil cantik dan menawan apalagi ia sangatlah feminin dan itulah kenapa Kiyoshi menyukai Keiko yang menurutnya tampil sempurna.

“Hei, Haru kau lihat apa?” tanya Ayako yang jelas membuat Haruka kaget. Haruka lalu berlalu begitu saja tanpa menggubris lagi Ayako.

Di dalam kelas, Haruka melihat penampilan Keiko yang memang menarik itu. dan Haruka sadar ia tak secantik Keiko. Penampilannya benar-benar mirip anak laki-laki, ia selalu memakai sepatu kats bertali itupun bekas dari Ryuu kakaknya. Haruka tak pernah berani meminta sepatu seperti yang diinginkannya. Karena ia tak tega dengan ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Haruka memandang sedih ke arah kedua kakinya yang terbungkus sepatu kets yang sudah dekil, butut dan itu pun sedikit kelonggaran.

“Hei, Haru nanti mau belajar kelompok nggak sama aku?” Tanya Mitsuo sambil tersenyum. Mitsuo satu-satunya teman yang peduli dengannya.

“Maaf, Mitsuo hari ini aku nggak bisa. Aku mau pergi dulu ke suatu tempat. Besok kita lanjutkan lagi belajar kelompoknya.” Kata Haruka, ada sedikit kekecewaan di wajah Mitsuo. Sudah lama sejak di bangku SMP, ia menaruh hati dengan Haruka. Tapi ia memendamnya, saat tahu Haruka menyukai Kiyoshi sejak dulu.

“Kau mau pergi kemana, Haru?”

“hehehe, maaf Mitsuo kali ini aku nggak bisa cerita.” Kata Haruka sedikit tersenyum.
***
Haruka senang melihat flat shoes yang terpajang di toko sepatu wanita dekat rumahnya. Haruka berseri-seri melihatnya, ia memberanikan diri masuk ke toko tersebut. Dan ternyata diam-diam pulang sekolah, Mitsuo mengikuti Haruka. Mitsuo lega ternyata Haruka hanya pergi ke toko sepatu. Haruka memegang flat shoes berpita berwarna pink cantik, ia melihat bandrol harganya seharga seratus ribu. Haruka mendengus kesal, lagi-lagi harganya terlalu mahal.

“Kak, bolehkah kau simpankan sepatu ini sampai aku mampu membelinya?” tanya Haruka polos kepada mbak penjaga toko.

“Maaf, dik tidak bisa.”

Mitsuo sembunyi-sembunyi saat Haruka sedih keluar dari dalam toko sepatu. Ia melihat sepatu yang baru saja di pegang Haruka. Mitsuo mengernyitkan dahi, bahkan uang sakunya belum mampu membelikan sepatu kesukaan Haruka. Membiarkan Haruka sedih berarti telah melukai hatinya sendiri. Mitsuo pun berjanji dalam hati untuk mengumpulkan uang untuk membelikan sepatu idaman Haruka.
***

Haruka sedikit terlambat datang ke sekolah dan yang lainnya sudah beranjak ke lapangan untuk segera olahraga. Haruka mengernyitkan dahinya melihat sepatu yang tidak asing. Yap, sepatu yang kemarin baru saja Haruka lihat dan ingin dimilikinya. Sudah berada di bawah kolong meja milik Keiko. Haruka terlihat sedih, namun ia memikirkan sesuatu rencana di luar akal sehatnya.

***
“Keiko..Keiko kau kenapa menangis?” tanya Chika yang ikutan panik melihat sahabatnya menangis sambil mencari sesuatu.

“Kau tau sepatuku warna pink yang baru saja kubeli kemarin kan, Chik. Sekarang hilang, aku tak tahu kemana” tanya Keiko sedikit tergugu sambil menahan tangisan.

“Astaga, sepatu yang cantik itu hilang Keiko! Bukankah itu sepatu limited edition kata penjaga tokonya.”

Seluruh isi kelas gempar atas hilangnya sepatu baru milik Keiko. Seluruh anak-anak mencari kesana kemari sepatu berwarna pink itu. Termasuk Haruka ikut mencari walau ia sebenarnya tak mencarinya secara sungguhan. Haruka sedikit was-was takut kalau saja ketahuan. Dan akhirnya, sepatu warna pink itu tidak ketemu. Haruka menghembuskan nafas panjang lega. Namun, ia tak tahu jika ada satu orang yang selalu tahu apa yang dilakukannya.

“Haruka, tolong kembalikan sepatu milik Keiko.” Seseorang telah mengetahui ulah Haruka. Ia menoleh asal suara yang tak lain adalah Mitsuo. Haruka segera memasukan sepatu pink itu ke dalam tas gendongnya. Setelah ia menyembunyikannya di ranjang sampah toilet.

“Ini milikku dan selamanya akan jadi milikku, Mitsuo!!!” bentak Haruka kepada Mitsuo. Baru kali ini Haruka membentaknya tanpa sadar.

“Ayahmu dan kak Ryuu tak pernah mengajarimu untuk mencuri kan, segera kembalikan sepatu itu.” kata Mitsuo lembut. Haruka tak ambil pusing, ia justru menabrak Mitsuo berjalan keluar untuk segera pulang. Nggak ada cara lain selain Mitsuo segera membelikan sepatu untuk Haruka.
Mitsuo menarik lengan Haruka secara paksa, ia mengajaknya ke sebuah toko sepatu dekat rumahnya. Haruka sejenak terdiam di depan pintu masuk toko. Mitsuo mengajaknya ke dalam toko untuk memilih sepatu yang diinginkan Haruka. Mitsuo juga tahu kalo sepatu yang diinginkan Haruka memang sudah terbeli oleh Keiko.

“Pilihlah yang kau suka, Haruka.”

“Aku tidak mau.” Kata Haruka sambil menahan tangis. Mitsuo sebisa mungkin agar Haruka tidak menangis, ia sayang betul dengannya.

“Aku mohon jangan menangis, aku ingin membelikanmu sepatu untukmu, Haruka.”

Mitsuo berkeliling memilih-milih sepatu yang cocok untuk Haruka. Haruka terduduk lesu masih menahan tangis. Ia sedikit malu atas kejadian hari ini. Haruka malu sudah mencuri sepatu milik Keiko. Mitsuo mengambil flat shoes berwarna coklat berpita sederhana. Ia melepas sepatu kets kumal milik Haruka dan memakaikannya di kaki Haruka. Mitsuo tersenyum, sepatu yang dipilihkannya cocok untuk Haruka.

“Apa kau senang dengan sepatu ini, Haruka?” tanya Mitsuo penuh kasih sayang. Haruka senang, kali ini ia tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia menangis di depan Mitsuo.

Setelah membayar sepatu untuk Haruka, Mitsuo segera mengantarkan Haruka pulang ke rumah. Haruka baru sadar betapa Mitsuo selalu saja peduli dengannya, dan ia tahu sepatunya ini tentu tidak murah. Namun, Mitsuo mampu membelikan untuk Haruka. Mitsuo menggandeng tangan Haruka. Mereka berjalan pulang bersama untuk kali pertamanya mereka bergandengan.

Akankah Haruka membuka hati pada sosok Mitsua, yang secara tak sadar ternyata ia adalah orang yang selalu peduli dengannya?


-bersambung...

0 comments:

Post a Comment