Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Senyumnya
pun masih sama seperti yang dulu. Aku mencoba menguatkan seluruh hati agar Nura
tak lagi singgah dalam hati ini. Reunian SMA putaran kelima, kami duduk-duduk
dengan leluasa di sebuah pemancingan ikan bersama teman-teman yang lain. Sesekali
Nura menoleh ke arahku sambil tersenyum. Senyuman itu menghipnotisku sehingga
aku ingin mendekatinya. Oh tidak, janganlah Mam, pikirku. Aku tetap mendekati
Nura tak mampu lagi aku untuk mengontrol langkah kakiku untuk berhenti
melangkah.
“Hei,
Mam. Kamu apa kabar?” tanya Nura sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman,
aku menerima uluran tangannya. Sejenak kami pun berjabat tangan agak lama.
Mungkin sekitar sepuluh detik.
“Eh,
maaf. Emm...ka...kabarku ba..baik Nura. Kamu?” tanyaku dan aku sedikit salah
tingkah dibuatnya. Nura hanya terkekeh-kekeh geli.
“Haha,
kabar baik Umam. Gimana sudah lulus belum S1 nya?” pertanyaan Nura yang sedikit
tak ingin kudengar dan tak ingin kujawab.
“Eiya,
denger-denger kamu udah nikah Nura?” kataku mengalihkan pembicaraanku. Nura
sedikit mengernyitkan dahi.
“Umm,
gosip darimana itu. Haha, jangan termakan gosip murahan Umam.” Kata Nura dengan
nada khas yang ceria. Inilah yang selalu membuatku rindu dengannya, caranya
berbicara tak berubah sedikitpun meski kita sudah tiga tahun lebih tak bertemu.
“Hehe,
ya aku juga Cuma denger-denger kok Nura. Bagaimana kabar Ibumu?” tanyaku,
mendadak Nura menghentikan senyumnya. Dan menarik nafas panjang dan dalam.
“Ibu,
sudah bahagia Umam. Bahagia di surga-Nya.” Kata Nura sedikit terlihat
berkaca-kaca. Aku jadi tak enak hati, aku benar-benar kehilangan komunikasi sejak
aku berpisah dengan Nura. Nura gadis yang baik dan aku tega meninggalkannya.
“Maaf,
Nura.”
“Sudahlah,
Umam. Hidup kita terus berjalan ke depan. Semua yang pergi dan datang adalah
proses kehidupan yang harus kita lalui. Begitu juga saat aku bertemu lagi denganmu,
hari ini.”
Perasaan
macam apa ini, hatiku terasa ngilu sekali. Aku merindukan Nura dan baru kali
ini aku bisa bertemu dengannya semenjak aku pindah ke Jakarta. Alih-alih alasan
reunianlah yang mampu membawaku ke kota kenangan indah ini. Jogjakarta terlalu
istimewa untuk mengukir setiap kisah yang aku lalui bersama Nura.
“Hei-hei
kalian seperti sedang bernostalgia ya?”hehehe.” ejek Mina saat melihatku dengan
Nura sedang duduk berdua. Aku hanya tersenyum.
“Hei,
kamu Mina sirik aja sih. Kalo pengen ikut duduk disini bersamaku dan Umam.”
Ajak Nura sambil terus melengkungkan senyuman manisnya.
“Ah,
tidak aku tidak mau mengganggu kalian.” Kata Mina berlalu sambil membawa alat
pancingnya.
Aku tertunduk
lesu, ada kata yang ingin aku sampaikan dengan Nura, namun bibir ini mengatup
terlalu rapat. Nura juga kembali terdiam sambil sesekali melihat ke kolam ikan
di depannya. Matanya memandang jauh tak bermakna seperti ada yang ia pikirkan. Aku
senang melihat Nura disini bersamaku.
“Apa
kau bahagia Umam?” tanya Nura yang memecahkan lamunanku. Aku tak tahu harus
menjawab apa. Aku tak ingin menjawabnya sama sekali masalah ini.
“Seharusnya
yang tanya itu aku, Nura.”
“Tidak,
karena kalo kamu bahagia aku ikut bahagia, Umam.” Kata Nura kembali tersenyum. Bagiku semuanya
memang sudah berlalu dan benar-benar berlalu, seandainya masih ada ruang kosong
di hati Nura untukku. Ahh,,pikiran macam apa ini, bahkan aku tak sempat
memikirkan Luna, anakku di Jakarta.
***
Seusai memancing,
semua ikan-ikan yang diperoleh pun dimasak dengan enak. Kini pun sudah tersaji
di meja. Teman-teman pun sudah berkumpul di meja makan yang sudah disediakan. Aku
dan Nura pun terakhir datang untuk berkumpul bersama yang lain. Seketika mereka
memandang ke arah kami. Aku pun tak enak di buat mereka, sedangkan Nura sekali
lagi tetap tersenyum tak sedikitpun ia mendengus kesal.
“Padahal
daridulu aku mendukung sekali hubungan kalian.” Kata Hasto dan seseorang di
sebelahnya seperti mencubitnya sehingga ia pun seketika terdiam sambil menahan
tawa.
“Sudah,
sudah yang penting hubungan mereka tetap baik-baik saja kan?” kata Wisnu
menimpali, yang lain hanya manggut-manggut tanda setuju.
“Oiya,
katanya kita ada kabar baik dari Nura. Emangnya kabar baik sih, Nura?” tanya
Puput seketika membuatku penasaran, bahkan aku tak tahu menahu ada kabar baik
dari Nura.
Sejenak
kabar baik itu pun di tunda setelah makan-makan selesai. Firasatku sedikit
aneh, ada apa sebenarnya ini. Makanku pun hanya sedikit saja. Nura makan dengan
lahap, sepertinya ia memang sedang bahagia. Rasanya aku tak ingin mendengarnya.
Egois sekali memang diriku ini.
“Kamu
kenapa Umam?makanmu sedikit sekali.” Tanya Diah yang duduk di sebelahku.
“Nggak
papa, Diyah. Aku hanya sedikit kembung kebayakan minum es teh barusan.” Kataku bohong.
Seusai makan,
sepertinya semua sudah siap-siap mendengar kabar bahagia dari Nura. Nura
terburu-buru mengeluarkan setumpuk kertas, bukan itu bukan kertas melainkan
undangan pernikahan. Aku pun mulai keringat dingin, mungkin seperti inikah saat
aku dulu meninggalkan Nura. Mengapa begitu sakit, maafkan aku Nura.
“Teman-teman
ini ada undangan pernikahanku. Dimohon kehadirannya ya besok minggu.” Kata Nura.
“Ciyee...ciyee
akhirnya Nura menikah juga.”
Aku menelan
ludahku, sebisaku aku tersenyum dan memperlihatkan sisi gagahku untuk tetap
berharap aku baik-baik saja. Tidak, hatiku tak sekuat batu sekalipun. Aku sedikit
gemetar, apa yang terjadi padaku. Ketika pernikahanku sendiri berakhir di meja
hijau, kini Nura akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain. Dan, sedikit
tak percaya saat aku melihat nama calon mempelai laki-laki. WISNU ANGGARA. Dia adalah
teman kami juga sewaktu SMA.
“Datang
ya Umam.” Kata Nura dengan wajah berseri-seri.
Akankah Umam datang ke pernikahan Nura?
-bersambung...

0 comments:
Post a Comment