19 October 2014

Cinta Yang Lalu (Part 1)

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




Senyumnya pun masih sama seperti yang dulu. Aku mencoba menguatkan seluruh hati agar Nura tak lagi singgah dalam hati ini. Reunian SMA putaran kelima, kami duduk-duduk dengan leluasa di sebuah pemancingan ikan bersama teman-teman yang lain. Sesekali Nura menoleh ke arahku sambil tersenyum. Senyuman itu menghipnotisku sehingga aku ingin mendekatinya. Oh tidak, janganlah Mam, pikirku. Aku tetap mendekati Nura tak mampu lagi aku untuk mengontrol langkah kakiku untuk berhenti melangkah.

“Hei, Mam. Kamu apa kabar?” tanya Nura sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman, aku menerima uluran tangannya. Sejenak kami pun berjabat tangan agak lama. Mungkin sekitar sepuluh detik.

“Eh, maaf. Emm...ka...kabarku ba..baik Nura. Kamu?” tanyaku dan aku sedikit salah tingkah dibuatnya. Nura hanya terkekeh-kekeh geli.

“Haha, kabar baik Umam. Gimana sudah lulus belum S1 nya?” pertanyaan Nura yang sedikit tak ingin kudengar dan tak ingin kujawab.

“Eiya, denger-denger kamu udah nikah Nura?” kataku mengalihkan pembicaraanku. Nura sedikit mengernyitkan dahi.

“Umm, gosip darimana itu. Haha, jangan termakan gosip murahan Umam.” Kata Nura dengan nada khas yang ceria. Inilah yang selalu membuatku rindu dengannya, caranya berbicara tak berubah sedikitpun meski kita sudah tiga tahun lebih tak bertemu.

“Hehe, ya aku juga Cuma denger-denger kok Nura. Bagaimana kabar Ibumu?” tanyaku, mendadak Nura menghentikan senyumnya. Dan menarik nafas panjang dan dalam.

“Ibu, sudah bahagia Umam. Bahagia di surga-Nya.” Kata Nura sedikit terlihat berkaca-kaca. Aku jadi tak enak hati, aku benar-benar kehilangan komunikasi sejak aku berpisah dengan Nura. Nura gadis yang baik dan aku tega meninggalkannya.

“Maaf, Nura.”

“Sudahlah, Umam. Hidup kita terus berjalan ke depan. Semua yang pergi dan datang adalah proses kehidupan yang harus kita lalui. Begitu juga saat aku bertemu lagi denganmu, hari ini.”

Perasaan macam apa ini, hatiku terasa ngilu sekali. Aku merindukan Nura dan baru kali ini aku bisa bertemu dengannya semenjak aku pindah ke Jakarta. Alih-alih alasan reunianlah yang mampu membawaku ke kota kenangan indah ini. Jogjakarta terlalu istimewa untuk mengukir setiap kisah yang aku lalui bersama Nura.

“Hei-hei kalian seperti sedang bernostalgia ya?”hehehe.” ejek Mina saat melihatku dengan Nura sedang duduk berdua. Aku hanya tersenyum.

“Hei, kamu Mina sirik aja sih. Kalo pengen ikut duduk disini bersamaku dan Umam.” Ajak Nura sambil terus melengkungkan senyuman manisnya.

“Ah, tidak aku tidak mau mengganggu kalian.” Kata Mina berlalu sambil membawa alat pancingnya.

Aku tertunduk lesu, ada kata yang ingin aku sampaikan dengan Nura, namun bibir ini mengatup terlalu rapat. Nura juga kembali terdiam sambil sesekali melihat ke kolam ikan di depannya. Matanya memandang jauh tak bermakna seperti ada yang ia pikirkan. Aku senang melihat Nura disini bersamaku.

“Apa kau bahagia Umam?” tanya Nura yang memecahkan lamunanku. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak ingin menjawabnya sama sekali masalah ini.
“Seharusnya yang tanya itu aku, Nura.”

“Tidak, karena kalo kamu bahagia aku ikut bahagia, Umam.”  Kata Nura kembali tersenyum. Bagiku semuanya memang sudah berlalu dan benar-benar berlalu, seandainya masih ada ruang kosong di hati Nura untukku. Ahh,,pikiran macam apa ini, bahkan aku tak sempat memikirkan Luna, anakku di Jakarta.
***
Seusai memancing, semua ikan-ikan yang diperoleh pun dimasak dengan enak. Kini pun sudah tersaji di meja. Teman-teman pun sudah berkumpul di meja makan yang sudah disediakan. Aku dan Nura pun terakhir datang untuk berkumpul bersama yang lain. Seketika mereka memandang ke arah kami. Aku pun tak enak di buat mereka, sedangkan Nura sekali lagi tetap tersenyum tak sedikitpun ia mendengus kesal.

“Padahal daridulu aku mendukung sekali hubungan kalian.” Kata Hasto dan seseorang di sebelahnya seperti mencubitnya sehingga ia pun seketika terdiam sambil menahan tawa.

“Sudah, sudah yang penting hubungan mereka tetap baik-baik saja kan?” kata Wisnu menimpali, yang lain hanya manggut-manggut tanda setuju.

“Oiya, katanya kita ada kabar baik dari Nura. Emangnya kabar baik sih, Nura?” tanya Puput seketika membuatku penasaran, bahkan aku tak tahu menahu ada kabar baik dari Nura.

Sejenak kabar baik itu pun di tunda setelah makan-makan selesai. Firasatku sedikit aneh, ada apa sebenarnya ini. Makanku pun hanya sedikit saja. Nura makan dengan lahap, sepertinya ia memang sedang bahagia. Rasanya aku tak ingin mendengarnya. Egois sekali memang diriku ini.

“Kamu kenapa Umam?makanmu sedikit sekali.” Tanya Diah yang duduk di sebelahku.

“Nggak papa, Diyah. Aku hanya sedikit kembung kebayakan minum es teh barusan.” Kataku bohong.

Seusai makan, sepertinya semua sudah siap-siap mendengar kabar bahagia dari Nura. Nura terburu-buru mengeluarkan setumpuk kertas, bukan itu bukan kertas melainkan undangan pernikahan. Aku pun mulai keringat dingin, mungkin seperti inikah saat aku dulu meninggalkan Nura. Mengapa begitu sakit, maafkan aku Nura.

“Teman-teman ini ada undangan pernikahanku. Dimohon kehadirannya ya besok minggu.” Kata Nura.

“Ciyee...ciyee akhirnya Nura menikah juga.”

Aku menelan ludahku, sebisaku aku tersenyum dan memperlihatkan sisi gagahku untuk tetap berharap aku baik-baik saja. Tidak, hatiku tak sekuat batu sekalipun. Aku sedikit gemetar, apa yang terjadi padaku. Ketika pernikahanku sendiri berakhir di meja hijau, kini Nura akan melangsungkan pernikahan dengan orang lain. Dan, sedikit tak percaya saat aku melihat nama calon mempelai laki-laki. WISNU ANGGARA. Dia adalah teman kami juga sewaktu SMA.

“Datang ya Umam.” Kata Nura dengan wajah berseri-seri.

Akankah Umam datang ke pernikahan Nura?

-bersambung...

0 comments:

Post a Comment