8 October 2014

Bukan Salah Cinta

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi

Apa ada yang salah dengan kita, apa kita salah jika kita saling menyukai lebih dari seorang teman, apa salah jika cinta ada dan terlanjur dirajut bersama dengan perasaan yang mulai terbiasa dengan kehadirannya, apa itu merupakan kesalahan kita jika rasa itu harus ada diantara kita, dan apa itu semua wajib disalahkan.

Kau bahkan memilih untuk berpaling saat orang-orang seakan mengutuk perasaan kita, kau tak perjuangkan sebuah perasaan yang terlanjur tertanam sadis dan kau membiarkan kita harus terluka dengan penyerahanmu kepada keadaan. Mengapa kau tak biarkan celotehan mereka yang memporak porandakan perasaan kita, mengapa tak kau tutup saja mata dan telingamu jika itu mengganggumu. Bukankah kau terluka dengan keputusanmu ini, tapi mengapa?

Bahkan kau tak mampu menutup mata dan telingamu, kau biarkan dua indera itu terus menganga membiarkan semua itu tercerna dalam kepalamu. Mengapa tak kau pikirkan dengan hatimu, bagaimana hatimu saat itu pasti terasa sakit dan sesak. Yah, aku merasakan itu dan aku lah orang yang paling tersakiti atas peristiwa itu. sesuatu yang tak mampu dipaksakan untuk terus berjalan sesuai dengan harapan, sesuatu yang tak mampu berjalan dengan irama yang sama, kau bahkan berlari tak lagi menarik tanganku untuk berlari bersama. Kau berlari sendirian meninggalkan bayanganku dan aku hanya mampu menatapmu di belakang. Betapa pedihnya saat itu, kau tinggalkan aku dan biarkan aku menangis sejadinya tanpa lagi kau toleh ke arahku untuk sekedar melihatku ‘apakah aku baik-baik saja atau tidak ?’.

Cinta memang tak pernah salah, hanya saja kita yang tak memahami suatu masalah dengan bijak yang terkadang keputusan itu akan terjadi karena keegoisan sendiri. Aku tak pernah peduli dengan masalaluku bersama kawanmu, tak pernahkah kau percayai itu. kau bahkan menutup telingamu untuk sekedar mendengar penjelasanku, kau bahkan menutup hatimu seakan kau tak mau dengan perasaanku. Lalu dimana letak manusiawi-mu? Apakah kau benda mati ataukah makhluk hidup yang pura-pura mati?

Aku tahu cinta tak harus memiliki, kejadian ini menyadarkanku lebih jauh lagi untuk sadar. Ketika aku mencintai orang yang tak tepat lagi, aku harus mau tak mau menerima sakit hati ini. Dan kini biarkan rasa ini tertimbun bersama waktu yang terus berjalan. Bahagialah kamu dengan keputusanmu ini, aku sudah tak ingin mengingatmu lagi. Biarlah kenangan itu berlalu tanpa perlu kau dan aku membuka kenangan ini kembali.

“Biarkan wanita rapuh ini melangkahkan kaki kecilnya untuk segera meninggalkan kenangan sedih ini. Biarlah luka ini begini adanya dan mengering dengan sendirinya tanpa perlu kau tawarkan perban untuk luka hati ini.”




0 comments:

Post a Comment