Oleh:
Lilih
Putri Pratiwi
Apa ada
yang salah dengan kita, apa kita salah jika kita saling menyukai lebih dari
seorang teman, apa salah jika cinta ada dan terlanjur dirajut bersama dengan
perasaan yang mulai terbiasa dengan kehadirannya, apa itu merupakan kesalahan
kita jika rasa itu harus ada diantara kita, dan apa itu semua wajib disalahkan.
Kau bahkan
memilih untuk berpaling saat orang-orang seakan mengutuk perasaan kita, kau tak
perjuangkan sebuah perasaan yang terlanjur tertanam sadis dan kau membiarkan
kita harus terluka dengan penyerahanmu kepada keadaan. Mengapa kau tak biarkan
celotehan mereka yang memporak porandakan perasaan kita, mengapa tak kau tutup
saja mata dan telingamu jika itu mengganggumu. Bukankah kau terluka dengan
keputusanmu ini, tapi mengapa?
Bahkan kau
tak mampu menutup mata dan telingamu, kau biarkan dua indera itu terus menganga
membiarkan semua itu tercerna dalam kepalamu. Mengapa tak kau pikirkan dengan
hatimu, bagaimana hatimu saat itu pasti terasa sakit dan sesak. Yah, aku
merasakan itu dan aku lah orang yang paling tersakiti atas peristiwa itu.
sesuatu yang tak mampu dipaksakan untuk terus berjalan sesuai dengan harapan,
sesuatu yang tak mampu berjalan dengan irama yang sama, kau bahkan berlari tak
lagi menarik tanganku untuk berlari bersama. Kau berlari sendirian meninggalkan
bayanganku dan aku hanya mampu menatapmu di belakang. Betapa pedihnya saat itu,
kau tinggalkan aku dan biarkan aku menangis sejadinya tanpa lagi kau toleh ke
arahku untuk sekedar melihatku ‘apakah aku baik-baik saja atau tidak ?’.
Cinta memang
tak pernah salah, hanya saja kita yang tak memahami suatu masalah dengan bijak
yang terkadang keputusan itu akan terjadi karena keegoisan sendiri. Aku tak
pernah peduli dengan masalaluku bersama kawanmu, tak pernahkah kau percayai
itu. kau bahkan menutup telingamu untuk sekedar mendengar penjelasanku, kau
bahkan menutup hatimu seakan kau tak mau dengan perasaanku. Lalu dimana letak
manusiawi-mu? Apakah kau benda mati ataukah makhluk hidup yang pura-pura mati?
Aku tahu
cinta tak harus memiliki, kejadian ini menyadarkanku lebih jauh lagi untuk sadar.
Ketika aku mencintai orang yang tak tepat lagi, aku harus mau tak mau menerima
sakit hati ini. Dan kini biarkan rasa ini tertimbun bersama waktu yang terus
berjalan. Bahagialah kamu dengan keputusanmu ini, aku sudah tak ingin
mengingatmu lagi. Biarlah kenangan itu berlalu tanpa perlu kau dan aku membuka
kenangan ini kembali.
“Biarkan wanita rapuh ini melangkahkan kaki kecilnya untuk segera
meninggalkan kenangan sedih ini. Biarlah luka ini begini adanya dan mengering
dengan sendirinya tanpa perlu kau tawarkan perban untuk luka hati ini.”

0 comments:
Post a Comment