Oleh:
Widi...
Disaat aku
masih saja terus mengingatmu, mungkin kau sudah tak lagi mengingatku. Rasanya masih
terngiang-ngiang segala canda dan gurauanmu kala itu. Dan kini hanya sebatas
memori dariku yang belum mampu terhapus waktu.
Widi...
Disaat aku
masih terus mencintaimu, mungkin kau sudah mencintai yang lain. Aku mencoba
merelakan kepergianmu. Aku mencoba tegar dengan segala kemampuanku untuk
menerima kenyataan bahwa kau memutuskan untuk pergi dariku.
Widi...
Disaat aku
masih saja menangisi kepergianmu, mungkin saat ini kau sudah bahagia dan mampu
membuka canda dan tawamu kembali. Disaat inilah aku merasa paling tak bisa
untuk terus berusaha tersenyum dan tertawa. Hati ini masih terasa pilu
mengingat kau lagi-lagi sudah tiada kabar.
Widi...
Disaat kau
sudah kembali menemukan belahan hatimu kini, aku masih saja tersayat sembilu
memikirkanmu. Kau yang telah merampas harapan-harapan indah itu menjadi
harapan-harapan semu kosong yang tak akan berwujud nyata.
Widi...
Aku masih
mencintai dan terus saja menyayangimu, walau sudah bercampur dengan perasaan
benci. Seringkali aku berdoa agar aku menghapus rasa benci ini. Namun, aku
belum mampu untuk melakukannya.
Widi,,,
Semua janjimu,
semua harapan-harapan indah yang pernah kau ukir untukku, biarlah aku yang
menikmatinya. Menikmati dengan segala rasa yang tertinggal, dan kenyataan pahit
yang harus aku terima. Mungkin aku terlalu dalam merasakan perasaan ini, hingga
sulit bagiku untuk membunuh perasaan ini.
“Terima kasih atas segala memori-memori indah yang sempat
kau hadirkan dalam hidupku, walau kini harus menjadi impian belaka. Biarlah
Tuhan yang melanjutkan kisah kita masing-masing dengan jalan kehidupan kita yang
berbeda....”

yang sabar ya ukht,,, :)
ReplyDelete:) iya makasih yaa suportnyaa......
ReplyDelete