7 September 2014

Sepotong Hati Untuk Kekasih



Oleh:
Lilih Putri Pratiwi





Widi...
Disaat aku masih saja terus mengingatmu, mungkin kau sudah tak lagi mengingatku. Rasanya masih terngiang-ngiang segala canda dan gurauanmu kala itu. Dan kini hanya sebatas memori dariku yang belum mampu terhapus waktu.

Widi...
Disaat aku masih terus mencintaimu, mungkin kau sudah mencintai yang lain. Aku mencoba merelakan kepergianmu. Aku mencoba tegar dengan segala kemampuanku untuk menerima kenyataan bahwa kau memutuskan untuk pergi dariku.

Widi...
Disaat aku masih saja menangisi kepergianmu, mungkin saat ini kau sudah bahagia dan mampu membuka canda dan tawamu kembali. Disaat inilah aku merasa paling tak bisa untuk terus berusaha tersenyum dan tertawa. Hati ini masih terasa pilu mengingat kau lagi-lagi sudah tiada kabar.

Widi...
Disaat kau sudah kembali menemukan belahan hatimu kini, aku masih saja tersayat sembilu memikirkanmu. Kau yang telah merampas harapan-harapan indah itu menjadi harapan-harapan semu kosong yang tak akan berwujud nyata.

Widi...
Aku masih mencintai dan terus saja menyayangimu, walau sudah bercampur dengan perasaan benci. Seringkali aku berdoa agar aku menghapus rasa benci ini. Namun, aku belum mampu untuk melakukannya. 

Widi,,,
Semua janjimu, semua harapan-harapan indah yang pernah kau ukir untukku, biarlah aku yang menikmatinya. Menikmati dengan segala rasa yang tertinggal, dan kenyataan pahit yang harus aku terima. Mungkin aku terlalu dalam merasakan perasaan ini, hingga sulit bagiku untuk membunuh perasaan ini.



“Terima kasih atas segala memori-memori indah yang sempat kau hadirkan dalam hidupku, walau kini harus menjadi impian belaka. Biarlah Tuhan yang melanjutkan kisah kita masing-masing dengan jalan kehidupan kita yang berbeda....”



2 comments: