7 September 2014

Sebuah Hati



Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



Ketika sebuah kata harus terhenti untuk berucap, tak peduli seberapa rasa sakit yang harus diderita. Rindu yang terus terpupuk harus dibunuh setiap kali terasa sesak di dada. Kali ini aku harus mampu menguasai hatiku sendiri. Melawan rasa pilu setiap kali mengingat kenangan-kenangan yang indah itu.

Aku tak peduli dengan rasa yang serba salah ini. Aku tak mungkin terus mencintaimu lebih lama lagi. Aku tak ingin merasakan perih luka yang seringkali kau goreskan dengan paksa. Setiap kali kau berusaha membuatku benci akan selalu ada sisa airmata yang terus terbendung.

Sungguh, aku tak ingin membencimu. Namun, keadaan yang memaksaku harus melakukannya. Inilah caraku agar ku melupakanmu dan membiarkan rasa ini menguap. Aku tak ingin mulut ini terlalu banyak kata amarah yang berujung pilu untukmu. Maafkan aku untuk semua rasa amarahku kini.

Waktu akan membawaku terbiasa kembali dengan kesendirian ini. Aku akan membuang segala rasa yang perih ini. Aku tak sanggup memaksa diri ini terus berada disisimu. Maafkan atas kepergianku kini, aku akan melanjutkan hidupku untuk menemukan kebahagiaanku sendiri. Walau kini aku harus membencimu, maafkan aku.

0 comments:

Post a Comment