23 September 2014

Membalut Luka

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi

Sendiri bukan berarti tak ingin kunikmati bersamamu lagi. Aku terlalu menikmati kebersamaan yang kau rajut untukku. Sekali lagi aku ingin melihatmu dan katakanlah apa yang ingin kau katakan. Aku ingin kau mengatakan sesungguhnya dan sejujurnya tentang apa yang terjadi. Katakan meski itu harus menyakiti hatiku sendiri.

Aku membenci kepalsuan, andai saja ada undang-undang bagi yang menyakiti hati seorang perempuan karena mempermainkan perasaan. Andai saja itu ada, aku akan segera menuntutmu di meja pengadilan dan kau akan kuhukum gantung. Biar saja kau merasakan sakit yang tak seorang pun akan menolongmu. Kejam memang.

Bukankah kekejaman ini kau yang ciptakan, mengapa harus aku yang kau korbankan. Mengapa harus perasaanku yang harus kau tikam dalam-dalam, bukankah ini juga sebuah kejahatan yang sangat jahat. Mengapa kau pergi begitu saja tanpa ada alasan yang tepat. Seharusnya kau biarkan aku dulu melihatku menikam hatiku dengan sebilah pisau baru kau boleh pergi meninggalkanku.

Bahkan ini terlalu mudah untukmu meninggalkanku, mengapa betapa mudahnya kau khianati sebuah perasaan yang tak seharusnya kau sakiti. Jika aku mempunyai kesalahan yang membuatmu sakit hati katakanlah. Kau tak lebih dari buaya darat yang tak tahu malu. Bahkan kebencian ini kaulah yang ciptakan, aku tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aku takkan mengingatmu lagi, biarlah kubalut luka ini sendirian hingga benar-benar seseorang melepaskan balutan luka ini di hatiku.




2 comments:

  1. Wah makasih ya mbak udah berkunjung ke blog aq .. ni udah aq follow,, bagus bagus ceritanya ya :)

    ReplyDelete
  2. Wihihihi...iya makasih ya mas udah follow dan sempat berkunjung...salam kenal aja :)

    ReplyDelete