Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Sendiri
bukan berarti tak ingin kunikmati bersamamu lagi. Aku terlalu menikmati
kebersamaan yang kau rajut untukku. Sekali lagi aku ingin melihatmu dan
katakanlah apa yang ingin kau katakan. Aku ingin kau mengatakan sesungguhnya
dan sejujurnya tentang apa yang terjadi. Katakan meski itu harus menyakiti
hatiku sendiri.
Aku membenci
kepalsuan, andai saja ada undang-undang bagi yang menyakiti hati seorang
perempuan karena mempermainkan perasaan. Andai saja itu ada, aku akan segera
menuntutmu di meja pengadilan dan kau akan kuhukum gantung. Biar saja kau
merasakan sakit yang tak seorang pun akan menolongmu. Kejam memang.
Bukankah
kekejaman ini kau yang ciptakan, mengapa harus aku yang kau korbankan. Mengapa harus
perasaanku yang harus kau tikam dalam-dalam, bukankah ini juga sebuah kejahatan
yang sangat jahat. Mengapa kau pergi begitu saja tanpa ada alasan yang tepat.
Seharusnya kau biarkan aku dulu melihatku menikam hatiku dengan sebilah pisau
baru kau boleh pergi meninggalkanku.
Bahkan ini
terlalu mudah untukmu meninggalkanku, mengapa betapa mudahnya kau khianati
sebuah perasaan yang tak seharusnya kau sakiti. Jika aku mempunyai kesalahan
yang membuatmu sakit hati katakanlah. Kau tak lebih dari buaya darat yang tak
tahu malu. Bahkan kebencian ini kaulah yang ciptakan, aku tak mau tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Mungkin aku takkan mengingatmu lagi, biarlah kubalut luka
ini sendirian hingga benar-benar seseorang melepaskan balutan luka ini di
hatiku.

Wah makasih ya mbak udah berkunjung ke blog aq .. ni udah aq follow,, bagus bagus ceritanya ya :)
ReplyDeleteWihihihi...iya makasih ya mas udah follow dan sempat berkunjung...salam kenal aja :)
ReplyDelete