Oleh:
Lilih
Putri Pratiwi
Bagaimana
hari-harimu disana, masih terasa menyenangkankah. Bagaimana keadaanmu disana,
baik-baik sajakah. Jika malam minggu kini, kau masih saja terasa sepi, bahkan
aku merasakan hal yang sama denganmu. Malam-malam terasa sunyi, tiada nada
dering telepon memanggil darimu lagi, tiada pesan-pesan singkat yang sekedar mampir bertegur sapa lagi. Semua
hilang dan sirna dalam sekejap, tiada kata bahkan tiada bayangan yang melintas
lagi tentang dirimu.
Bagaimana
sebegitu mudahnya kau menghilang kini, bahkan aku tak sehebat dirimu yang cepat
melupakanku. Bahkan aku masih sering mengingatmu, dan terasa sekali ada yang hilang seketika saat kau tak ada disisi
lagi. Bolehkah, malam minggu ini aku sekedar menyapamu, aku berharap kau
baik-baik saja disana.
Mungkin
saat ini kau sudah membagi hatimu dengan yang lainnya. Tak mengapa asalkan kau
bahagia. Tak mengapa jika aku harus merasakan ini sendirian. Merindukanmu setiap
kali aku teringat olehmu. Hanya doa yang mampu kulantunkan untukmu, berharap
Tuhan menyampaikan rinduku melalui bahasa kalbu dan melalui radarmu.
Aku tak
tahu pasti bagaimana dirimu kini. Aku hanya merasakan apa yang kurasakan. Aku tak
peduli kau merasakannya atau tidak, yang jelas aku hanya mampu mengeluarkan
sekedar isi hati dan isi kepalaku yang selalu saja mengganjal bila tak
kutuangkan dalam kata-kata. Aku takkan datang pada hidupmu lagi, aku tak ingin
kau merasakan beban saat aku hadir dalam hidupmu, mungkin kepergianku ini
adalah yang kau harapkan. Dan aku akan melakukannya untukmu, Widi.


0 comments:
Post a Comment