18 September 2014

Bukan Lelaki Pecundang

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



Lelaki bernama Ervan itu mulai mengepulkan asap rokok yang sudah lima menit yang lalu tersulut oleh korek api. Mengepul dan terus mengudara memenuhi ruangan yang tak cukup luas itu. Dia terus saja menghisap puntung rokoknya sambil sesekali tersenyum sendu dan dingin.

Ervan terketuk hatinya saat wanita di masalalu telah mencampakkannya dengan lelaki lain yang lebih mapan. Sebuah penghinaan yang cukup meruntuhkan mental Ervan. Tiada yang dapat dilakukannya selain ia terus meratapi sisa-sisa kenangan bersama wanita itu. wanita yang selalu di puja, wanita yang selalu menjadi alasannya untuk terus menggapai mimpi-mimpi indah di hidupnya.

“Kau bahkan tak mengubah kebiasaan hidupmu menjadi lebih baik, kau tak lihat Diyah sudah memajang janur kuning melengkung di depan rumahnya.” Kata Gigih sahabat seperjuangan Ervan yang bernasib lebih baik daripada Ervan.

“Tahu apa kau tentang aku dan hidupku!” Ervan mendengus kesal sambil sesekali mendorong asap rokok keluar dari hidungnya. Pikirannya semakin runyam, bahkan meratapi kekesalan pun tak akan membuat sang mantan kekasih kembali untuknya.

“Hei, bahkan aku lebih tahu daripada Diyah. Hahaha.” Ejek Gigih sambil berlalu meninggalkan Ervan, yang semakin membuat Ervan kembali terpuruk.
***
Pikiran Ervan sejenak memutar ke masa-masa indah bersama sang kekasih pujaan. Dimana masa-masa indah itu tak terasa hanya sebuah kenangan lama. Ervan masih cukup baik mengingat tentang semua. Pertama kali dia memutuskan hatinya jatuh hati sampai dia merajut romansa indah yang tak terduga bersama wanita bernama Diyah.

Ervan kembali menyulut puntung rokok, kali ini puntung rokok terakhirnya yang ia punya. Sejenak ia meluangkan waktu untuk berdiam diri. Menenangkan jiwanya yang sedikit gundah. Romansa indah itu hanya seperti berlalu begitu saja bersama sayatan luka yang tertanam pada hatinya. Mau tak mau, ia melepaskan wanitanya. Ia tahu, ia tak cukup mampu untuk menuruti semua yang diinginkan kekasih hatinya.

Ervan mengambil nafas dalam-dalam, saat sebuah mikrofon sayup-sayup terdengar kata-kata sakral dari sebelah rumahnya. Tetesan lembut mengalir ke pipinya. Ervan mengaku kalah, ia tak ingin seseorang melihatnya dalam keadaan yang tak pantas ini. kehilangan seseorang adalah hal terperih yang dirasakannya daripada merasakan menenggak racun sekalipun.


“Sungguh, akhirnya aku pun ikhlas merelakanmu bersama laki-laki yang tepat dan itu bukan aku.” Kata Ervan lirih, dan ia pun bangkit dari duduknya dan membuang puntung rokoknya. Segera ia menggendong ranselnya dan berlalu meninggalkan rumahnya yang sederhana. Ia akan mengadu nasib di negeri orang dan meninggalkan semua kenangan bersama orang yang dicinta. Dan biarlah di masa depan nanti yang akan membayar seluruh rasa kecewa.

Ruangan tersebut kini hanya tersisa puntung rokok yang masih mengepul asap yang menyala, bersama bayangan yang kian menghilang.

2 comments:

  1. Hiiii..tulisannya keren.. dan aku suka banget template nyaaaahhhhh.. ini design sendiri Mbak?
    Keren!
    Lanjutin nulis yaaaa!

    ReplyDelete
  2. Makasih ya kakak :)...gak ini desainnya download kok hehehe......oke aku akan terus melanjutkan menulis...hidup menulis!!! :D

    ReplyDelete