Oleh:
Lelaki
bernama Ervan itu mulai mengepulkan asap rokok yang sudah lima menit yang lalu
tersulut oleh korek api. Mengepul dan terus mengudara memenuhi ruangan yang tak
cukup luas itu. Dia terus saja menghisap puntung rokoknya sambil sesekali
tersenyum sendu dan dingin.
Ervan
terketuk hatinya saat wanita di masalalu telah mencampakkannya dengan lelaki
lain yang lebih mapan. Sebuah penghinaan yang cukup meruntuhkan mental Ervan.
Tiada yang dapat dilakukannya selain ia terus meratapi sisa-sisa kenangan
bersama wanita itu. wanita yang selalu di puja, wanita yang selalu menjadi
alasannya untuk terus menggapai mimpi-mimpi indah di hidupnya.
“Kau
bahkan tak mengubah kebiasaan hidupmu menjadi lebih baik, kau tak lihat Diyah
sudah memajang janur kuning melengkung di depan rumahnya.” Kata Gigih sahabat
seperjuangan Ervan yang bernasib lebih baik daripada Ervan.
“Tahu
apa kau tentang aku dan hidupku!” Ervan mendengus kesal sambil sesekali
mendorong asap rokok keluar dari hidungnya. Pikirannya semakin runyam, bahkan
meratapi kekesalan pun tak akan membuat sang mantan kekasih kembali untuknya.
“Hei,
bahkan aku lebih tahu daripada Diyah. Hahaha.” Ejek Gigih sambil berlalu meninggalkan Ervan, yang semakin membuat
Ervan kembali terpuruk.
***
Pikiran
Ervan sejenak memutar ke masa-masa indah bersama sang kekasih pujaan. Dimana
masa-masa indah itu tak terasa hanya sebuah kenangan lama. Ervan masih cukup
baik mengingat tentang semua. Pertama kali dia memutuskan hatinya jatuh hati
sampai dia merajut romansa indah yang tak terduga bersama wanita bernama Diyah.
Ervan
kembali menyulut puntung rokok, kali ini puntung rokok terakhirnya yang ia
punya. Sejenak ia meluangkan waktu untuk berdiam diri. Menenangkan jiwanya yang
sedikit gundah. Romansa indah itu hanya seperti berlalu begitu saja bersama
sayatan luka yang tertanam pada hatinya. Mau tak mau, ia melepaskan wanitanya.
Ia tahu, ia tak cukup mampu untuk menuruti semua yang diinginkan kekasih
hatinya.
Ervan
mengambil nafas dalam-dalam, saat sebuah mikrofon sayup-sayup terdengar
kata-kata sakral dari sebelah rumahnya. Tetesan lembut mengalir ke pipinya.
Ervan mengaku kalah, ia tak ingin seseorang melihatnya dalam keadaan yang tak
pantas ini. kehilangan seseorang adalah hal terperih yang dirasakannya daripada
merasakan menenggak racun sekalipun.
“Sungguh,
akhirnya aku pun ikhlas merelakanmu bersama laki-laki yang tepat dan itu bukan
aku.” Kata Ervan lirih, dan ia pun bangkit dari duduknya dan membuang puntung
rokoknya. Segera ia menggendong ranselnya dan berlalu meninggalkan rumahnya
yang sederhana. Ia akan mengadu nasib di negeri orang dan meninggalkan semua
kenangan bersama orang yang dicinta. Dan biarlah di masa depan nanti yang akan
membayar seluruh rasa kecewa.
Ruangan
tersebut kini hanya tersisa puntung rokok yang masih mengepul asap yang
menyala, bersama bayangan yang kian menghilang.
.jpg)

Hiiii..tulisannya keren.. dan aku suka banget template nyaaaahhhhh.. ini design sendiri Mbak?
ReplyDeleteKeren!
Lanjutin nulis yaaaa!
Makasih ya kakak :)...gak ini desainnya download kok hehehe......oke aku akan terus melanjutkan menulis...hidup menulis!!! :D
ReplyDelete