5 August 2014

Brondong Itu, Pacarku!


Oleh:
Lilih Putri Pratiwi



“Ka..ka..kamu!” Mela tergagap saat melihat sosok laki-laki yang tak lain adalah Fikri, adik kelasnya saat dia masih duduk di bangku SMP.
“Hai, kakak cantik. Nggak nyangka, masih ingat sama aku.” kata Fikri sambil tersenyum ke arah Mela. Betapa ini hal yang sangat tidak diinginkan Mela. Mela segera berlari menjauhi Fikri.
            Tahun ini adalah tahun dimana penerimaan siswa baru untuk SMA. Mela selaku anggota OSIS di sekolahnya yang sedang melakukan kegiatan MOS hari pertama. Betapa terkejutnya dia melihat Fikri. Fikri si adik kelas yang cinta mati dengan Mela, membuat Mela bahkan sering kehilangan nafsu makannya jika teringat Fikri. Karena dia paling anti pacaran dengan adik kelas. Takut dikira suka brondong oleh teman-temannya. Bahkan saat dia sudah menjadi anak SMA, berharap akan terhindar dari Fikri. Dan Fikri akan segera melupakannya saat Mela sudah lulus. Namun, pikiran Mela salah, justru Fikri menunjukkan kepadanya bahwa dia dapat mengikuti jejaknya masuk di SMA favorit seperti dirinya.
“Mel, muka kamu pucet banget kenapa?” tanya Vita salah seorang teman Mela yang tidak sengaja melintas di depan Mela. Mela justru seperti terkaget melihat kedatangan Vita.
“Eh...oh..nggak apa-apa Vit. Cuma capek aja kok.” Mela beralasan, hari ini bahkan Mela menganggap mimpi buruk untuknya saat dia mengetahui lagi-lagi dia harus satu sekolah dengan Fikri.
            Semenjak kejadian pertemuannya dengan Fikri. Mela sering banget melamun bahkan dia ternyata sedang memikirkan sesuatu tentang Fikri. Mela tak ingin ada teman-temannya yang tahu mengenai Fikri. Bagi Mela, Fikri adalah bocah ingusan kemarin sore. Dia tidak ingin tingkah konyol Fikri diketahui oleh teman-temannya, karena Mela akan merasa malu. Sore ini Mela sengaja mengirim pesan kepada Fikri untuk datang ke rumahnya.
            Fikri selalu datang tepat waktu, sesuai janji yang diberikan kepada Mela. Setelah magrib Fikri sudah datang tepat di depan rumah Mela. Hobi Fikri naik sepeda keman-mana itu pun cukup membuat Mela menganggap Fikri nggak banget. Mela segera membuka pintu rumahnya, saat Fikri sudah datang. Mela hanya mendengus kesal, melihat Fikri.
“Selamat malam kakakku cantik.” Fikri kembali mengembangkan senyumnya untuk Mela. Senyum yang sama seperti dulu saat Mela menatap senyum Fikri. Manis. Kata hati Mela. Langsung Mela memasang wajah juteknya.
“Kok bisa sih kamu masuk ke SMA yang sama?”
“Loh, kok kakak bilang gitu. Semua orang punya hak buat masuk SMA mana saja. Aku termotivasi karena kakak. Siang dan malam aku terus belajar demi bisa masuk SMA favorit sama kakak. Aku malu jadi anak bodoh, kak.”
“Oke, terserah deh apa kata kamu. Aku Cuma punya permintaan sama kamu.”
“Apa itu kak?” Fikri mulai bertanya-tanya.
“Kalo di sekolah, aku harap kita pura-pura nggak kenal deh.”
“Kenapa kak? Tapi okelah kalo itu mau kakak, tapi aku juga punya satu permintaan.”
“Permintaan apa itu?”
“Setiap malam minggu, ijinkan aku buat datang ke rumah kakak. Gimana?” kali ini Fikri tak kehabisan akal untuk mendekati Mela sang pujaan hatinya itu. Mela mengernyitkan dahinya. Lalu menyetujui permintaan Fikri, mereka berdua saling berjabat tangan.
“Deal!”
***
            MOS pun berakhir setelah tiga hari dijalankan dengan penuh suka cita. Mela sekarang merasa aman. Karena Fikri mematuhi perjanjian yang sudah dibuat bersama. Mela sedang asik berkumpul dengan dengan dua sahabatnya yaitu Vita dan Ajeng. Meraka sedang asik membicarakan surat-surat cinta dari adik-adik kelas mereka yang baru saja menjalani MOS. Mela sedikit tidak tertarik, bukan berarti dia tidak dapat surat cinta. Mela mendapat sepuluh surat cinta, namun Fikri tidak menulis surat cinta untuknya.
“Dari Fikri buat kak Vita.” Vita membaca tulisan pada amplop yang dia terima. Mela yang saat itu sedang minum es teh langsung tersedak.
“Kenapa kamu Mel?” tanya Ajeng dengan wajah penuh tanya.
“Nggak papa kok. Heheh.” Kata Mela dengan sedikit canggung. Lalu dilihatnya Vita masih membaca surat cinta yang ternyata dari Fikri.
“Hai, kak Vita. Pertama lihat kamu, sungguh buat hati ini kian merindu. Mungkinkah ini sebagai tanda cinta pada pandangan pertama. Hahaha.” Vita terkekeh membaca surat cinta dari Fikri. Mela terlihat semakin tidak berselera untuk berlama-lama di kantin.
“Jangan sampe Vit, kamu naksir adik kelas. Hahaha.” Kata Ajeng menggoda.
“Hehehe. Ya, nggak lah Jeng nanti dikiranya aku doyan sama brondong nggak lah.” Mela hanya tertegun dengan perbincangan dua sahabatnya itu.
“Hai, Mela.” Sapa seorang laki-laki tak lain adalah Damar. Mela tersipu malu melihat Damar. Damar adalah gebetan Mela saat ini.
“Ciye..ciyee ada sang pangeran datang nih. Ya, udah kita ke kelas dulu ya Mel.” Ajeng segera menarik lengan Vita untuk meninggalkan Mela bersama Damar. Mela semakin salah tingkah melihat kedatangan Damar. Damar sang jago basket itu telah lama bersemayam dalam hati Mela.
***
            Fikri yang sekarang tetaplah Fikri yang dahulu. Tapi kini usaha mendekati Mela tetaplah dia perjuangkan. Siang dan malam Fikri selalu mengiriminya pesan sms bentuk dari perhatiannya kepada Mela. Bahkan tak hanya malam minggu Fikri datang ke rumah Mela. Dia menyempatkan waktu untuk selalu datang ke rumah Mela. Dia juga sempat memberi Mela sebuah boneka Teddy bear, yang akhir-akhir ini membuat hati Mela menjadi gelisah. Seringnya Fikri mencoba mencari perhatian Mela membuat Mela sedikit simpati dengan Fikri. Saat ini Fikri sedang berada di teras rumah Mela, dia menyatakan perasaannya untuk ke sepeluh kalinya. Kali ini Mela tidak punya alasan lagi. Sedangkan Fikri cukup setia menjaga hati untuk selalu menyayangi Mela. Karena Mela kasihan dengan Fikri.
“Gimana, kak. Maukah kamu terima aku jadi pacarmu?” kata Fikri lirih dengan wajah yang sedikit di buat melas. Mela semakin tidak tega kali ini.
“Umm..oke-oke deh. Tapi kita backstreet. Gimana?”
“Jadi, kamu mau jadi pacarku. Oke kita backstreet. Makasih yaa.” Fikri sangat senang, sampe-sampe dia mencium tangan Mela. Entah mengapa malam ini, Mela membiarkan hal itu terjadi.
            Seminggu setelah mereka jadian, banyak hal yang terjadi. Mela sempat maen dan jalan berdua dengan Fikri. Bahkan sebuah kecupan manis sempat melayang di pipi Mela. Mulai saat itu, hati Mela sedikit berubah. Bermula dari rasa kasihan menjadi sedikit rasa sayang untuk Fikri. Namun, Mela tak pernah menyadari hal itu.
            Keesokan harinya, Mela berpapasan dengan Fikri. Fikri tetap memenuhi janjinya untuk pura-pura tidak mengenali Mela. Hari ini Mela senang, karena hari ini dia janjian untuk bertemu dengan Damar. Apalagi waktu Damar berkata ada sesuatu yang mau dikatakan kepada Mela. Mela sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Damar.
“Hai, Mela. Sudah lama menunggu ya?” tanya Damar membuat Mela tersadar dari lamunannya.
“Belum kok, Dam. Oh, iya ada apa katanya ada yang mau diomongin.” Kata Mela dengan jantung mulai berdebar-debar dengan sangat cepat.
“Mel, aku sayang sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku.” Tanpa banyak basa-basi yang terlontar dari mulut Mela. Mela segera mengangguk dengan cepat. Akhirnya pagi itu, dia resmi jadian dengan Damar. Tanpa dia menyadari seminggu yang lalu dia sudah jadian lebih dulu dengan Fikri.
***
            Hati Mela sangat senang semenjak  jadian dengan Damar. Damar yang menjadi idola di sekolah karena jago maen basket itu, kini telah menjadi kekasihnya. Mela merasa sudah mendapatkan hati sang idola di sekolah. Dan Mela merasa bangga akan hal itu. Mela akan membuat puluhan hati wanita merasa patah hati di sekolah. Mela seperti sedang menang undian berhadiah.
“Akhirnya,  jadian juga sama sang idola di sekolah.” Kata Ajeng sambil terus menikmati es jus di kantin.
“Kali ini aku pasti akan membuat yang lain patah hati. Hehehe.” Kata Mela dengan rasa sombongnya. Sedikit pun tak terlintas di hatinya mengenai Fikri.
“Jadi, kamu duain aku?” Fikri sudah berdiri di belakang Mela, dengan wajah serius. Baru kali ini Mela merasa sisi yang lain dari Fikri. Mela segera berdiri dari duduknya dan segera menjelaskan kepada Fikri.
“Nggak seperti yang kamu kira kok.” Mela mencoba membela diri, walaupun dia tahu ini tindakan yang salah.
“Lebih baik, kita putus saja.” Kata Fikri sambil dia pergi meninggalkan Mela. Mela menjadi kacau. Tak tahu harus berbuat apalagi. Ajeng hanya bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Setelah kejadian ini Mela segera menceritakan yang terjadi kepada dua sahabatnya itu.
“Kenapa nggak dari awal kamu cerita Mel?” tanya Vita dengan nada bingung, karena sebagai sahabat dia tidak pernah membatasi sahabatnya itu jadian dengan siapapun.
“Aku gengsi kalo dibilang suka sama brondong, dia adik kelasku sejak SMP. Dan aku mulai sayang akhir-akhir ini.” Kali ini Mela meneteskan airmatanya, sedih karena dia harus membohongi perasaannya dan telah menyakiti hati Fikri. Ajeng segera memeluk Mela saat itu.
***
“Maaf, Damar. Kita putus.” Kata Mela dengan lirih, Damar seakan tidak percaya dengan keputusan Mela yang sulit dipercaya. Mela sadar menjadi kekasih Damar bukan karena rasa sayang yang tulus melainkan rasa obsesinya ingin memiliki.
            Sepulang sekolah Mela sengaja datang ke rumah Fikri. Ternyata Fikri sedang tidak di rumah. Dia sedang berada di lapangan basket dekat rumahnya. Kali ini Mela akan minta maaf dengan Fikri atas perbuatannya selama ini. Dia merasa sangat bersalah dengan Fikri. Fikri ternyata cowo yang baik dan akhirnya telah meluluhkan hati Mela yang keras bagai batu.
“Fikri!” panggil Mela, Fikri menghentikan mendrible bolanya. Wajahnya masih murung.
“Ngapain kamu kesini? Kita sudah putus, itu kan yang kamu harapkan?” kata Fikri dingin.
“Maafin aku, Fikri. Kasih aku kesempatan lagi buat perbaiki semuanya.”
“Terus dimana pacar baru kamu?”
“Aku udah putus. Dan aku memilih kamu. Kamu mau kan maafin aku?” kata Mela penuh harap. Fikri melihat ketulusan dari Mela segera menghampiri Mela dan memeluk tubuh mungil Mela.
“Kali ini aku maafin dan aku beri kamu kesempatan. Kesempatan untuk membuatku percaya kembali.” Kata Fikri sambil tersenyum manis.
            Betapa bahagia hati Mela. Akhirnya Fikri memaafkannya, kali ini Mela tidak akan menyia-nyiakan Fikri lagi. Hatinya telah berlari mengejar hati Fikri. Mereka lalu bergandengan tangan menyusuri jalan di sore hari. Mereka saling pandang dan terus berjalan dengan langkah yang pasti.

SELESAI

2 comments:

  1. bagus cerpennya mbak ^^ pengen banget buat cerpen, tapi susah buat ngerangkai kata :(

    ReplyDelete
  2. makasih yaa....hehe dulu q juga gak bisa kok, cuma q paksain buat terus nulis cerpen lama-lama nanti muncul juga inspirasinya hehehe'

    ReplyDelete