Oleh:
Lilih
Putri Pratiwi
Aku masih terjaga di tempat
peraduanku, sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah-celah jendela
yang tak tertutup dengan rapat. Silau dan sangat menganggu mataku meski mataku
terpejam sekalipun. Aku sudah tak mampu untuk tertidur dengan lelap. Jam dinding
sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.
Aku mulai mengangkat tubuhku yang masih
terasa lemas. Menuju jendela dan segera membukanya. Pagi ini tidak seperti
biasanya, ada yang hilang semenjak dia tidak lagi hadir dalam hidupku kini.
Dia, Damar sahabatku sejak kami masih kecil.
***
Setahun
yang lalu...
“Mon,
usia kamu sudah menginjak 24 tahun. Kenapa kamu tidak pernah terlihat dekat
dengan laki-laki ?” Tanya Damar yang memecah lamunanku saat aku sedang terduduk
melihat anak-anak sedang bermain bola di depan rumah. Aku tersenyum.
“Kenapa
kamu bertanya, bahkan kamu tidak pernah bertanya aku suka siapa, Dam?” kataku
yang justru membuatnya kembali terdiam. Entah, aku tidak tahu apa yang
dipikirkannya.
“Apa
kamu menyukaiku selama ini, Mon?” Tanya Damar, kali ini senyumanku hilang. Damar
seperti sedang menduga-duga sesuatu. Namun, bibir ini terasa kelu untuk
mengucapkannya.
“Hahaha,
mana mungkin Dam. Kita ini sahabat dari kecil.” Kataku terkekeh-kekeh, Damar
terlihat salah tingkah.
Dalam hati bahkan aku terlalu
memujamu dan menyukaimu melebihi seorang sahabat. Namun, aku tak punya hati
untuk menyakiti Wilda sahabatku sejak SMP yang terlebih dahulu menyukai Damar. Aku
tak berhak atas hati Damar, karena aku ingin Wilda bahagia bersama Damar. Karena
mereka sudah pacaran sejak kita semua masih duduk di bangku SMP.
***
Keesokkan harinya, di saat aku
sedang merebahkan tubuh mungilku sambil memeluk guling. Wilda datang dengan
tatapan sumringah sambil membawa setumpuk kertas. Rasanya aku enggan bangun,
alasannya bukan karena ada Wilda, melainkan setumpuk kertas yang sedang
dibawanya itu yang membuatku enggan untuk bangun dari tidurku. Pasti dia
memintaku untuk membantu mengerjakan tugasnya lagi.
“Mona,
bangun dong.” Rengek Wilda yang sedari tadi mengusikku, yang lama kelamaan tak
betah juga aku diganggu seperti itu.
“Apa sih
Wilda?”
“Nih,
aku punya sesuatu buat kamu.” Kata Wilda sambil menyerahkan sebuah Undangan
mewah berwarna pink. Undangan pernikahan Wilda dan Damar.
“Kamu
mau nikah?” tanyaku tercengang seakan tak percaya, bahkan Damar tak pernah
memberitahuku soal rencana pernikahan mereka. Aku pun menjadi lunglai, sedih
dan tak bersemangat. Wilda segera berpamitan pulang untuk menyerahkan undangan
untuk saudara-saudaranya.
***
Sejak undangan pernikahan Wilda dan
Damar sampai di tanganku, aku bahkan sudah tak berani bertemu dengan Damar. Bukan
karena aku marah, aku takut aku sudah tak mampu lagi untuk menyembunyikan
perasaanku ini untuknya. Aku hanya tak ingin Damar melihat uraian airmata yang
tak jelas ini, aku takut Damar akan marah padaku karena aku membohongi
perasaanku sendiri.
Sampai pada hari pernikahannya, aku
hanya mampu berdiri dari kejauhan. Langkah kakiku terhenti saat ikrar yang
diucapkan Damar sudah dinyatakan sah oleh bapak penghulu. Butiran-butiran
airmata itu kini tak mampu terbendung lagi, sudah terlalu jauh untuk mengakui
penyesalan. Penyesalan untuk tak mengakui bahwa aku pun mencintainya, mencintai
Sahabatku, Damar.
***
Di luar jendela, aku melihat seorang
anak kecil perempuan dan seorang anak kecil laki-laki yang sedang bermain petak
umpat. Sama sepertiku dulu, saat aku merajut pertemanan sejak kecil. Aku tersenyum
sendirian, mungkin ini salahku juga tak seharusnya aku memendam rasa ini
sendirian. Sedangkan Damar dulu sudah menawarkan perasaannya untukku. Demi sahabatku
Wilda, aku pun rela mengabaikan perasaanku untuk Damar.
SELESAI

0 comments:
Post a Comment