5 August 2014

Aku, Dia dan Sahabatku



Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




            Aku masih terjaga di tempat peraduanku, sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah-celah jendela yang tak tertutup dengan rapat. Silau dan sangat menganggu mataku meski mataku terpejam sekalipun. Aku sudah tak mampu untuk tertidur dengan lelap. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.
            Aku mulai mengangkat tubuhku yang masih terasa lemas. Menuju jendela dan segera membukanya. Pagi ini tidak seperti biasanya, ada yang hilang semenjak dia tidak lagi hadir dalam hidupku kini. Dia, Damar sahabatku sejak kami masih kecil.
***
Setahun yang lalu...
“Mon, usia kamu sudah menginjak 24 tahun. Kenapa kamu tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki ?” Tanya Damar yang memecah lamunanku saat aku sedang terduduk melihat anak-anak sedang bermain bola di depan rumah. Aku tersenyum.
“Kenapa kamu bertanya, bahkan kamu tidak pernah bertanya aku suka siapa, Dam?” kataku yang justru membuatnya kembali terdiam. Entah, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya.
“Apa kamu menyukaiku selama ini, Mon?” Tanya Damar, kali ini senyumanku hilang. Damar seperti sedang menduga-duga sesuatu. Namun, bibir ini terasa kelu untuk mengucapkannya.
“Hahaha, mana mungkin Dam. Kita ini sahabat dari kecil.” Kataku terkekeh-kekeh, Damar terlihat salah tingkah.
            Dalam hati bahkan aku terlalu memujamu dan menyukaimu melebihi seorang sahabat. Namun, aku tak punya hati untuk menyakiti Wilda sahabatku sejak SMP yang terlebih dahulu menyukai Damar. Aku tak berhak atas hati Damar, karena aku ingin Wilda bahagia bersama Damar. Karena mereka sudah pacaran sejak kita semua masih duduk di bangku SMP.
***
            Keesokkan harinya, di saat aku sedang merebahkan tubuh mungilku sambil memeluk guling. Wilda datang dengan tatapan sumringah sambil membawa setumpuk kertas. Rasanya aku enggan bangun, alasannya bukan karena ada Wilda, melainkan setumpuk kertas yang sedang dibawanya itu yang membuatku enggan untuk bangun dari tidurku. Pasti dia memintaku untuk membantu mengerjakan tugasnya lagi.
“Mona, bangun dong.” Rengek Wilda yang sedari tadi mengusikku, yang lama kelamaan tak betah juga aku diganggu seperti itu.
“Apa sih Wilda?”
“Nih, aku punya sesuatu buat kamu.” Kata Wilda sambil menyerahkan sebuah Undangan mewah berwarna pink. Undangan pernikahan Wilda dan Damar.
“Kamu mau nikah?” tanyaku tercengang seakan tak percaya, bahkan Damar tak pernah memberitahuku soal rencana pernikahan mereka. Aku pun menjadi lunglai, sedih dan tak bersemangat. Wilda segera berpamitan pulang untuk menyerahkan undangan untuk saudara-saudaranya.
***
            Sejak undangan pernikahan Wilda dan Damar sampai di tanganku, aku bahkan sudah tak berani bertemu dengan Damar. Bukan karena aku marah, aku takut aku sudah tak mampu lagi untuk menyembunyikan perasaanku ini untuknya. Aku hanya tak ingin Damar melihat uraian airmata yang tak jelas ini, aku takut Damar akan marah padaku karena aku membohongi perasaanku sendiri.
            Sampai pada hari pernikahannya, aku hanya mampu berdiri dari kejauhan. Langkah kakiku terhenti saat ikrar yang diucapkan Damar sudah dinyatakan sah oleh bapak penghulu. Butiran-butiran airmata itu kini tak mampu terbendung lagi, sudah terlalu jauh untuk mengakui penyesalan. Penyesalan untuk tak mengakui bahwa aku pun mencintainya, mencintai Sahabatku, Damar.
***
            Di luar jendela, aku melihat seorang anak kecil perempuan dan seorang anak kecil laki-laki yang sedang bermain petak umpat. Sama sepertiku dulu, saat aku merajut pertemanan sejak kecil. Aku tersenyum sendirian, mungkin ini salahku juga tak seharusnya aku memendam rasa ini sendirian. Sedangkan Damar dulu sudah menawarkan perasaannya untukku. Demi sahabatku Wilda, aku pun rela mengabaikan perasaanku untuk Damar.
SELESAI



0 comments:

Post a Comment