Oleh:
“Ka..ka..kamu!” Mela tergagap saat melihat
sosok laki-laki yang tak lain adalah Fikri, adik kelasnya saat dia masih duduk
di bangku SMP.
“Hai, kakak cantik. Nggak nyangka, masih
ingat sama aku.” kata Fikri sambil tersenyum ke arah Mela. Betapa ini hal yang
sangat tidak diinginkan Mela. Mela segera berlari menjauhi Fikri.
Tahun
ini adalah tahun dimana penerimaan siswa baru untuk SMA. Mela selaku anggota
OSIS di sekolahnya yang sedang melakukan kegiatan MOS hari pertama. Betapa
terkejutnya dia melihat Fikri. Fikri si adik kelas yang cinta mati dengan Mela,
membuat Mela bahkan sering kehilangan nafsu makannya jika teringat Fikri.
Karena dia paling anti pacaran dengan adik kelas. Takut dikira suka brondong
oleh teman-temannya. Bahkan saat dia sudah menjadi anak SMA, berharap akan
terhindar dari Fikri. Dan Fikri akan segera melupakannya saat Mela sudah lulus.
Namun, pikiran Mela salah, justru Fikri menunjukkan kepadanya bahwa dia dapat
mengikuti jejaknya masuk di SMA favorit seperti dirinya.
“Mel, muka kamu pucet banget kenapa?”
tanya Vita salah seorang teman Mela yang tidak sengaja melintas di depan Mela.
Mela justru seperti terkaget melihat kedatangan Vita.
“Eh...oh..nggak
apa-apa Vit. Cuma capek aja kok.” Mela beralasan, hari ini bahkan Mela menganggap
mimpi buruk untuknya saat dia mengetahui lagi-lagi dia harus satu sekolah
dengan Fikri.
Semenjak kejadian pertemuannya
dengan Fikri. Mela sering banget melamun bahkan dia ternyata sedang memikirkan
sesuatu tentang Fikri. Mela tak ingin ada teman-temannya yang tahu mengenai
Fikri. Bagi Mela, Fikri adalah bocah ingusan kemarin sore. Dia tidak ingin
tingkah konyol Fikri diketahui oleh teman-temannya, karena Mela akan merasa
malu. Sore ini Mela sengaja mengirim pesan kepada Fikri untuk datang ke
rumahnya.
Fikri selalu datang tepat waktu,
sesuai janji yang diberikan kepada Mela. Setelah magrib Fikri sudah datang
tepat di depan rumah Mela. Hobi Fikri naik sepeda keman-mana itu pun cukup
membuat Mela menganggap Fikri nggak banget. Mela segera membuka pintu rumahnya,
saat Fikri sudah datang. Mela hanya mendengus kesal, melihat Fikri.
“Selamat
malam kakakku cantik.” Fikri kembali mengembangkan senyumnya untuk Mela. Senyum
yang sama seperti dulu saat Mela menatap senyum Fikri. Manis. Kata hati Mela. Langsung
Mela memasang wajah juteknya.
“Kok
bisa sih kamu masuk ke SMA yang sama?”
“Loh,
kok kakak bilang gitu. Semua orang punya hak buat masuk SMA mana saja. Aku
termotivasi karena kakak. Siang dan malam aku terus belajar demi bisa masuk SMA
favorit sama kakak. Aku malu jadi anak bodoh, kak.”
“Oke,
terserah deh apa kata kamu. Aku Cuma punya permintaan sama kamu.”
“Apa
itu kak?” Fikri mulai bertanya-tanya.
“Kalo
di sekolah, aku harap kita pura-pura nggak kenal deh.”
“Kenapa
kak? Tapi okelah kalo itu mau kakak, tapi aku juga punya satu permintaan.”
“Permintaan
apa itu?”
“Setiap
malam minggu, ijinkan aku buat datang ke rumah kakak. Gimana?” kali ini Fikri
tak kehabisan akal untuk mendekati Mela sang pujaan hatinya itu. Mela
mengernyitkan dahinya. Lalu menyetujui permintaan Fikri, mereka berdua saling
berjabat tangan.
“Deal!”
***
MOS
pun berakhir setelah tiga hari dijalankan dengan penuh suka cita. Mela sekarang
merasa aman. Karena Fikri mematuhi perjanjian yang sudah dibuat bersama. Mela
sedang asik berkumpul dengan dengan dua sahabatnya yaitu Vita dan Ajeng. Meraka
sedang asik membicarakan surat-surat cinta dari adik-adik kelas mereka yang
baru saja menjalani MOS. Mela sedikit tidak tertarik, bukan berarti dia tidak
dapat surat cinta. Mela mendapat sepuluh surat cinta, namun Fikri tidak menulis
surat cinta untuknya.
“Dari
Fikri buat kak Vita.” Vita membaca tulisan pada amplop yang dia terima. Mela
yang saat itu sedang minum es teh langsung tersedak.
“Kenapa
kamu Mel?” tanya Ajeng dengan wajah penuh tanya.
“Nggak
papa kok. Heheh.” Kata Mela dengan sedikit canggung. Lalu dilihatnya Vita masih
membaca surat cinta yang ternyata dari Fikri.
“Hai,
kak Vita. Pertama lihat kamu, sungguh buat hati ini kian merindu. Mungkinkah
ini sebagai tanda cinta pada pandangan pertama. Hahaha.” Vita terkekeh membaca
surat cinta dari Fikri. Mela terlihat semakin tidak berselera untuk
berlama-lama di kantin.
“Jangan
sampe Vit, kamu naksir adik kelas. Hahaha.” Kata Ajeng menggoda.
“Hehehe.
Ya, nggak lah Jeng nanti dikiranya aku doyan sama brondong nggak lah.” Mela
hanya tertegun dengan perbincangan dua sahabatnya itu.
“Hai,
Mela.” Sapa seorang laki-laki tak lain adalah Damar. Mela tersipu malu melihat
Damar. Damar adalah gebetan Mela saat ini.
“Ciye..ciyee
ada sang pangeran datang nih. Ya, udah kita ke kelas dulu ya Mel.” Ajeng segera
menarik lengan Vita untuk meninggalkan Mela bersama Damar. Mela semakin salah
tingkah melihat kedatangan Damar. Damar sang jago basket itu telah lama
bersemayam dalam hati Mela.
***
Fikri yang sekarang tetaplah Fikri
yang dahulu. Tapi kini usaha mendekati Mela tetaplah dia perjuangkan. Siang dan
malam Fikri selalu mengiriminya pesan sms bentuk dari perhatiannya kepada Mela.
Bahkan tak hanya malam minggu Fikri datang ke rumah Mela. Dia menyempatkan
waktu untuk selalu datang ke rumah Mela. Dia juga sempat memberi Mela sebuah
boneka Teddy bear, yang akhir-akhir ini membuat hati Mela menjadi gelisah.
Seringnya Fikri mencoba mencari perhatian Mela membuat Mela sedikit simpati
dengan Fikri. Saat ini Fikri sedang berada di teras rumah Mela, dia menyatakan
perasaannya untuk ke sepeluh kalinya. Kali ini Mela tidak punya alasan lagi.
Sedangkan Fikri cukup setia menjaga hati untuk selalu menyayangi Mela. Karena
Mela kasihan dengan Fikri.
“Gimana,
kak. Maukah kamu terima aku jadi pacarmu?” kata Fikri lirih dengan wajah yang
sedikit di buat melas. Mela semakin tidak tega kali ini.
“Umm..oke-oke
deh. Tapi kita backstreet. Gimana?”
“Jadi,
kamu mau jadi pacarku. Oke kita backstreet. Makasih yaa.” Fikri sangat senang,
sampe-sampe dia mencium tangan Mela. Entah mengapa malam ini, Mela membiarkan
hal itu terjadi.
Seminggu setelah mereka jadian,
banyak hal yang terjadi. Mela sempat maen dan jalan berdua dengan Fikri. Bahkan
sebuah kecupan manis sempat melayang di pipi Mela. Mulai saat itu, hati Mela
sedikit berubah. Bermula dari rasa kasihan menjadi sedikit rasa sayang untuk
Fikri. Namun, Mela tak pernah menyadari hal itu.
Keesokan harinya, Mela berpapasan
dengan Fikri. Fikri tetap memenuhi janjinya untuk pura-pura tidak mengenali
Mela. Hari ini Mela senang, karena hari ini dia janjian untuk bertemu dengan
Damar. Apalagi waktu Damar berkata ada sesuatu yang mau dikatakan kepada Mela.
Mela sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Damar.
“Hai,
Mela. Sudah lama menunggu ya?” tanya Damar membuat Mela tersadar dari
lamunannya.
“Belum
kok, Dam. Oh, iya ada apa katanya ada yang mau diomongin.” Kata Mela dengan
jantung mulai berdebar-debar dengan sangat cepat.
“Mel,
aku sayang sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku.” Tanpa banyak basa-basi yang
terlontar dari mulut Mela. Mela segera mengangguk dengan cepat. Akhirnya pagi
itu, dia resmi jadian dengan Damar. Tanpa dia menyadari seminggu yang lalu dia
sudah jadian lebih dulu dengan Fikri.
***
Hati Mela sangat senang
semenjak jadian dengan Damar. Damar yang
menjadi idola di sekolah karena jago maen basket itu, kini telah menjadi
kekasihnya. Mela merasa sudah mendapatkan hati sang idola di sekolah. Dan Mela
merasa bangga akan hal itu. Mela akan membuat puluhan hati wanita merasa patah
hati di sekolah. Mela seperti sedang menang undian berhadiah.
“Akhirnya, jadian juga sama sang idola di sekolah.” Kata
Ajeng sambil terus menikmati es jus di kantin.
“Kali
ini aku pasti akan membuat yang lain patah hati. Hehehe.” Kata Mela dengan rasa
sombongnya. Sedikit pun tak terlintas di hatinya mengenai Fikri.
“Jadi,
kamu duain aku?” Fikri sudah berdiri di belakang Mela, dengan wajah serius.
Baru kali ini Mela merasa sisi yang lain dari Fikri. Mela segera berdiri dari
duduknya dan segera menjelaskan kepada Fikri.
“Nggak
seperti yang kamu kira kok.” Mela mencoba membela diri, walaupun dia tahu ini
tindakan yang salah.
“Lebih
baik, kita putus saja.” Kata Fikri sambil dia pergi meninggalkan Mela. Mela
menjadi kacau. Tak tahu harus berbuat apalagi. Ajeng hanya bingung dengan apa
yang baru saja terjadi. Setelah kejadian ini Mela segera menceritakan yang
terjadi kepada dua sahabatnya itu.
“Kenapa
nggak dari awal kamu cerita Mel?” tanya Vita dengan nada bingung, karena
sebagai sahabat dia tidak pernah membatasi sahabatnya itu jadian dengan
siapapun.
“Aku
gengsi kalo dibilang suka sama brondong, dia adik kelasku sejak SMP. Dan aku
mulai sayang akhir-akhir ini.” Kali ini Mela meneteskan airmatanya, sedih
karena dia harus membohongi perasaannya dan telah menyakiti hati Fikri. Ajeng
segera memeluk Mela saat itu.
***
“Maaf,
Damar. Kita putus.” Kata Mela dengan lirih, Damar seakan tidak percaya dengan
keputusan Mela yang sulit dipercaya. Mela sadar menjadi kekasih Damar bukan
karena rasa sayang yang tulus melainkan rasa obsesinya ingin memiliki.
Sepulang sekolah Mela sengaja datang
ke rumah Fikri. Ternyata Fikri sedang tidak di rumah. Dia sedang berada di
lapangan basket dekat rumahnya. Kali ini Mela akan minta maaf dengan Fikri atas
perbuatannya selama ini. Dia merasa sangat bersalah dengan Fikri. Fikri
ternyata cowo yang baik dan akhirnya telah meluluhkan hati Mela yang keras
bagai batu.
“Fikri!”
panggil Mela, Fikri menghentikan mendrible bolanya. Wajahnya masih murung.
“Ngapain
kamu kesini? Kita sudah putus, itu kan yang kamu harapkan?” kata Fikri dingin.
“Maafin
aku, Fikri. Kasih aku kesempatan lagi buat perbaiki semuanya.”
“Terus
dimana pacar baru kamu?”
“Aku
udah putus. Dan aku memilih kamu. Kamu mau kan maafin aku?” kata Mela penuh
harap. Fikri melihat ketulusan dari Mela segera menghampiri Mela dan memeluk
tubuh mungil Mela.
“Kali
ini aku maafin dan aku beri kamu kesempatan. Kesempatan untuk membuatku percaya
kembali.” Kata Fikri sambil tersenyum manis.
Betapa bahagia hati Mela. Akhirnya
Fikri memaafkannya, kali ini Mela tidak akan menyia-nyiakan Fikri lagi. Hatinya
telah berlari mengejar hati Fikri. Mereka lalu bergandengan tangan menyusuri
jalan di sore hari. Mereka saling pandang dan terus berjalan dengan langkah
yang pasti.
SELESAI

bagus cerpennya mbak ^^ pengen banget buat cerpen, tapi susah buat ngerangkai kata :(
ReplyDeletemakasih yaa....hehe dulu q juga gak bisa kok, cuma q paksain buat terus nulis cerpen lama-lama nanti muncul juga inspirasinya hehehe'
ReplyDelete