Bahkan semenjak
kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, kau tak sedikitpun lagi menoleh
kepadaku. Benarkah dan mungkinkah sedikitpun kau tak pernah lagi memikirkanku. Ahh..sungguh
hal yang tak seharusnya pantas untukku mengiba. Bahkan kau benar-benar menghapus seluruh kenanganmu bersamaku. Sedikitpun
aku tak tahu menahu soal kabarmu disana.
Setahun lebih lamanya, kau sudah tak
lagi menghiasi layar HP-ku. Ada rasa rindu yang terkadang menyeruak ke permukaan
hati. Mencari sosok yang dirindukan, namun hanya mampu bersembunyi. Masalalu memanglah
masalalu, namun tak mampu ku menutupi tentang sosok yang terindah. Selamanya akan
berada di dalam dasar hati yang tak berbatas ini.
Aku memanglah bukanlah yang terbaik
untukmu, ada saat dulu aku ingin menjadi sosok yang terbaik di matamu. Aku ingin
menjadi sosok idaman bagimu, tapi kau tak cukup mampu menggoyahkan seluruh
keras kepala ini. Aku si bengal yang kau kenal, si keras kepala yang selalu
membuat gigi-gigi taringmu terlihat jelas saat kau sedang kesal berbicara
padaku. Sungguh saat aku diam setiap kau marah, setiap kau jengkel, setiap kau
membenci segala perilaku, sesungguhnya aku selalu merasa takut untuk kau
tinggalkan. Hanya saja aku tak cukup sempurna untuk menjadi seperti apa yang
kau pinta. Hingga kau pun melepas ikatan-ikatan benang yang sedikit mulai
terpintal kembali itu.
Aku memang si keras kepala, bukan
berarti hatiku juga turut mengeras. Hatiku bahkan meluluh memilihmu. Hatiku tunduk
saat kata-kata keras bermakna itu selalu kau koyak-koyakkan kepadaku. Rasanya ingin
ku berteriak ke arahmu, “ Aku hanya wanita biasa yang jauh dari kata sempurna,
tak bisakah kau menerima kekuranganku seperti aku yang selalu belajar apa arti
pengertian dan menerima segala kekurangan dan apa adanya kamu.” Namun, lagi-lagi aku hanya mampu terdiam menutup rapat-rapat mulut ini, takut hanya kata-kata pedas yang justru terlontar dari dalam mulutku ini. Semata-mata sekali lagi aku hanya tak ingin dinilai selalu buruk di matamu. Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku dengan alasan bodohmu itu.
Apalagi
saat kau sebut-sebut gadis itu, gadis yang menurutku sama-sama gadis biasa
sepertiku. Aku selalu melihat kesempurnaan pada gadis itu di matamu. Gadis biasa
yang pintar mencuri hati dan perhatianmu, bahkan di saat kau pun harus
kehilangan gadis itu dari hidupmu. Bukankah kita saat itu sama-sama seperti
sedang saling merasakan bertepuk sebelah tangan??
Gadis
yang aku sendiri pun tak cukup mengenalnya dengan baik. Bahkan aku sudah mulai
membiasakan diri dengan adanya gadis itu semenjak kau mulai mencampakanku. Walau
ku bukan sosok gadis sempurna di matamu, setidaknya seharusnya kau dapat
merasakan ketulusanku. Dulu Aku yang masih tersayat sembilu menata hati yang
kau cabik-cabik, melihatmu bahagia bersama gadis itu. Dan aku masih tetap
bertahan pada perasaanku, hingga bertahun-tahun dan kau hadir kembali untuk
singgah sementara dan kau kembali pergi menjauh meninggalkan sekeping hatiku
hingga saat ini.
Terima
kasih untuk setiap kisah yang kau torehkan dalam hidup ini. Ada banyak hal yang
dapat aku ambil dari setiap pengalaman ini. Tulisan ini bukan karena aku sedang
galau atau masih mengharapkanmu disini. Ini adalah isi hatiku dulu, betapa
hatiku sungguh merana merasakan ini selama kurang lebih hampir tiga tahun aku terus saja meratapimu tanpa pernah kau peduli. Kini
aku tahu, mencintai seseorang tidaklah hanya rasa ingin saling memiliki, suka
sama suka dan mempertahankan keegoisan sendiri.
“Mencintai adalah ketika
seseorang berada dalam perasaan nyaman saat berada di samping kita, hingga
perasaan nyaman itu akan menumbuhkan perasaan saling menerima kekurangan dan
kelebihan masing-masing. Cinta tidak pernah memaksakan kehendak untuk menjadi
seperti yang dia pinta dan inginkan.”
Diary Princess
Diary Princess
0 comments:
Post a Comment