7 July 2014

Sekeping Hatiku



Bahkan semenjak kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, kau tak sedikitpun lagi menoleh kepadaku. Benarkah dan mungkinkah sedikitpun kau tak pernah lagi memikirkanku. Ahh..sungguh hal yang tak seharusnya pantas untukku mengiba. Bahkan kau benar-benar  menghapus seluruh kenanganmu bersamaku. Sedikitpun aku tak tahu menahu soal kabarmu disana.
            Setahun lebih lamanya, kau sudah tak lagi menghiasi layar HP-ku. Ada rasa rindu yang terkadang menyeruak ke permukaan hati. Mencari sosok yang dirindukan, namun hanya mampu bersembunyi. Masalalu memanglah masalalu, namun tak mampu ku menutupi tentang sosok yang terindah. Selamanya akan berada di dalam dasar hati yang tak berbatas ini.
            Aku memanglah bukanlah yang terbaik untukmu, ada saat dulu aku ingin menjadi sosok yang terbaik di matamu. Aku ingin menjadi sosok idaman bagimu, tapi kau tak cukup mampu menggoyahkan seluruh keras kepala ini. Aku si bengal yang kau kenal, si keras kepala yang selalu membuat gigi-gigi taringmu terlihat jelas saat kau sedang kesal berbicara padaku. Sungguh saat aku diam setiap kau marah, setiap kau jengkel, setiap kau membenci segala perilaku, sesungguhnya aku selalu merasa takut untuk kau tinggalkan. Hanya saja aku tak cukup sempurna untuk menjadi seperti apa yang kau pinta. Hingga kau pun melepas ikatan-ikatan benang yang sedikit mulai terpintal kembali itu.
            Aku memang si keras kepala, bukan berarti hatiku juga turut mengeras. Hatiku bahkan meluluh memilihmu. Hatiku tunduk saat kata-kata keras bermakna itu selalu kau koyak-koyakkan kepadaku. Rasanya ingin ku berteriak ke arahmu, “ Aku hanya wanita biasa yang jauh dari kata sempurna, tak bisakah kau menerima kekuranganku seperti aku yang selalu belajar apa arti pengertian dan menerima segala kekurangan dan apa adanya kamu.” Namun, lagi-lagi aku hanya mampu terdiam menutup rapat-rapat mulut ini, takut hanya kata-kata pedas yang justru terlontar dari dalam mulutku ini. Semata-mata sekali lagi aku hanya tak ingin dinilai selalu buruk di matamu.  Aku tak ingin kau pergi meninggalkanku dengan alasan bodohmu itu.
Apalagi saat kau sebut-sebut gadis itu, gadis yang menurutku sama-sama gadis biasa sepertiku. Aku selalu melihat kesempurnaan pada gadis itu di matamu. Gadis biasa yang pintar mencuri hati dan perhatianmu, bahkan di saat kau pun harus kehilangan gadis itu dari hidupmu. Bukankah kita saat itu sama-sama seperti sedang saling merasakan bertepuk sebelah tangan??
Gadis yang aku sendiri pun tak cukup mengenalnya dengan baik. Bahkan aku sudah mulai membiasakan diri dengan adanya gadis itu semenjak kau mulai mencampakanku. Walau ku bukan sosok gadis sempurna di matamu, setidaknya seharusnya kau dapat merasakan ketulusanku. Dulu Aku yang masih tersayat sembilu menata hati yang kau cabik-cabik, melihatmu bahagia bersama gadis itu. Dan aku masih tetap bertahan pada perasaanku, hingga bertahun-tahun dan kau hadir kembali untuk singgah sementara dan kau kembali pergi menjauh meninggalkan sekeping hatiku hingga saat ini.
Terima kasih untuk setiap kisah yang kau torehkan dalam hidup ini. Ada banyak hal yang dapat aku ambil dari setiap pengalaman ini. Tulisan ini bukan karena aku sedang galau atau masih mengharapkanmu disini. Ini adalah isi hatiku dulu, betapa hatiku sungguh merana merasakan ini selama kurang lebih hampir tiga tahun aku terus saja meratapimu tanpa pernah kau peduli. Kini aku tahu, mencintai seseorang tidaklah hanya rasa ingin saling memiliki, suka sama suka dan mempertahankan keegoisan sendiri. 

“Mencintai adalah ketika seseorang berada dalam perasaan nyaman saat berada di samping kita, hingga perasaan nyaman itu akan menumbuhkan perasaan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Cinta tidak pernah memaksakan kehendak untuk menjadi seperti yang dia pinta dan inginkan.”

Diary Princess

0 comments:

Post a Comment