6 July 2014

Pesan Terakhir Kamu

“Berjanjilah untuk  jalani hidup lebih baik walau tanpa aku. Akan ada seseorang yang jauh lebih baik dari aku, yang akan selalu setia menjagamu nanti.” Kata-kata itu yang masih saja kuingat dalam pikiranku bahkan hati ini. Meskipun saat ini aku sudah jauh lebih baik hidup tanpa dirinya. Seseorang tiga tahun yang lalu itu masih saja kuingat, meski tatapan masa depan seakan siap menghadangku.
Kamu ya kamu, selalu saja terkadang memaksa otakku untuk mengenang kembali memori masalalu bersamamu. Memori saat-saat indah bersama dirimu. Saat pertama bergandengan tangan semua itu selalu mengusikku. Mengusikku dalam setiap lamunanku dalam kesendirian. Namun, kau tak lebih dari sekedar masalaluku yang pernah singgah.
Mendengar kalimat pesan terakhir dari sang mantan, kala itu aku hanya tertegun. Aku tak mampu menggerakkan bibirku untuk memaksamu tetap bertahan untukku atau untuk kembali kepadaku. Yang kuingat saat itu, kau mungkin akan lebih bahagia tapi bukan bersamaku. Mungkinkah hal itu pertanda kita tak bisa bersama lagi, mungkinkah semua ini telah berakhir dan garis takdir jodohmu memang bukan untukku. Aku hanya mampu berani menatapnya dalam bayangan. Semua ini sungguh terlalu singkat, kebersamaan kala itu hanya seperti mimpi indah dalam tidurku. Dan di saat aku terbangun, semua segera lenyap dan berlalu.
Ku mencoba menguatkan hatiku, berjalan setapak demi setapak meninggalkanmu. Aku mencoba yakinkan diriku seperti katamu padaku “ Akan ada laki-laki yang jauh lebih baik darimu..” secara tak sengaja kata-kata itu telah membuat sugesti dalam hatiku, dan memotivasiku bahwa memang akan ada yang lebih baik darimu meskipun sekali lagi hatiku memilihmu.
Keputusanmu pergi dari hidupku awalnya membuatku gelisah. Bahkan setiap malam aku selalu semburkan airmata. Yang entah aku sendiri tak paham, untuk apa airmata ini lagi dan lagi keluar untukmu. Terkadang memori itu terlalu kuat untuk kulupakan, sehingga memori itu terkadang terdesak keluar dari ingatan lamaku. Dan sesekali aku hanya mampu berkata dalam lirih, “ Aku juga ingin bahagia, sama sepertimu. Kuikhlaskan kamu asal kamu pun bahagia.”

“Tuhan berilah kebahagiaan untuknya dan juga untukku...Meski jalan kami harus berbeda arah,,,akan ada penunjuk arah yang lebih baik untuknya dan untukku untuk kehidupan yang lebih baik lagi...”
           


0 comments:

Post a Comment