“Berjanjilah
untuk jalani hidup lebih baik walau tanpa
aku. Akan ada seseorang yang jauh lebih baik dari aku, yang akan selalu setia
menjagamu nanti.” Kata-kata itu yang masih saja kuingat dalam pikiranku bahkan
hati ini. Meskipun saat ini aku sudah jauh lebih baik hidup tanpa dirinya. Seseorang
tiga tahun yang lalu itu masih saja kuingat, meski tatapan masa depan seakan
siap menghadangku.
Kamu
ya kamu, selalu saja terkadang memaksa otakku untuk mengenang kembali memori
masalalu bersamamu. Memori saat-saat indah bersama dirimu. Saat pertama bergandengan
tangan semua itu selalu mengusikku. Mengusikku dalam setiap lamunanku dalam
kesendirian. Namun, kau tak lebih dari sekedar masalaluku yang pernah singgah.
Mendengar
kalimat pesan terakhir dari sang mantan, kala itu aku hanya tertegun. Aku tak
mampu menggerakkan bibirku untuk memaksamu tetap bertahan untukku atau untuk
kembali kepadaku. Yang kuingat saat itu, kau mungkin akan lebih bahagia tapi
bukan bersamaku. Mungkinkah hal itu pertanda kita tak bisa bersama lagi,
mungkinkah semua ini telah berakhir dan garis takdir jodohmu memang bukan
untukku. Aku hanya mampu berani menatapnya dalam bayangan. Semua ini sungguh
terlalu singkat, kebersamaan kala itu hanya seperti mimpi indah dalam tidurku. Dan
di saat aku terbangun, semua segera lenyap dan berlalu.
Ku
mencoba menguatkan hatiku, berjalan setapak demi setapak meninggalkanmu. Aku mencoba
yakinkan diriku seperti katamu padaku “ Akan ada laki-laki yang jauh lebih baik
darimu..” secara tak sengaja kata-kata itu telah membuat sugesti dalam hatiku,
dan memotivasiku bahwa memang akan ada yang lebih baik darimu meskipun sekali
lagi hatiku memilihmu.
Keputusanmu
pergi dari hidupku awalnya membuatku gelisah. Bahkan setiap malam aku selalu
semburkan airmata. Yang entah aku sendiri tak paham, untuk apa airmata ini lagi
dan lagi keluar untukmu. Terkadang memori itu terlalu kuat untuk kulupakan,
sehingga memori itu terkadang terdesak keluar dari ingatan lamaku. Dan sesekali
aku hanya mampu berkata dalam lirih, “ Aku juga ingin bahagia, sama sepertimu. Kuikhlaskan
kamu asal kamu pun bahagia.”
“Tuhan berilah kebahagiaan untuknya dan juga untukku...Meski jalan
kami harus berbeda arah,,,akan ada penunjuk arah yang lebih baik untuknya dan
untukku untuk kehidupan yang lebih baik lagi...”
0 comments:
Post a Comment