Menit demi
menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, aku bosan menunggu tanpa
kepastian, sejak kau kembali ke kampung halamanmu. Bukan maksudku untuk tak
lagi menemuimu, hanya saja terkadang perasaan ini hanyalah aku saja yang
menikmatinya. Aku sendiri tak yakin apakah kau juga menikmatinya?
Ada setitik rasa yang tak kau
ketahui, aku selalu berusaha mengungkapkannya melalui kalimat yang kutulis
dalam pesan-pesan singkatku. Kau masih saja diam seribu bahasa. Katanya kau
merindukan ingin kembali menikmati kota gudeg bersamaku, lantas apakah hanya
sekedar perasaan rindu saja dengan kota gudeg ini, “Bagaimana denganku apakah
kau juga merindukanku, mas inisial D??”
Rasanya terkadang aku ingin
mengatakannya dan jikalau jawaban itu tak membuahkan hasil seperti yang aku
mau. Aku akan pergi dan segera berlalu untuk lekas pergi dari hidupmu. Aku akan
mencari sekeping hatiku yang lain, jikalau memang sekeping hatiku tidak padamu.
Ada hal yang tak pernah kau ketahui,
sejak jabat tangan di depan sebuah rumah yang disebut kosan itu, mataku selalu
saja diam-diam mengamatimu. Meski kala itu, ada mata yang lain yang turut
mengawasiku. Entah aku pun tak mengerti, apa yang aku mau cari dari sosokmu mas
inisial D, hingga aku terus saja mengamati tiap gerak gerikmu waktu itu. Biarlah
rasa itu terkubur di hati dan hanya tulisan ini yang mampu kutuliskan.
Terima kasih untuk secangkir kopi susu
di bukit bintang. Terima kasih sudah menjagaku dengan baik saat di kosan dengan
camilan brondongnya dan film horornya. Terima kasih secangkir wedang ronde
bersama roti bakar rasa coklat keju serta terima kasih atas usahamu membuatku
nyaman dari musisi jalanan dengan selalu memberinya koin berwarna perak maupun
emas di alun-alun kidul. Terima kasih mau menganggapku hingga kau tak lupa
untuk berpamitan denganku selepas wisuda. Terima kasih atas setiap sapa dan
senyummu untukku.
Dan
maaf saat aku memakimu menganggapmu tak pernah niat mengajakku bertemu. Maaf untuk
kata-kata yang sedikit ceroboh ku lontarkan padamu mas inisial D. Maaf sempat
mengajakmu untuk mendengarkan curhatanku tentang kawan lamamu. Aku tahu sebagai
kawan kau pun merasa tak enak hati mendengarnya. Namun, kau selalu membuatku
percaya akan ada orang lain yang lebih baik darinya. Hingga aku pun mampu
terlepas dari bayangan kepedihan itu.
TUHAN ITU MAHA ADIL,
“Tuhan telah mendatangkan
seseorang hadir dalam hidupku untuk meninggalkanku kembali. Namun, Tuhan tak
pernah membiarkanku bersedih dan terpuruk terlalu lama dengan menghadirkan
orang-orang yang mau peduli bahkan lebih peduli denganku untuk menghapus lara
itu. Termasuk menghadirkan sosok mas inisial D yang turut menghapus rasa lara
itu. “
Diary Princess-
0 comments:
Post a Comment