7 July 2014

Mas Inisial “D“



Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, aku bosan menunggu tanpa kepastian, sejak kau kembali ke kampung halamanmu. Bukan maksudku untuk tak lagi menemuimu, hanya saja terkadang perasaan ini hanyalah aku saja yang menikmatinya. Aku sendiri tak yakin apakah kau juga menikmatinya?
            Ada setitik rasa yang tak kau ketahui, aku selalu berusaha mengungkapkannya melalui kalimat yang kutulis dalam pesan-pesan singkatku. Kau masih saja diam seribu bahasa. Katanya kau merindukan ingin kembali menikmati kota gudeg bersamaku, lantas apakah hanya sekedar perasaan rindu saja dengan kota gudeg ini, “Bagaimana denganku apakah kau juga merindukanku, mas inisial D??”
            Rasanya terkadang aku ingin mengatakannya dan jikalau jawaban itu tak membuahkan hasil seperti yang aku mau. Aku akan pergi dan segera berlalu untuk lekas pergi dari hidupmu. Aku akan mencari sekeping hatiku yang lain, jikalau memang sekeping hatiku tidak padamu.
            Ada hal yang tak pernah kau ketahui, sejak jabat tangan di depan sebuah rumah yang disebut kosan itu, mataku selalu saja diam-diam mengamatimu. Meski kala itu, ada mata yang lain yang turut mengawasiku. Entah aku pun tak mengerti, apa yang aku mau cari dari sosokmu mas inisial D, hingga aku terus saja mengamati tiap gerak gerikmu waktu itu. Biarlah rasa itu terkubur di hati dan hanya tulisan ini yang mampu kutuliskan.
            Terima kasih untuk secangkir kopi susu di bukit bintang. Terima kasih sudah menjagaku dengan baik saat di kosan dengan camilan brondongnya dan film horornya. Terima kasih secangkir wedang ronde bersama roti bakar rasa coklat keju serta terima kasih atas usahamu membuatku nyaman dari musisi jalanan dengan selalu memberinya koin berwarna perak maupun emas di alun-alun kidul. Terima kasih mau menganggapku hingga kau tak lupa untuk berpamitan denganku selepas wisuda. Terima kasih atas setiap sapa dan senyummu untukku.
Dan maaf saat aku memakimu menganggapmu tak pernah niat mengajakku bertemu. Maaf untuk kata-kata yang sedikit ceroboh ku lontarkan padamu mas inisial D. Maaf sempat mengajakmu untuk mendengarkan curhatanku tentang kawan lamamu. Aku tahu sebagai kawan kau pun merasa tak enak hati mendengarnya. Namun, kau selalu membuatku percaya akan ada orang lain yang lebih baik darinya. Hingga aku pun mampu terlepas dari bayangan kepedihan itu.

TUHAN ITU MAHA ADIL,
“Tuhan telah mendatangkan seseorang hadir dalam hidupku untuk meninggalkanku kembali. Namun, Tuhan tak pernah membiarkanku bersedih dan terpuruk terlalu lama dengan menghadirkan orang-orang yang mau peduli bahkan lebih peduli denganku untuk menghapus lara itu. Termasuk menghadirkan sosok mas inisial D yang turut menghapus rasa lara itu. “

Diary Princess-

0 comments:

Post a Comment