Sampai
saat ini pun aku tidak mampu menjelaskan ketika aku benar-benar menyukaimu
melebihi sebagai seorang teman. Hati selalu merasa bahagia saat kau selalu di
sisiku, menemaniku di penghujung waktu. Senyummu bahkan selalu menari-nari
indah dari dalam memoriku. Bahkan kau benar-benar sudah merenggut hatiku
sepenuhnya.
Mereka hanya tak paham dan tak
mengerti tentang perasaan. Yang mereka tahu hanyalah sebuah pilihan yang tak
seharusnya dipilih, sebuah pilihan yang seharusnya tak menjadi nominasi, dan
sebuah pilihan yang tak seharusnya ada.
“Kau,
sungguh gila menjadikannya sebagai kekasih. Lelaki yang lebih muda tiga tahun
darimu. Mengapa yang kau pilih dia? Tiadakah lelaki yang jauh lebih tua?”Rika
mulai menyatakan ketidaksukaan pilihan yang kupilih. Selalu saja begitu, tidak
bisakah sebagai sahabat dia mengerti akan perasaanku ini.
“Ini
pilihanku, jangan tanya mengapa. Karena tiada alasan bagiku untuk tak
mencintainya, begitu pun dia.”Inilah akhirnya jawaban yang bisa ku jawab untuk
seorang sahabat yang tak mengerti akan hati.
Sejenak ku merenung, mungkinkah ada
yang salah. Mengapa selalu saja mempertanyakan usia sebagai salah satu kendala
untukku mencintai seseorang. Aku mencintai dengan hatiku sendiri. Aku tak
mencuri hati orang lain untuk mencintainya. Apakah ini masih salah, apakah
hatiku yang bersalah sehingga hatiku layak dijadikan narapidana untuk dihukum
dengan berbagai celotehan-celotehan yang tak beralasan dengan baik. Namun,
setidaknya aku mengerti bagaimana aku mencintainya dengan hatiku sendiri.
(-Princess-)
0 comments:
Post a Comment