29 May 2014

(Flash Fiction) Jangan Tanya Mengapa?

Sampai saat ini pun aku tidak mampu menjelaskan ketika aku benar-benar menyukaimu melebihi sebagai seorang teman. Hati selalu merasa bahagia saat kau selalu di sisiku, menemaniku di penghujung waktu. Senyummu bahkan selalu menari-nari indah dari dalam memoriku. Bahkan kau benar-benar sudah merenggut hatiku sepenuhnya.
          Mereka hanya tak paham dan tak mengerti tentang perasaan. Yang mereka tahu hanyalah sebuah pilihan yang tak seharusnya dipilih, sebuah pilihan yang seharusnya tak menjadi nominasi, dan sebuah pilihan yang tak seharusnya ada.
“Kau, sungguh gila menjadikannya sebagai kekasih. Lelaki yang lebih muda tiga tahun darimu. Mengapa yang kau pilih dia? Tiadakah lelaki yang jauh lebih tua?”Rika mulai menyatakan ketidaksukaan pilihan yang kupilih. Selalu saja begitu, tidak bisakah sebagai sahabat dia mengerti akan perasaanku ini.
“Ini pilihanku, jangan tanya mengapa. Karena tiada alasan bagiku untuk tak mencintainya, begitu pun dia.”Inilah akhirnya jawaban yang bisa ku jawab untuk seorang sahabat yang tak mengerti akan hati.
          Sejenak ku merenung, mungkinkah ada yang salah. Mengapa selalu saja mempertanyakan usia sebagai salah satu kendala untukku mencintai seseorang. Aku mencintai dengan hatiku sendiri. Aku tak mencuri hati orang lain untuk mencintainya. Apakah ini masih salah, apakah hatiku yang bersalah sehingga hatiku layak dijadikan narapidana untuk dihukum dengan berbagai celotehan-celotehan yang tak beralasan dengan baik. Namun, setidaknya aku mengerti bagaimana aku mencintainya dengan hatiku sendiri.
(-Princess-)


          

0 comments:

Post a Comment