Kisah
ini bukan sandiwara cinta seperti lagu dari Republik. Kisah ini kisah dimana
aku mengingatmu sebagai orang yang terkasih. Seseorang yang mampu membuat sejarah
cinta dalam hidupku ini. Seseorang yang berhasil merenggut hatiku hampir sempurna.
Kau adalah wanita terkasih yang sempat kumiliki.
Aku
masih melesungkan pipiku setiap kali ku mengingat namamu. Nama yang tak pernah
hentinya singgah di dalam hati. Nama yang selalu menghias hati dengan memori yang
menyesakkan hati. Namun, kau masih saja nomor satu di dalam hati, meski luka
telah berulang kali menyayat perih. Aku tetap lelaki setengah terluka yang
mencoba tegak berdiri tanpamu.
Aku
yang begitu mencintamu, mencoba merangkai mimpi-mimpi indah yang sempurna. Mimpi-mimpi
yang sengaja kubuat hanya untukmu. Meski aku hanya lelaki sederhana, aku punya
hati yang tulus untukmu. Hati ini tak pernah terbagi, hati ini tetap untukmu. Tak
pernahkah kau menyadari itu, tak pernahkah kau mencoba merasakan setiap pengorbanan
yang kuberikan untukmu. Percayalah, rasa ini tulus tumbuh di dalam hati.
Kusadari
aku manusia yang masih jauh dari kata sempurna. Tak bisakah kau tetap berada di
sisi bersamaku, berjuang bersamaku, hidup bersamaku, dan bernafas bersamaku. Bukankah
dulu kau juga mengatakan bahwa kau juga mencintaiku, menyayangiku seperti aku
juga begitu padamu. Lalu, mana kau yang dulu, kau yang selalu menyatakan rindu
bila tak berjumpa denganku, kau yang sempat mengatakan takut kehilangan aku, begitu
pun juga aku terhadapmu. Dan kini kau hempaskan aku, jauh di dasar jurang
bersama puing-puing hati yang hancur bersama harapku.
Kau
yang ku tahu begitu mencintaku, begitu menyayangiku. Betapa bahagianya aku, ku
tahu kau merasakan hal itu. Namun, ketika kau memilih pergi, ketika kau memilih
mengusaikan kisah kita, ketika kau memilih untuk hancurkan mimpi-mimpi indah
itu, sungguh aku tak mengerti. Aku tak mampu menerima realita yang kurasa pahit
bagai empedu ini. Aku bahkan terseok-seok mengejarmu, menggapaimu agar kau
tetap disini, agar kau tak berpaling dengan yang lain.
Beginikah
caramu kepadaku, cara paling menyakitkan yang pernah ku dapat darimu. Atau mungkinkah
ini memang dirimu yang sesungguhnya. Ketika kau nyatakan dengan paksa“KITA
PUTUS”dan kau benar-benar berlalu meninggalkanku. Kau meninggalkan sejuta
pesona yang sempat hadir di depan mataku. Kini kau pun lenyap dari hidupku.
Kukira
kau akan tetap melawan badai yang menghantam bersamaku. Kau akan tetap menjadi
payung untukku berteduh, menjadi selimut saat aku kedinginan, dan menjadi penguat
saat ku terpuruk. Kau memilih pergi, saat restu tak kau dapat dari orangtuamu,
karena pemuda dengan profesi yang belum menjanjikan. Tak bisakah kau memperjuangkan
aku dengan pertahankanku. Kelak akan ku buktikan pada mereka bahwa aku pemuda
yang menjanjikan untukmu. Dan mereka akan bangga pada kita.
Ahh...sudahlah,
ini sudah berakhir antara kau dan aku sudah cukup. Kukira kau pun mencintaiku
sama besarnya terhadapku, tapi aku salah menilaimu, salah dalam memahamimu. Terima
kasih untuk setiap waktu yang sudah kau buang bersamaku. Maaf, untuk diriku
yang tak sempurna untukmu.
Nb: Request dari seorang teman :)

0 comments:
Post a Comment