Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Entah sudah
berapa banyak mili air yang keluar dari mata Zahra, sepanjang malam menangis
dan membungkam mulutnya dengan selimut agar isak tangis tak menyeruak lebih
luas ke segala penjuru ruangan, meski ia di dalam kamar sekalipun. Takut Ibu
mengetahui ia selalu meneteskan kesejukan airmata yang tak seharusnya mengalir
itu. Zahra tak menginginkan seseorang pun mengetahui apa yang terjadi
dengannya.
Zahra mencoba
bangkit dari posisi tidurnya yang miring menjadi menatap langit-langit
kamarnya. Sejenak ia pejamkan matanya mengenang segala memori yang sebenarnya
tak ingin ia putar kembali. Kembali tetesan-tetesan lembut itu mengalir di
pipinya yang sedikit ‘Chubby’. Ia mengepalkan
tangannya dan menggigit bibirnya lembut betapa batinnya terasa sesak sekali.
“Kita
akhiri saja hubungi ini dan jangan kau hubungi aku lagi.” Kata Laki-laki bernama Ikhsan.
“Tapi
kenapa kau akhiri hubungan ini? apa yang salah denganku?” Tanya Zahra suaranya
bergetar dari balik ujung telepon laki-laki itu sedang mengernyitkan dahi
memikirkan alasan yang tepat untuk dikatakan dengan Zahra.
“Sudahlah,
aku ingin sendiri Zahra. Aku ingin fokus dengan kerjaku.” Ikhsan kembali
mengernyitkan dahinya, ia tahu kerja bukanlah seperti anak yang sedang sekolah.
Alasan yang tidak masuk akal memang.
Zahra menangis
sejadinya, ia tak mengetahui mengapa begitu mudahnya Ikhsan mengakhiri
hubungannya yang lagi seumur jagung ini. Dan berharap romansa mereka akan
berbuah manis untuk kehidupan yang lebih indah di pelaminan. Zahra sedih
mendengar ucapan Ihksan namun ia harus mendapat alasan yang masuk akal walaupun
ia harus menanggung luka.
“Mungkinkah
kau?” Zahra menggantungkan kalimatnya, Ikhsan semakin gelisah dengan kalimat
apa yang akan ditanyakan Zahra padanya.
“Mungkin
apa, Zahra?”
“Kau
kembali dengan mantan kekasihmu, Alena?” Zahra setengah membungkam telinganya
berharap jawaban yang akan ia dengar tak seperti dugaannya.
“Aku
akan menikah dengan Alena, maafkan aku, maafkan atas segalanya.”
Zahra
semakin terluka, tapi ia mencoba menguatkan hatinya untuk tetap mendengar
segala penjelasan dari Ikhsan. Harus dan itu harus ia lakukan untuk mendapatkan
jawaban paling menyakitkan hatinya. Mengapa tapi mengapa bahkan Ikhsan sudah
seperti janji akan serius dengan Zahra tapi kenapa ia kembali dengan mantan
kekasihnya dulu. Zahra kehilangan keseimbangan, ia duduk dan tetap memegang
kuat handphone-nya kuat-kuat.
“Dulu kami
sudah menjalin hubungan lima tahun dan kami sudah melakukan perbuatan itu dulu.
Perbuatan yang tak seharusnya aku lakukan dengan Alena sebelum aku menikah. Sungguh
sejujurnya aku menyesal, namun aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku
perbuat. Maafkan aku.”
“Tak
kusangka kau sejahat ini padaku, kau bilang Alena tak ingin lagi bersamamu?”
Zahra menutup telponnya tak kuat untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya. Dia gemetar mendengar penjelasan dari Ikhsan. Bahkan ia
berharap ia sedang salah dengar. Tidak ini kenyataannya, Ikhsan sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan Zahra dan memilih Alena mantan kekasihnya itu.
Sisa cinta
Zahra untuk Ikhsan kini berbuah kebencian yang amat mencekam hatinya. Zahra
bangkit menghapus segala airmatanya yang keluar. Sejenak ia melihat jari manis
tangan kirinya. Cincin yang melingkar pemberian dari Ikhsan itu rasanya enggan
untuk dilepas. Zahra segera melepaskan lingkar cincin yang tercengkram kuat
pada jari manisnya itu dengan paksa.
Segera mungkin ia masukan dalam laci. Sepertinya cinta Zahra sudah ia benamkan dalam cincin kenangan itu. Zahra pun kembali menghempaskan dirinya dalam ranjang tidurnya, kali ini ia terlihat lega sekali.
Dan ia pun tertidur dengan lelap dan bermimpi indah, terlihat simpul senyum tersungging dari bibir Zahra malam ini.
Diadaptasi dari kisah pengalaman pribadi sang penulis.
"Melupakan adalah jalan terbaik untuk kisah menyakitkan yang tak ingin dikenang kembali."
Diadaptasi dari kisah pengalaman pribadi sang penulis.
"Melupakan adalah jalan terbaik untuk kisah menyakitkan yang tak ingin dikenang kembali."

cerita ini asli? :O
ReplyDeleteYap.....asli bener2 asli, hanya dibuat fiktif tokohnya :)
ReplyDeletemenarik sekali,,
ReplyDeleteSewa Stamper