12 October 2014

Maafkan Cintaku Ini, Zahra

Oleh:
Lilih Putri Pratiwi

Entah sudah berapa banyak mili air yang keluar dari mata Zahra, sepanjang malam menangis dan membungkam mulutnya dengan selimut agar isak tangis tak menyeruak lebih luas ke segala penjuru ruangan, meski ia di dalam kamar sekalipun. Takut Ibu mengetahui ia selalu meneteskan kesejukan airmata yang tak seharusnya mengalir itu. Zahra tak menginginkan seseorang pun mengetahui apa yang terjadi dengannya.

Zahra mencoba bangkit dari posisi tidurnya yang miring menjadi menatap langit-langit kamarnya. Sejenak ia pejamkan matanya mengenang segala memori yang sebenarnya tak ingin ia putar kembali. Kembali tetesan-tetesan lembut itu mengalir di pipinya yang sedikit ‘Chubby’. Ia mengepalkan tangannya dan menggigit bibirnya lembut betapa batinnya terasa sesak sekali.

“Kita akhiri saja hubungi ini dan jangan kau hubungi aku lagi.”  Kata Laki-laki bernama Ikhsan.

“Tapi kenapa kau akhiri hubungan ini? apa yang salah denganku?” Tanya Zahra suaranya bergetar dari balik ujung telepon laki-laki itu sedang mengernyitkan dahi memikirkan alasan yang tepat untuk dikatakan dengan Zahra.

“Sudahlah, aku ingin sendiri Zahra. Aku ingin fokus dengan kerjaku.” Ikhsan kembali mengernyitkan dahinya, ia tahu kerja bukanlah seperti anak yang sedang sekolah. Alasan yang tidak masuk akal memang.

Zahra menangis sejadinya, ia tak mengetahui mengapa begitu mudahnya Ikhsan mengakhiri hubungannya yang lagi seumur jagung ini. Dan berharap romansa mereka akan berbuah manis untuk kehidupan yang lebih indah di pelaminan. Zahra sedih mendengar ucapan Ihksan namun ia harus mendapat alasan yang masuk akal walaupun ia harus menanggung luka.

“Mungkinkah kau?” Zahra menggantungkan kalimatnya, Ikhsan semakin gelisah dengan kalimat apa yang akan ditanyakan Zahra padanya.

“Mungkin apa, Zahra?”

“Kau kembali dengan mantan kekasihmu, Alena?” Zahra setengah membungkam telinganya berharap jawaban yang akan ia dengar tak seperti dugaannya.

“Aku akan menikah dengan Alena, maafkan aku, maafkan atas segalanya.”

Zahra semakin terluka, tapi ia mencoba menguatkan hatinya untuk tetap mendengar segala penjelasan dari Ikhsan. Harus dan itu harus ia lakukan untuk mendapatkan jawaban paling menyakitkan hatinya. Mengapa tapi mengapa bahkan Ikhsan sudah seperti janji akan serius dengan Zahra tapi kenapa ia kembali dengan mantan kekasihnya dulu. Zahra kehilangan keseimbangan, ia duduk dan tetap memegang kuat handphone-nya kuat-kuat.

“Dulu kami sudah menjalin hubungan lima tahun dan kami sudah melakukan perbuatan itu dulu. Perbuatan yang tak seharusnya aku lakukan dengan Alena sebelum aku menikah. Sungguh sejujurnya aku menyesal, namun aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Maafkan aku.”

“Tak kusangka kau sejahat ini padaku, kau bilang Alena tak ingin lagi bersamamu?” Zahra menutup telponnya tak kuat untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya. Dia gemetar mendengar penjelasan dari Ikhsan. Bahkan ia berharap ia sedang salah dengar. Tidak ini kenyataannya, Ikhsan sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan Zahra dan memilih Alena mantan kekasihnya itu.


Sisa cinta Zahra untuk Ikhsan kini berbuah kebencian yang amat mencekam hatinya. Zahra bangkit menghapus segala airmatanya yang keluar. Sejenak ia melihat jari manis tangan kirinya. Cincin yang melingkar pemberian dari Ikhsan itu rasanya enggan untuk dilepas. Zahra segera melepaskan lingkar cincin yang tercengkram kuat pada jari manisnya itu dengan paksa. 


Segera mungkin ia masukan dalam laci. Sepertinya cinta Zahra sudah ia benamkan dalam cincin kenangan itu. Zahra pun kembali menghempaskan dirinya dalam ranjang tidurnya, kali ini ia terlihat lega sekali. 

Dan ia pun tertidur dengan lelap dan bermimpi indah, terlihat simpul senyum tersungging dari bibir Zahra malam ini. 


Diadaptasi dari kisah pengalaman pribadi sang penulis.
"Melupakan adalah jalan terbaik untuk kisah menyakitkan yang tak ingin dikenang kembali."

3 comments: