Malam
ini, gue mau nulis surat dalam postingan gue kali ini. Surat yang berisi permohonan
maaf buat seorang teman dan sahabat sewaktu gue SMA. Sahabat yang selalu menghiasi
hari-hari saat sekolah waktu SMA dulu. Kini pada akhirnya, sangat-sangat membenci gue. Bahkan puluhan
gunjingan tentang gue, sudah bersarang di fesbuknya. Ini bukan masalah
percintaan, ini murni masalah pertemanan. Mungkin ini akibat sikap yang harus
gue rasakan resikonya. Dan inilah keputusan gue.
Dear,
temanku...
Gue tau, gue bukan sahabat yang baik buat
lo. Bukan sahabat yang selalu ada buat lo. Bukan pula sahabat yang sempurna
buat lo. Gue hanyalah manusia biasa yang juga memiliki perasaan. Tapi percayalah,
gue selalu mendoakan kesuksesan buat lo walaupun lo benci banget sama gue saat
ini.
Lo ngerasa gue berubah semenjak kita
lulus. Gue yang selalu beralasan diajak maen sama lo, gue yang selalu bilang
sibuk mengerjakan tugas, gue yang selalu bilang dengan berjuta alasan biar gue
nggak ketemu sama lo. Ya, gue akuin gue jahat sama lo waktu itu.
Selama
ini gue selalu bertahan dan mencoba menjadi teman yang baik buat lo. Gue selalu
berusaha tersenyum saat gue tau, gunjingan-gunjingan itu lo lontarkan di
belakang gue bersama kawan-kawan lo. Gue jadi bahan cacian makian dan tertawaan
saat lo tengah asik bergunjing tentang ketidaksempurnaan diri gue yang jauh
dari sempurna ini.
Teman, maafkan untuk sahabatmu ini
sahabat yang telah memilih menguraikan rajutan benang persahabatan yang telah
dirajut selama 3 tahun. Gue hanya merasa terkekang saat berada di sekitar lo. Gue
hampir nggak bisa bernafas untuk merasakan kehidupan gue sendiri. Lo selalu
datang untuk kepentinganmu sendiri. Tanpa sadar gue pun tersakiti dan lo merasa
terkhianati dengan sikap gue.
Maaf, bila rasa kecewa lo terhadap gue
masih tersimpan dalam hati lo. Gue nggak pernah membenci lo, hanya gue kecewa
sama sikap lo di belakang gue. Gue udah terlalu sabar dengan tingkah yang
selalu buat gue bergumam dalam hati. Semua sikap lo yang selalu buat gue pengen
berkata “gue, muak banget sama lo..!!!”
Maaf,
jika gue keterlaluan di mata lo. Tapi sungguh, gue nggak sanggup menahan rasa
batin yang sesungguhnya tersiksa selama ini. Kesabaran itu ada batasnya teman. Bersikaplah
dewasa, semoga suatu hari kedewasaan akan menuntunmu untuk menghargai sesuatu
yang ada di sekitar lo. Maaf, buat semuanya. Terima kasih. J
0 comments:
Post a Comment