3 August 2014

Penyesalan Hanya Ada di Belakang



Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




“Apa kau masih membenciku?” seorang pemuda bertanya dengan wajah lesu, dia berharap seorang wanita di depannya tak membencinya lagi.
“Sungguh sedetik pun sesungguhnya aku tak ingin melihat wajahmu.” Kata seorang wanita bernama Arini dengan sedikit lenguhan kecil.
            Kebencian Arini pada lelaki di masalalunya membuat amarah yang tak pernah mati. Anggara adalah lelaki masalalu Arini yang telah menyakiti hati Arini melebihi apapun juga. Kepedihan itu sangat pedih bahkan tak seorang pun mampu membayangkan kepedihan yang dialami Arini kala itu.
            Anggara merasa frustasi kini. Tak sepatah kata pun dianggap oleh Arini. Terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan kepada Arini. Dia tega menyakiti ketulusan hati seorang wanita seperti Arini. Dia mengkhianati cinta Arini dengan memeluk wanita lain di depan Arini. Bahkan sejak saat itu pula, Arini sudah berjanji dalam hati tak sudi untuk melihatnya lagi. Namun, tiga tahun berlalu justru Anggara datang untuk memohon maaf dan ingin memperbaiki hubungan bersama Arini.
“Bahkan aku rela berlutut di hadapmu agar kau mau memaafkanku, Arini.” Anggara sedikit pasrah karena sudah beberapa kali meminta maaf, Arini tak kunjung memaafkannya.
“Setelah kau khianati cintaku, bermain dengan wanita lain dan mencampakkan aku begitu saja. Dan sekarang kau mendapatkan balasan dari Tuhan, baru kau sadari itu karena ulahmu di masalalu.” Kata Arini mulai menggertak, bahkan dia sudah menahan emosi sejak dia melihat Anggara berada di ambang pintu rumahnya.
“Kumohon maafkan segala kesalahanku, aku sadar Arini, sikapku dulu memang sangat tak pantas. Aku ingin kembali dan mendapatkan maafmu.”
“Baiklah, jika kau ingin mendapat maafku. Tapi ada syaratnya.” Kata Arini yang sudah melunakkan hatinya yang keras, dia merasa semakin tak enak hati, dia tak ingin menghukum seseorang dengan tak mendapat kata maafnya untuk orang yang memohon maaf kepadanya.
“Katakanlah Arini, apa syaratnya?” Anggara mulai penasaran dengan usul Arini.
“Aku sudah memaafkanmu, namun syaratnya janganlah kau temui aku lagi dan jangan kau ganggu dan hadir dalam hidupku lagi.” Kata Arini sambil dia menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Anggara sendiri di luar dengan wajah kuyu dan penyesalan
***.
           

Hikmah dari cerita pendek diatas adalah penyesalan itu memang datangnya di belakang. Kita akan merasa kehilangan seseorang yang berharga jika kita benar-benar sudah kehilangan karena telah meninggalkan sesuatu yang berharga. Jadi, jangan sia-siakan seseorang yang telah memberikan ketulusan hatinya kepadamu yaa. hehehe.

0 comments:

Post a Comment