Oleh:
“Apa
kau masih membenciku?” seorang pemuda bertanya dengan wajah lesu, dia berharap
seorang wanita di depannya tak membencinya lagi.
“Sungguh
sedetik pun sesungguhnya aku tak ingin melihat wajahmu.” Kata seorang wanita
bernama Arini dengan sedikit lenguhan kecil.
Kebencian Arini pada lelaki di
masalalunya membuat amarah yang tak pernah mati. Anggara adalah lelaki masalalu
Arini yang telah menyakiti hati Arini melebihi apapun juga. Kepedihan itu
sangat pedih bahkan tak seorang pun mampu membayangkan kepedihan yang dialami
Arini kala itu.
Anggara merasa frustasi kini. Tak sepatah
kata pun dianggap oleh Arini. Terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan
kepada Arini. Dia tega menyakiti ketulusan hati seorang wanita seperti Arini. Dia
mengkhianati cinta Arini dengan memeluk wanita lain di depan Arini. Bahkan sejak
saat itu pula, Arini sudah berjanji dalam hati tak sudi untuk melihatnya lagi. Namun,
tiga tahun berlalu justru Anggara datang untuk memohon maaf dan ingin
memperbaiki hubungan bersama Arini.
“Bahkan
aku rela berlutut di hadapmu agar kau mau memaafkanku, Arini.” Anggara sedikit
pasrah karena sudah beberapa kali meminta maaf, Arini tak kunjung memaafkannya.
“Setelah
kau khianati cintaku, bermain dengan wanita lain dan mencampakkan aku begitu
saja. Dan sekarang kau mendapatkan balasan dari Tuhan, baru kau sadari itu
karena ulahmu di masalalu.” Kata Arini mulai menggertak, bahkan dia sudah
menahan emosi sejak dia melihat Anggara berada di ambang pintu rumahnya.
“Kumohon
maafkan segala kesalahanku, aku sadar Arini, sikapku dulu memang sangat tak
pantas. Aku ingin kembali dan mendapatkan maafmu.”
“Baiklah,
jika kau ingin mendapat maafku. Tapi ada syaratnya.” Kata Arini yang sudah
melunakkan hatinya yang keras, dia merasa semakin tak enak hati, dia tak ingin
menghukum seseorang dengan tak mendapat kata maafnya untuk orang yang memohon
maaf kepadanya.
“Katakanlah
Arini, apa syaratnya?” Anggara mulai penasaran dengan usul Arini.
“Aku
sudah memaafkanmu, namun syaratnya janganlah kau temui aku lagi dan jangan kau
ganggu dan hadir dalam hidupku lagi.” Kata Arini sambil dia menutup pintu
rumahnya dan meninggalkan Anggara sendiri di luar dengan wajah kuyu dan
penyesalan
***.
Hikmah dari
cerita pendek diatas adalah penyesalan itu memang datangnya di belakang. Kita akan
merasa kehilangan seseorang yang berharga jika kita benar-benar sudah
kehilangan karena telah meninggalkan sesuatu yang berharga. Jadi, jangan
sia-siakan seseorang yang telah memberikan ketulusan hatinya kepadamu yaa. hehehe.

0 comments:
Post a Comment