Oleh:
Lilih Putri Pratiwi
Setelah
seharian kemarin guling-guling nangis karena patah hati, akhirnya aku bisa
kembali mengembangkan senyuman walau hanya beberapa derajat saja membentuk
lengkungan tipis di bibirku. Aku kembalikan semua rasa ini menjadi rasa hambar
yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kemarin aku hanya bermimpi indah saja,
bermimpi bertemu dengan sosok pujaan hati yang kupikir dialah sang pangeran
berkuda putih itu.
Aku telah
merelakanmu kini, jika itu yang kamu mau dan harapkan. Aku akan pergi jauh-jauh
dari hidupmu hingga rasa ini memudar dengan sendirinya seiring dengan
perjalanan waktu nanti.
“Aku
ingin kau membenciku, agar kau lupakan aku segera.” Kata laki-laki di ujung
telpon yang berada di tanah Sumatra itu.
“Aku
tak pernah membencimu jika ini jalan yang kau pilih. Jalan yang sebenarnya tak
ku mengerti ini.” kataku sambil menahan isakan tangis, aku mencoba menjadi
wanita kuat. Aku tak ingin siapapun melihatku menjadi wanita cengeng hanya
karena masalah cinta.
“Aku
ingin kau bahagia, Put, Aku tau kau pun sayang denganku begitu juga denganku,
Aku hanya tak ingin kau terluka dan
kecewa untuk ke sekian kali.” Katanya dengan nada sendu yang rasanya ingin
sekali aku berteriak “Jangan tinggalkan aku!”
Bibir ini
terlalu kelu untuk mengatakan semua itu, yang ada aku hanya terus mendengarkan
kata demi kata yang aku sendiri rasanya tak ingin mendengarnya. Sebenarnya siapa
yang salah, dan aku pun tak tahu siapa yang salah. Apa karena aku mencintai
teman mantanku, sehingga banyak orang yang mencibir dan beradu argumen dan
mengatakan tentangku yang tidak masuk akal itu. Sungguh, bodoh bila mereka
berpikir seperti itu.
“Hubungan
kita memang baru seumur jagung, tapi aku merasakan terlalu dalam. Dengan
impian-impian kita yang harus tak menjadi kenyataan. Biarlah impian-impian kita
kau temukan pada orang lain.”
“Terlalu
mudah, sungguh terlalu mudah kau sudahkan semua ini.” kataku dengan kesal
“Sudah,
ya,,,semua sudah jelas dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Maaf sudah
menyakiti semuanya. Aku akan berusaha kuat meski aku sebenarnya tersakiti. Akan
ada yang jauh lebih baik dari aku nanti.”
“Kau
sangat pengecut!”kataku dengan nada sinis.
“Iya,
aku memang pengecut, biarlah rasa bencimu itu ada dalam hatimu sekarang.”
katanya dengan nada putus asa.
Aku melenguh
pelan mencoba mengerti dan memahami maksudnya. Telpon pun sudah terputus
seperti hubunganku dengannya yang juga harus terputus paksa karena keadaan. Cinta
datang memang tanpa paksaan, namun ketika cinta harus dipaksa pergi dan dipaksa
menjadi benci rasanya sungguh sakit melebihi apapun.
To Widi,
“Aku
tak pernah membencimu, aku turuti keinginanmu untuk pergi darimu. Ini semata
bukan aku tak lagi sayang, aku hanya melakukan demi kebaikanmu meski aku
sungguh-sungguh terlalu sakit menerimanya.”
“Aku tersiksa dengan kenyataan ini. Namun, Aku akan bahagia demi
kamu.”

0 comments:
Post a Comment