29 August 2014

Laki-laki Di Ujung Telepon


Oleh:
Lilih Putri Pratiwi




Setelah seharian kemarin guling-guling nangis karena patah hati, akhirnya aku bisa kembali mengembangkan senyuman walau hanya beberapa derajat saja membentuk lengkungan tipis di bibirku. Aku kembalikan semua rasa ini menjadi rasa hambar yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kemarin aku hanya bermimpi indah saja, bermimpi bertemu dengan sosok pujaan hati yang kupikir dialah sang pangeran berkuda putih itu.

Aku telah merelakanmu kini, jika itu yang kamu mau dan harapkan. Aku akan pergi jauh-jauh dari hidupmu hingga rasa ini memudar dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu nanti.
“Aku ingin kau membenciku, agar kau lupakan aku segera.” Kata laki-laki di ujung telpon yang berada di tanah Sumatra itu.

“Aku tak pernah membencimu jika ini jalan yang kau pilih. Jalan yang sebenarnya tak ku mengerti ini.” kataku sambil menahan isakan tangis, aku mencoba menjadi wanita kuat. Aku tak ingin siapapun melihatku menjadi wanita cengeng hanya karena masalah cinta.

“Aku ingin kau bahagia, Put, Aku tau kau pun sayang denganku begitu juga denganku, Aku hanya tak ingin kau terluka  dan kecewa untuk ke sekian kali.” Katanya dengan nada sendu yang rasanya ingin sekali aku berteriak “Jangan tinggalkan aku!”

Bibir ini terlalu kelu untuk mengatakan semua itu, yang ada aku hanya terus mendengarkan kata demi kata yang aku sendiri rasanya tak ingin mendengarnya. Sebenarnya siapa yang salah, dan aku pun tak tahu siapa yang salah. Apa karena aku mencintai teman mantanku, sehingga banyak orang yang mencibir dan beradu argumen dan mengatakan tentangku yang tidak masuk akal itu. Sungguh, bodoh bila mereka berpikir seperti itu.

“Hubungan kita memang baru seumur jagung, tapi aku merasakan terlalu dalam. Dengan impian-impian kita yang harus tak menjadi kenyataan. Biarlah impian-impian kita kau temukan pada orang lain.”

“Terlalu mudah, sungguh terlalu mudah kau sudahkan semua ini.” kataku dengan kesal
“Sudah, ya,,,semua sudah jelas dan aku tidak akan mengganggumu lagi. Maaf sudah menyakiti semuanya. Aku akan berusaha kuat meski aku sebenarnya tersakiti. Akan ada yang jauh lebih baik dari aku nanti.”

“Kau sangat pengecut!”kataku dengan nada sinis.
“Iya, aku memang pengecut, biarlah rasa bencimu itu ada dalam hatimu sekarang.” katanya dengan nada putus asa.

Aku melenguh pelan mencoba mengerti dan memahami maksudnya. Telpon pun sudah terputus seperti hubunganku dengannya yang juga harus terputus paksa karena keadaan. Cinta datang memang tanpa paksaan, namun ketika cinta harus dipaksa pergi dan dipaksa menjadi benci rasanya sungguh sakit melebihi apapun.

To Widi,
 “Aku tak pernah membencimu, aku turuti keinginanmu untuk pergi darimu. Ini semata bukan aku tak lagi sayang, aku hanya melakukan demi kebaikanmu meski aku sungguh-sungguh terlalu sakit menerimanya.”

“Aku tersiksa dengan kenyataan ini. Namun, Aku akan bahagia demi kamu.”




0 comments:

Post a Comment