Oleh:
Lilih
Putri Pratiwi
Aku menatap
dua buah cangkir yang sudah tersedia di hadapanku. Satu milikku dan satunya
lagi milik seorang pemuda bernama Erwin. Kali ini aku seperti sedang
bereksperimen pada diriku sendiri. Kali pertamanya aku memberanikan untuk
memesan segelas kopi susu.
Aku adalah
seorang wanita yang tidak begitu suka dengan minuman kopi, walaupun kopi itu
mau dicampur gula, coklat bahkan susu sekalipun. Bagiku kopi ya kopi, minuman
aneh dengan rasa pahit kemanisan. Entah kenapa aku memang tidak menyukai rasa
pahit dari kopi itu sendiri.
“Sudah
lama sekali kita sudah tidak pernah berjumpa. Kau masih terlihat sama
cantiknya.” Kata Erwin sedikit menggombal, aku hanya membuat simpul enjepan
dari bibirku. Erwin hanya terkekeh geli.
“Kau
juga masih sama, masih tukang gombal." kataku tak ingin kalah.
Aku mengakui
sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Erwin. Erwin adalah sepupu dari
temanku yang sedang dekat denganku. Entah kenapa akhir-akhir ini sedang mengisi
hari-hariku semenjak kita sudah lama sekali tak bertemu bahkan tak saling
berkomunikasi selama lima tahun semenjak kami lulus SMA.
***
Erwin mulai
menyeruput kopi susunya dengan lahap sedangkan aku masih saja memandangi gelas
yang sedari tadi belum sama sekali aku sentuh. Aku tahu kopi susuku saat ini
sudah mulai mendingin. Karena sudah sekitar setengah jam terseduh di atas meja.
Aku mulai memegang gelasku dan hanya aku putar-putar tak jelas. Sedangkan sepasang
mata tanpa kusadari sedari tadi mengawasiku dengan senyuman manisnya. Aku tak
berani menatapnya balik.
“Kalo
kau tak suka kopi susu kenapa nggak pesan yang lain, masih banyak minuman yang
lebih manis lainnya?” Tanya Erwin menyeringai, aku hanya tersenyum. Kali ini
aku ingin menikmati segelas kopi susu ini bersama seorang yang special malam
ini. berharap rasa kopi susu ini tak sepahit yang pernah aku cicipi dulu.
“Ohh,
siapa juga yang nggak suka kopi susu. Aku suka kok.” Kataku sambil memulai
mengangkat gelas berisi kopi susu. Aku meneguk kopi susu dengan pelan-pelan,
tiba-tiba mataku dengan mata Erwin saling bertatap. Manis.
Entah kenapa
rasa kopi susu malam ini berubah menjadi begitu manis tanpa ada rasa pahit
sedikitpun. Mungkinkah sang pembuat telah mencampurkan beberapa sendok gula ke
dalam gelas kopi susuku. Atau hanya ini sugesti saja dariku karena aku bersama
seseorang yang mampu menaklukkan hatiku. Bahkan dia mampu menaklukkan kopi susu
yang pahit menjadi begitu manis di lidahku. Dan ini kali pertamanya, aku
menganggap rasa kopi susu ini manis tanpa rasa pahit.
SELESAI
.jpg)
0 comments:
Post a Comment