“Ketika sebuah kurikulum baru, hampir
merenggut masa depan mahasiswa tingkat akhir buat lulus tepat waktu. Akankah
kegalauan mahasiswa tingkat akhir hanya menjadi kontroversi tanpa diberikan
solusi yang berarti???”
Gue ngerasain banget gimana rasanya
kegalauan di tengah skripsi. Gue pengen banget nyubit pipi gue lama. Pengen ini
semua Cuma mimpi bukan realita kehidupan yang mesti gue hadapin. Kata pepatah
yang dulu gue sempet denger yang pada intinya kalo idup gak penuh tantangan
atau hambatan, itu namanya bukan hidup. Kenapa bisa begitu??? Yaiyalah namanya
aja orang hidup, pasti banyak masalah, mau dia kaya sekalipun.
Gue ngalamin fase kegalauan tingkat
akut kedua, sebelumnya di semester tiga setelah praktek industri, gue terancam
mengulang praktek industri di tahun depan. Yang diakibatkan karena kegoblokan
gue sendiri, yang kurang paham dengan apa yang gue lakuin selama praktek
industri. Dan di semester delapan kali ini, gue bener-bener ngalamin hal kayak
itu lagi. Gue terancam terhambat dalam arti kata kelulusan yang lancar tanpa
masalah.
Masalah ini karena skripsi gue, yang
mendadak adanya kurikulum 2013 yang bener-bener skak match banget buat gue. Gue
pengen banget curhat sama ALLAH, segera jauhkan aku dari masalah yang
seharusnya nggak ada ini. Tapi gue yakin banget, kehidupan yang gue lakuin ini
sudah kehendak dari yang maha kuasa. Sisi positif biar gue lebih paham aja sama
kurikulum. Biar besoknya gue nggak sepelekan hal-hal kayak gini lagi.
Gue nggak tahu sebelum gue bisa
konsultasi sama bu dosen, gue hanya bisa curhat sama laptop gue ini. Ini
unek-unek gue pertama sepanjang semester 8 ini dimulai. Gue harus pastikan,
semua akan baik-baik saja, ini hanya masalah yang harus gue lewatin, gue yakin
setelah ini gue akan terbebas dan Allah akan memudahkan jalanku setelah ini.
Pasti ini hanya ujian dari Allah. Gue harus yakin, kalo di semester tiga saja
bisa dilalui dengan senyuman pada akhirnya, gue yakin semester ini pun akan
berakhir dengan senyuman indah.
0 comments:
Post a Comment